Lapangan Sepakbola Rumput Alami vs Sintetis

Abimanyu Bimantoro
Karya Abimanyu Bimantoro Kategori Bola
dipublikasikan 27 Juni 2016
Lapangan Sepakbola Rumput Alami vs Sintetis

Lapangan sepakbola dengan menggunakan rumput sintetis mulai banyak digunakan saat ini. Perawatan yang lebih murah dan mudah menjadi alasan rumput sintetis dipilih dalam pembuatan lapangan. Selain itu, berbeda dengan rumput alami, rumput sintetis tidak akan terpengaruh oleh cuaca apapun dan akan tetap mempertahankan bentuknya.

Namun kemudian, merebaknya lapangan dengan menggunakan rumput sintetis menyebabkan pro kontra akibat sisi negatif yang ternyata hadir. Terdapat beberapa sisi negatif pada rumput sintetis dan hal tersebut dijadikan alasan untuk tetap menggunakan rumput alami. Beberapa orang berpendapat, sisi negatif yang terdapat pada rumput sintetis ini dianggap sangat mempengaruhi permainan dan mengganggu para pemain.

Faktor pertama yang dianggap menjadi sisi negatif rumput sintetis adalah pantulan. Rumput sintetis memberikan pantulan bola yang berbeda dengan rumput alami. Hasil penelitian menunjukan bahwa rumput sintetis memiliki koefisien restitusi hingga 20% lebih tinggi ketimbang rumput alami.

Koefisien of restitusi: perbandingan antara kecepatan sebuah benda setelah mengalami benturan, dengan sebelum mengalami benturan

Tingginya koefisien restitusi pada rumput sintetis berarti menyebabkan kecepatan bola setelah memantul di rumput sintetis akan lebih cepat ketimbang kecepatan bola setelah memantul di rumput alami. Dan hal ini berarti, bola yang bergulir saat permainan akan bergulir lebih kencang saat dimainkan pada rumput sintetis. Tentu saja akan lebih sulit mengontrol bola yang bergulir lebih cepat.

Tidak hanya sulit dalam mengontrol bola, akurasi tendangan pemain pun bisa terpengaruh dengan perbedaan koefisien restitusi ini. Saat sang pemain melepaskan operan atau tendangan ke gawang yang memantul di tanah, minimnya gaya gesek lapangan bisa membuat laju bola dapat melenceng lebih jauh dari sasaran.

Faktor negatif kedua yang ditimbulkan oleh rumput sintetis adalah panas. Ketika digunakan pada cuaca panas, rumput sintetis akan membuat suhu lapangan menjadi lebih tinggi dari suhu udara sekitar. Menurut hasil penelitian, saat cuacat panas, suhu di sekitar lapangan rumput sintetis bisa meningkat hingga 12 derajat celcius dari suhu sekitarnya. Maka bisa anda bayangkan, jika kita bermain sepakbola pada siang hari di Jakarta yang bisa mencapai 30 derajat celcius, kita bisa merasakan bermain pada suhu 42 derajat celcius karena peningkatan suhu rumput sintetis.

Dampak dari hal ini tentu saja masalah dehidrasi. Pemain akan lebih cepat kehilangan cairan tubuhnya akibat temperatur yang tinggi. Lebih jauh lagi, berbagai macam cedera ancaman lain juga mengintai saat  pemain bertanding dalam kondisi dehidrasi.

Selain masalah dehidrasi, permasalahan lain yang ditimbulkan oleh suhu panas adalah waktu reaksi. Menurut hasil penelitian, waktu reaksi pemain saat bermain di suhu panas akan dapat berkurang hingga 30%.

Dan satu faktor negatif lain yang paling banyak menjadi bahan perbincangan rumput sintetis adalah ancaman cedera. Beberapa cedera disinyalir lebih mudah terjadi saat bermain di rumput sintetis ketimbang rumput alami.

Cedera yang paling sering terjadi di rumput sintetis adalah luka luar pada kulit. Gesekan yang terjadi antara kulit dan rumput sintetis membuat kulit lebih mudah terluka ketimbang saat bergesekan dengan rumput alami. Menurut hasil penelitian, luka luar pada kulit saat bermain di rumput sintetis 3 kali lebih banyak ketimbang saat bermain di rumput alami.

Selain itu, dalam penelitian lain juga ditunjukan bahwa ancaman cedera ACL juga meningkat saat bermain di rumput sintetis hingga 45%. Meski juga terdapat penelitian yang justru menunjukan bahwa bermain di rumput sintetis justru menurunkan kemungkinan cedera secara umum bagi pemain sepakbola. Hanya beberapa cedera khusus seperti ACL saja yang meningkat sedangkan jenis cedera lain justru menurun.

Penelitian soal baik buruknya penggunaan rumput sintetis memang masih terus berkembang. Beberapa negara maju kerap menggunakan rumput sintetis untuk lapangan-lapangan yang diperuntukan untuk aktivitas masyarakatnya. Sementara mereka tetap menggunakan rumput alami untuk lapangan yang digunakan oleh atlet profesional mereka. Faktor biaya perwatan yang lebih murah menjadi alasan negara bergembang menggunakan rumput sintetis untuk lapangan masyarakat. Dengan begitu negara bisa menyediakan banyak fasilitas lapangan dengan kualitas yang baik bagi masyarakat tanpa harus mengeluarkan biaya banyak. Sementara itu, para atlet tetap bisa berlatih di lapangan yang sama dengan lapangan saat mereka bertanding nanti.

Sumber: ESPN sports science

Dilihat 846