Kejahatan Stories, Kejahatan Jaman Now

Akmal Faradise
Karya Akmal Faradise Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 12 Desember 2017
Kejahatan Stories, Kejahatan Jaman Now

Saya punya teman yang beberapa waktu lalu membeli hape bagus, murah, dan cukup powerpul buatan Cina, iya merk Siomay. Waktu itu dia kebetulan baru gajian dari perpustakaan, tepatnya terlibat kontrak pengolahan perpustakaan. Dengan memiliki hp bagus, perilaku jahil teman saya ini terus bertumbuh.

Teman saya, sebut saja FIH (bacanya pih), senang membuat stories (status dalam bentuk foto, teks atau video, yang disediakan Instagram, fesbuk, dan wassap) kegiatan kesehariannya. Sesekali mungkin kegiatan bersama teman kongkow, atau bribikan. Tentunya kegiatan si FIH membuat stories  tidak masalah bila lingkupnya mengenai kegiatan pribadi, itu hak masing-masing. Akan beda tentunya bila melibatkan orang lain.

Sebenarnya saya dongkol bercerita ini karena dalam beberapa kesempatan saya seringkali menjadi korban kejahilan FIH. Ada momen dia mengambil foto saat gestur tubuh saya tidak pas, akhirnya saya keliatan jelek (lebih jelek dari aslinya), kemudian dia upload sebagai stories. Kadang juga, rekaman pesan kita yang cukup ‘aneh’ dia capture lalu diupload sebagai stories. Kan kamvret ya?

Saya menyadari beberapa hal atas kejadian ini. Pertama, kejahatan karena stories itu lebih kejam dari pembunuhan. Kedua, hape bagus berbanding lurus dengan niat iseng. Ketiga, batas-batas privasi sepertinya mulai terkikis dengan adanya media sosial.

Oh iya, saya tidak bermaksud menistakan kitab suci umat Islam dengan penjelasan di paragraf sebelumnya. Maksud saya, kejahatan stories itu benar-benar jahat. Bayangkan kamu sedang makan, ada temanmu yang iseng ambil foto kamu ketika mangap. Lalu foto mangapmu dia unggah ke media sosial. Momen tidak menyenangkan tersebut harusnya hanya kamu dan temanmu yang tahu. Namun berkat teman kamu unggah stories, maka satu provinsi pun bisa tahu sejelek apa ketika kamu mangap. Sedang kamu tidak tahu bahwa temanmu yang kamvret itu sudah mengunggah foto “terbaik”nya ke media sosial. Fix kamu sudah mati sebelum bisa komentar dan dirundung mimpi buruk selama posting tersebut belum hilang.

Kita tahu bahwa rentetan kejadian tak nyaman ini disebabkan oleh teman kita yang dengan muka tanpa berdosa mendzalimi kita. Lebih dikerucutkan lagi, kejahatan tersebut sebenarnya disebabkan oleh gadget yang bagus. Apakah hape dengan kamera VGA dan internet 2G mendukung hal tersebut? Tentunya tidak. Justru karena sekarang gadget serbabisalah semua orang berpotensi melakukan apapun. Teknologi memang bebas nilai, semua kembali kepada pengguna. Namun kenapa sih kadang kita punya kecenderungan untuk melakukan hal iseng, aneh dan tidak berfaedah dengan hape keren kita? Why?

Dan apakah hal yang paling tidak mengasikkan? Bagi saya tentu terkikisnya batas-batas privasi. Contoh Kejadian-kejadian tadi menjadi masalah karena dibeberkan ke orang banyak. Kegiatan offline yang dalam kategori “cuma kita yang tahu”, diposting di media sosial dan banyak yang tahu. Chat personal, yang harusnya hanya kita dan lawan bicara yang tahu, dicapture lalu menjadi stories untuk dipamerkan pada banyak orang. Bahkan capture dewasa ini sangat ampuh digunakan untuk dalih “no pic hoax”. Apa iya masyarakat kita sudah sangat susah percaya satu sama lain hingga semua hal harus dibuktikan dengan foto atau capture sebuah percakapan? Duh sedih, jadi pengen nangis. Tapi mau nangis pun khawatir ada yang bikin stories atau life IG di belakang. Selesai, semua ruang privat saya sudah masuk sebagai ruang publik.

Perubahan seperi  ini adalah keniscayaan. Kondisi sosial masyarakat terus berubah mengikuti zaman. Teknologi tentu bisa memberikan sentuhan dan perubahan. Namun tetap ada sisi yang membuat saya tidak nyaman, bahkan merasa tidak aman. Tolong dong balikin privasi saya.

Privasi mungkin akan banyak tafsirannya. Bagi saya, privasi adalah semua informasi pribadi menyangkut diri saya dan berkaitan dengan marwah atau nama baik.  Informasi kita di media sosial memang  diperlukan, tapi tidak semua. Kegiatan pribadi kita sesekali bisa dibagi, ditunjukan untuk menginspirasi orang lain. Namun menjaga informasi pribadi yang krusial tetap menjadi kewajiban masing-masing. Kejahatan dunia maya tentu dapat muncul dari celah yang sangat kecil sekalipun. Untungnya selama saya didzalimi oleh teman saya lewat stories, kehidupan saya masih aman. Tidak pernah diburu CIA karena foto mangap tersebar ke internet, misalnya.

Sebagai catatan akhir, tentu saya menghimbau kepada semua orang yang sering iseng menjahati teman-temannya diam-diam untuk mengurangi porsi kejahilan tersebut. Bertaubatlah. Tidak semua hal dari teman kita yang konyol dan lucu bisa diupload ke media sosial. Itu merupakan suatu bully yang tidak baik.

Saya tidak melarang untuk membuat stories. Tapi setidaknya ada batas dimana informasi atau momen tersebut bisa dilihat oleh publik. Sepublik-publiknya media sosial, saya rasa kita tetap masih lebih nyaman kalau memilki ruang privat. Saya juga tidak melarang teman-teman membeli gadget paling mutakhir dan kafah untuk keperluan selfie, misalnya. Kebutuhan eksis bin narsis hari ini sudah setingkat kebutuhan menghirup oksigen harian. Hanya saya, gunakan gadget sebagai gawai yang lebih mendatangkan banyak manfaat, bukan hanya alat pemuas ketika rasa bosan mulai kumat.

Saya menulis ini tentu teruntuk teman saya dan kalian yang masih suka iseng. Andai tulisan ini dimuat, tentu akan saya forward link kepada teman kamvret saya tadi sebagai hadiah ulang tahun yang sudah telat lima bulan. Andai dimuat.

Salam cekrek!

  • view 159