Semua Ada Waktunya

Akmal Faradise
Karya Akmal Faradise Kategori Renungan
dipublikasikan 29 Oktober 2017
Semua Ada Waktunya

Sudah tiga bulan lebih saya pindah dan tinggal di lingkungan kos baru. Atau tepatnya kos lama, Karena sebelumnya saya pernah di lingkungan kos ini; Astra Seroja. Cukup banyak yang berubah. Harga sewanya naik, para penghuninya beberapa berganti dan mas pengelola (Mas Choi) sudah berubah status menjadi “Bapak Kos yang Sebenarnya”. Mas Choi saat ini tinggal Bersama istri tercinta di Seroja. Tiga bulan menjadi waktu yang pangjang sekaligus menyebalkan kalau harus melihat kamvret moment.

Kamvret moment yang biasa kutemui adalah kemesraan bapak-ibu kos di dapur. Kalau mau masak, sering banget keliatan berdua. Aku pribadi, yang terlahir dengan jiwa iseng, selalu tergelitik untuk ngeledekin atau minimal bilang “cie” (kadang kala “ehm”) kalau kedapatan ada kamvret moment tersebut. Namun, mas Choi juga sering main serangan balik.


Suatu pagi, kebetulan aku lewat dapur, ada kamvret moment, belum sempet ngeledekin, aku udah diserang duluan sama mas Choi “tenang Ris, semua akan nikah pada waktunya”. Di lain kesempatan kadang redaksinya beda. “Istrimu akan datang kalau kamu sudah siap jadi suami”. Celotehan ini tidak sekali dua kali, berkali-kali. Menggelitik saya untuk komentar.

Semua akan nikah pada waktunya. Iya benar sekali. Kalau kita melihat pola takdir, mesti begitu. Apapun itu, bila belum terjadi maka takdir berkata belum waktunya. Saya yakin bahwa Tuhan mengatur segalanya dengan tepat, atau seperti kata ibu suri Dee Lestari bahwa segala sesuatu tepat waktu. Bertemu jodoh kan Cuma perkara waktu dan cara haha.

Selentingan kedua, istrimu akan datang kalau kamu suami siap jadi suami. Seriously? Ini bagus. Saya baru sadar bahwa menikah tidak hanya sekedar kufu’ antar pasangan, tapi kesiapan keduanya. Sepaham saya, kesiapan itu ada dua; kesiapan lahir dan kesiapan bathin.

Pemenuhan kesiapan lahir mungkin bersifat high cost, tapi bebannya relatif bias diatasi. Memiliki rumah, pekerjaan tetap dan fisik sudah mendukung untuk menikah. Saya rasa ketiga hal itu sangat bisa dipenuhi. Bahkan dalam banyak kasus, pengantin pria hanya memiliki kesiapan fisik dan belumlah mapan. Tapi nikah ya nikah aja. Asal kesiapan bathinnya terpenuhi.

Kesiapan bathin saya rasa cukup kompleks sih. Dari yang bisa saya pahami, ada beberapa hal yang termasuk dalam kesiapan bathin yaitu mental, rasa tanggung jawab, kompetensi menjadi kepala keluarga, kesanggupan untuk membimbing istri dan cinta-kasih. Mungkin masih ada lagi, tapi ini setidaknya beberapa hal penting  yang layaknya dimiliki untuk menjadi suami. Maklumi saja kalau kurang. Toh saya belum menikah haha. Kesiapan bathin saya rasa menjadi lebih penting dimiliki lebih dahulu. Walau dalam beberapa kasus, banyak pasutri yang menikah meski kesiapan bathinnya kurang.

Jadi, kenapa begitu? Kalau kamu menikah namun tidak siap lahir bathin berarti memang waktunya haha. Tapi biasanya tidak begitu sih. Tuhan engga sejahat itu jadi lo santai aja. Ketidak siapan lahir bathin biasanya bersifat tidak penuh saja. Jadi bukan benar-benar “zong”. Jadi ada beberapa aspek yang tetap terpenuhi.

Sekarang kita bicarakan yang lebih penting, kalau memang belum siap, what should we do? Anything. Haha. Maksud saya anda bebas melakukan apa yang menurut anda tepat. Anda bisa fokus belajar, bisa mengembangkan karir, jalan-jalan, mengembangkan diri dan masih banyak lagi. Atau kamu bisa memilih untuk mencoba memantaskan diri he. Saran saya ini dilakukan dengan niat ingin menjadi pribadi yang lebih baik hingga kelak ketika bertemu si mbak, kamu udah siap tinggal lamar.

Saya rasa dengan mencoba memantaskan diri menjadi pribadi yang lebih baik, kita bisa memeroleh kesiapan lahir bathin sebagai suami. Relasinya begini. Pribadi yang baik itu bisa ditarik pada  cakupan definisi yang holistik. Pribadi baik; Baik secara tutur kata dan perilaku, baik perekonomian, mapan dan cerdas.

Bayangkan kamu menjadi pribadi yang baik? Hm kayanya asik deh.

Usia dua puluh lima tahun. Sudah selesai Pendidikan doktoral. Karir sebagai dosen. Sering terlibat proyek penelitian. Memiliki mobil dan rumah sendiri. Srawung dengan masyarakat. Juga dikenal sebagai ustad dan ilmu keagamaan mapan. Sifatnya baik, kebapakan, dan manly. Pada tahun ini siap menikah dan  sedang mencari istri. Saya langsung berangan banyak sekali yang antri ingin menjadi istrinya. Atau kalau misalpun tidak, pria baik seperti ini mudah mencari istri. Pasti banyak yang mau dan pria seperti ini mudah menaklukkan calon mertua.

Tunggu, pria seperti ini seperti terlalu sempurna dan langka sekali. Saya akui, memang. Tapi coba kita buat contoh pria baik seperti diatas sebagai barometer 100%. Semakin banyak kemiripan kita dengan contoh pria baik diatas, semakin mendekati kata maksimal, semakin mudah mendapatkan istri. Perspektif seperti ini selalu ditekankan oleh ibu saya pada anaknya yang paling nakal ini. Honestly, saya setuju. Namun bagaimana pun, ini tidak bisa menjamin 100% worked. Cause life is never flat, right?

Cuma, memiliki modal masih lebih aman daripada belum, bukan? Ehe. Makanya sukses dulu tong biar gampang milih perempuan. Milih? Iya milih. Lihat persentasenya!

Bagaimanapun, penjelasan diatas sesuai dengan prinsip saya yang menyukai perempuan hanya untuk dinikahi. Dan untuk itu, saya perlu layak untuknya, lahir bathin. Saya ingin siap lahir bathin untuk dia-yang-masih-ada-di-masa-depan (alasan klise spesies jomblo santun). Ketika saya melamarnya, saya berada kondisi paling baik, telah menyiapkan apapun yang terbaik untuknya. Bilang “amin” lah. Susah amat lihat saudaranya lagi berharap :P :v

Toh kalau saya sekeren contoh calon suami diatas, enak milih kan ya? Bahkan bisa saja saya yang dilamar. Karena kriteria laki-laki diatas itu susah dicari saat ini, langka. Spesies yang banyak diburu perempuan.

Ada yang penasaran tentang apa yang saya pikirkan mengenai perempuan? Nggak? Bodo amat gua mau cerita, serah ada yang denger atau engga :v Bicara mengenai nikah memancing saya untuk membicarakan sekelumit apa yang saya pikirkan tentang makhluk tuhan paling seksi ini. Eaaaa konyol -_-

Hal ini saya dapat ketika bercanda dengan seorang teman di sebuah warung makan.

Entah asal-muasalnya bagaimana saya bisa berpikir begini, tapi saya merasa kalau perempuan memiliki naluri untuk mendukung dan laki-laki punya naluri untuk melindungi.

Saya rasa semua sudah familiar dengan adagium “dibalik lelaki yang sukses terdapat wanita yang hebat”. Secara alamiah, seorang istri cenderung untuk mendukung apapun yang diusahakan sang suami, tentunya selama itu baik. Perasaan cintanyalah yang memunculkan sikap itu. Ingat, istri pada dasarnya adalah amanah yang sangat besar kepada suami dan perlu dijaga dengan baik. Namun, istri malah menjadi bidadari yang menentramkan rumah tangga. Bukankah beban rumah tangga banyak ditanggung istri? Mungkin itu pembagian peran yang sudah dibicarakan, tapi katanya lebih banyak cerita dimana istri sendirilah yang menginginkan hal itu. Kenapa? Karena cinta pada suami dan keluarga. Alasan yang tepat bukan?

Laki-laki mungkin pada dasarnya memang diciptakan sebagai pemimpin. Dalam keluarga, suami adalah sosok nahkoda yang mengarahkan bagaimana bahtera rumah tangga berlayar di jalur yang benar dan selamat dari samudera kehidupan yang keras. Ia bertanggung jawab penuh atas istri dan keluarga. Seorang bos biasanya akan kehilangan muka kalau ada apa-apa dengan anak buahnya. Dalam kasus rumah tangga, saya rasa suami akan ber-mind set demikian. Kalau di anime-anime, biasanya tokoh lelaki gentleman akan bilang “pria sejati tidak akan membiarkan seorang wanita menangis”. Air mata yang mengalir pada pipi wanita adalah hal yang paling tidak ingin laki-laki lihat. Laki-laki cenderung melakukan apapun asal perempuannya tidak menangis. Laki-laki akan selalu berusaha agar si perempuan bahagia, bahkan ketika harus bertingkah konyol atau menderita sekalipun. Apapun, asal sang perempuan tersenyum, tertawa dan bahagia.

Lalu saya rasa, keduanya perlu saling memahami agar jalannya rumah tangga tidak banyak buffering. Muehe. Salah satu yang terpenting adalah memahami karakter, baik dasar maupun keunikan masing-masing.

Setting default
laki-laki itu sangat mengedepankan logika. Sementara perempuan mengutamakan perasaan.

Dalam banyak hal, biasanya laki-laki cenderung menjadi leader karena manajemen dan perencaannya rapi. Pemikiran laki-laki bisanya lebih baik dari perempuan karena daya nalarnya lebih baik. Tapi hal ini sering menimbulkan celah. Sikap laki-laki yang terlalu mengedepankan logika, sering menjadi masalah atau bahkan tidak menyelesaikan masalah. Seringkali masalah perlu diselesaikan dengan perasaan. Disini, wanita yang berperan. Kepekaan wanita akan perasaan jauh lebih baik daripada laki-laki. Sensitivitas mereka terhadap emosi sekitar dapat membantu laki-laki menempati posisi yang pas dan moderat. Rata-rata wanita lebih terolah emosinya dari laki-laki. Maka dari itu, kerja sama keduanya merupakan kombinasi yang pas. Pendeknya nalar wanita dapat ditutupi laki-laki, dan kurang tajamnya indra perasa laki-laki akan diututupi perempuan. Kenyataan ini membuat saya berpikir bahwa manusia sebagai makhluk sosial bukan cuma terbatas pada kebutuhan interaksi saja namun lebih dari itu kebutuhan untuk dilengkapi. Saat tuhan mempertemukan Adam dan Eva, jelas mereka merupakan embrio kombinasi sempurna. Model teamwork yang akan terus mengabadi.

Lalu Pahami karakter suami/istrimu secara menyeluruh. Mereka adalah entitas unik yang akan bersamamu tidak hanya sehari dua hari.

Saya ingin menutup tulisan ini dengan himbauan kepada laki-laki. Tentu, saya juga kena khitabnya.

Ingatlah bahwa barometer pribadi baik seseorang adalah shalatnya. Dan barometer keimanan laki-laki adalah shalat isya dan shubuh. Dua shalat ini banyak disebutkan sebagai shalat yang susah dilakukan dalam artian sering melenakan; isya menggoda untuk ditunda dan subuh terlalu melelahkan untuk bangkit segera. Perbaiki shalatmu niscaya kan baik dirimu. Yuks mari! Itu masih banyak loh dedek-dedek ukhti mendamba imam yang rajin shalat subuh berjamaah. Hihi.

Hm saya rasa tulisan ini dicukupkan sampai sini. Sudah purna ide yang ingin saya bagi, walau wacananya tidak boleh berhenti. Bisa disambung lewat diskusi kan? Saya tidak tahu apa pikiran kalian tentang tulisan ini. Yang jelas, saya hanya gelisah untuk menuliskan tema ini karena dibenturkan terus sehari-hari. Gatal ingin dibahas dan menulis bagi saya adalah “sweet escape”. Haha.

Salam jomblo sampai halal. Pantang pacaran sebelum nikah. Bwahaha.

[Tambahan] Ini hanya celoteh anak-anak. Bagi yang sudah berumah tangga dan kebetulan membaca, saya harap bisa memberikan koreksi. Terima kasih. 

  • view 35