Mencukupkan Keributan

Akmal Faradise
Karya Akmal Faradise Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 28 Mei 2017
Mencukupkan Keributan

Dalam beberapa waktu terakhir, berita yang sering bermunculan di media massa (utamanya digital) terkesan provokatif atau bahkan juga sampah. Berita hoax sudah membuat masyarakat jenuh hingga harus selektif memilih informasi. Di sisi lain, berita mengenai A menuding B, seorang figur bermasalah dengan organisasi tertentu, bahkan kelompok hitam saling serang dengan kelompok putih, sepertinya sudah menjadi degungan yang biasa didengar dari pagi sampai malam. Mungkin ini waktunya untuk Indonesia ribut.

Sebenarnya masalah yang muncul dan penyebabnya bisa sama sekali berbeda. Sangat beragam. Namun muaranya sama, masyarakat kita seakan ‘diajak’ ribut. Di luar konteks siapa benar atau salah, sebenarnya fenomena ini sangat menyita perhatian publik. Entah sebagai berita atau dinamika sosial kenegaraan. Buntutnya adalah penggiringan opini publik untuk condong pada blok tertentu, memihak orang tertentu. Sinyalir yang tidak nyaman adalah adanya potensi pecahnya NKRI. Separah itu?

Melihat kondisi ini, pihak yang mungkin diuntungkan adalah pihak penyedia ‘berita’, utamanya yang hanya menebar keresahan di masyarakat dengan konten yang tidak valid. Para ‘penyedia berita’ dapat menyebarkan ‘berita’ yang dangkal namun laku di masyarakat kita. Strategi menggunakan judul yang membuat penasaran, walau isinya tidak kredibel, terbukti sukses menggaet masyarakat kita, yang belum baik dalam literasi media, untuk membaca. Rating dan pageviews disatu sisi dapat mendatangkan keuntungan finansial. Cuma, masalah utamanya bukan di persaingan bisnis informasi. Disintegrasi bangsa, bisa jadi lebih nyata dari wacana.

Soekarno, sebagai founding father, sudah memperingatkan bahwa musuh utama bangsa Indonesia adalah bangsa Indonesia sendiri. Ketidak harmonisan yang terjadi di dalam dapat mengancam keutuhan NKRI di masa selanjutnya. Keributan di media sosial dengan berbagai ‘berita’ yang viral memang diniscayakan terjadi mengingat generasi milenial yang responsif, namun bila keributan tersebut adalah hal yang nyata di sekitar, masihkan kita diamkan keributan tersebut?

Mari kita selektif memilih berita, mari kita dewasa menghadapi persoalan. Indonesia adalah negara yang besar dengan memupuk toleransi bukan menyikut sana-sini. Jagalah keutuhan negeri ini. Sampai akhir, NKRI harga mati.    

  • view 95