Berlindung di Bawah Pohon Linden

Suci Ambarwati
Karya Suci Ambarwati Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 14 November 2017
Berlindung di Bawah Pohon Linden

Kepulan asap yang berasal dari dapur tak bebeda dari kepulan asap hari-hari sebelumnya. Mama membangunkan Nadra, anak pertamanya dan Amira, anak bungsunya untuk pergi ke sekolah seperti biasa. Sarapan sederhana dan teh hangat tawar sudah berjejer rapih di meja persegi yang ukurannya tak begitu lebar. Seperti biasa, Mama hanya menyediakan itu semua setiap pagi dengan wajah datar, tak ada senyum, tak ada tawa, bahkan sering kami tak berteguran. Sejak lima tahun yang lalu Mama kehilangan itu semua, Mama kehilangan senyum hangatnya.
Dua anak perempuan itu pergi tanpa membawa bekal sedikitpun.
Bahkan bekal semangat untuk belajar dan menggapai cita-cita yang pernah kami ukir sejak lama. Ya, kami berdua, Aku dan adikku menjalani hidup seperti tak hidup, mati namun tak mati. Beginilah keadaan kami berdua.
***
“Ayah, hari ini kami ingin membeli sepatu baru. Ayah harus bisa antar, pokoknya sepulang sekolah kami harus dijemput Ayah, titik!”
“Tidak bisa, diantar Mang Danar saja ya sayang, Ayah harus keluar kota”
Ayah meninggalkan kami dengan kecupan kening yang terasa sangat dingin dan asing. Percakapan hari itu merupakan percakapanku terakhir dengan Ayah. Ayah ada namun terasa tidak ada. Ayah selalu terasa tidak ada namun faktanya dia ada.
“Sudahlah sayang, biar Mang Danar saja ya yang antar kalian berdua. Mama juga hari ini ada jadwal ke salon”
“Biar nenek saja yang antar anak-anak. Sepertinya mereka sudah mulai bosan diantar Mang Diman” ujar nenek yang tinggal bersama kami
“Amira ga mau diantar nenek. Nenek kan sudah tua, Amira malu kalau pergi ke mall sama nenek-nenek, pokoknya Amira ga mau!”
Hening.
Kami memiliki orangtua tapi wujud mereka seperti tidak ada. Kami merasa seperti tidak memiliki orangtua tapi kenyataan wujud mereka ada. Begitulah keadaan keluarga ini.
***
Hari ini aku memutuskan untuk tidak pulang ke rumah. Bosan dengan kemewahan-kemewahan yang sama sekali tidak membawa sedikitpun kebahagiaan. Rumah mewah dan semua yang ada didalamnya hanyalah paradoks-paradoks. Aku muak dengan segala kemewahan yang ada. Aku terdampar lagi di sini jika aku merasa sepi. Di tepi sungai yang mulai hijau ditutupi lumut di bawah pohon Linden yang rindang. Menulis kisah-kisah sepi, berkhayal tentang munculnya Ibu peri yang tiba-tiba datang menghampiriku dan mengeluarkanku dari siksaaan batin yang kian menyiksa ini. Hingga tenggelam senja, hingga larut malam, hingga datanglah kunang-kunag beramai-ramai. Tempat ini jauh dari kata “nyaman” jika dibandingkan dengan bangunan megah yang mereka sebut “rumahku, istanaku.” Di sini tidak adak ada sofa empuk yang nyaman, namun di sini memberi kenyamanan. Karena menurutku, ketenangan adalah ketika aku tidak menyangkut pautkan diriku dengan rumah megah itu beserta isinya. Aku penat. Satu lagi...
“Sudah kutebak, perempuan yang rambutnya dikuncir sembarangan dan membelakangi jalan itu pasti kamu, Nad...” ujar pria berkulit hitam yang menghampiriku
“Jangan kau tanya lagi aku sedang apa!”
“Mmmm... sudah berapa halaman tulisanmu hari ini?”
“Entah...”
Kami duduk bersisian, seperti biasa seperti pertama kali kita bertemu. Di tepi sungai kumuh dan di bawah rindangnya pohon Linden ini. Rahman, Itulah nama yang ia perkenalkan padaku sejak pertama kali kita bertemu. Pria sederhana, agamis namun tidak terlalu fanatik seperti remaja-remaja masjid itu, bersahaja, dingin dan murah senyum.
“Beginilah hidup Nadra. Terkadang kita mencari hal itu terlalu jauh. Padahal yang kita cari ada di dekat kita...”
“Maksud kamu?”
“Kebahagiaan.”
“Dekat? Ada dimana?”
“Di hati orang-orang yang bersyukur...”
Perkataan yang ringan namun membuat aku merenungkan kembali perkataan yang keluar darinya.
***
Aku selalu tak ingin pulang jika sudah bercengkrama dengan kunang-kunang di bawah pohon Linden, selarut apapun, bahkan jika harus tidak tidur, aku lebih memilih tidak tidur. Aku lebih nyaman di sini, yaa di bawah pohon ini, ketenanganku ada dibalik lumut-lumut yang mulai menutupi sungai kumuh ini. Namun Rahman selalu mengacaukan semuanya, entah bagaimana caranya aku selalu terhipnotis untuk pulang jika dia yang meminta.
“Banyak orang di luar sana yang mengidam-idamkan rumah bahkan jika hanya yang mempunyai atap sekali pun. Dan kau...”
“Ayah masuk penjara...”
“Ada masalah apa?” ujarnya sambil menatapku
“Korupsi” jawabku lemas
Hening.
“Rumah kami dan seluruh isinya akan disita besok. Ternyata itulah penyebab terhalangnya kebahagiaan kami. Semua kemewahan itu tidak membawa berkah sama sekali. Seperti kamu bilang, kebahagiaan itu sederhana jika kita mau mensyukuri apa yang kita punya. Dan kenyataannya aku tidak pernah dapat bersyukur atas itu semua. Aku tak pernah bahagia untuk kemewahan-kemewahan yang ternyata memang tak akan pernah membawa sedikitpun kebahagiaan.” Aku tersengguk dan tangisku mulai pecah.
Daun-daun pohon Linden tidak bergoyang seperti biasa, tidak ada angin. Semua mengheningkan cipta atas kepedihan demi kepedihan yang aku curahkan di tepi sungai ini. Di sela-sela lumut yang mulai menutupi sungai kumuh ini. Bahkan katak sekalipun, ia lebih memilih menenggelamkan dirinya, tak kuasa menyaksikan tetesan air mata yang ingin jatuh namun tak pernah jatuh. Akhirnya, malam inipun deras, mengucur dari segala rasa yang terbendung sajak lama.
“Sudah larut malam, ayo kita pulang...”
***
Hari ini seperti biasa. Dua anak perempuan, Nadra dan Amira, tak pernah lagi mendapat bekal apa-apa. Pergi ke sekolah tanpa mempunyai asa, tak ada gairah. Bahkan rumput sekalipun menunduk layu jika bersitatap dengan kami berdua.
Ya, setelah lima tahun itu berlalu kami menetap di sebuah gubuk yang dibilang jauh dari kata layak, dekat pohon yang rindang itu. Mama dengan segala depresinya, merawat kami dengan segala keterpaksaanya. Mama tertekan. Terlalu tidak bisa menerima keadaan yang berubah total tiga ratus enam puluh derajat. Sepulang sekolah kami menemukan Mama dalam keadaan terkulai tak bernyawa. Menenggak habis obat tidur dengan dosis yang sangat tinggi.
Hening, lagi. Masih di bawah pohon, di tepi sungai kumuh yang sekarang benar-benar tertutup hijaunya lumut.
“Katamu, bahagia itu sederhana. Bahagia itu terdapat pada hati orang-orang yang bersyukur. Sekarang apalagi yang harus kusyukuri... Rahman...”

  • view 73