Mebel

Irvan Hidayat
Karya Irvan Hidayat Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 14 November 2017
Mebel

Mebel

Pagi itu jam dinding menunjukan pukul 07.00, tapi matahari tidak menampakan wujudnya.  Cahanya terhalangi awan hitam yang pekat, gemuruh halilintar bersahutan dibarengi hujan yang turun sampai membanjiri halaman rumah ku. Debit air terus bertambah sampai setinggi lutut orang dewasa. Seisi rumah panik, sambil terus berharap hujan akan berhenti kami memindahkan barang-barang berharga ke lantai dua rumah.

Aliran listrik satu kota mendadak mati, kantor pusat nampaknya tidak ingin mengambil resiko tinggi dalam keadaan seperti ini. Gelap gulita se isi kota, cahaya dari lampu penerang tidak cukup untuk menerangi seisi rumah. Terlihat dari kejauhan rumah-rumah tetangga hanya diterangi oleh lilin-lilin kecil.

Satu jam sebelumnya telpon seluler milik bapak mendapatkan pesan singkat yang isinya “badai besar akan datang dan kami akan mematikan aliran listrik demi keselamatan bersama, mohon maaf menganggu kenyamanan anda”. Pesan singkat itu berasal dari kantor pusat listrik di kota kami. Sehari sebelumnya tidak ada satupun media yang mewartakan badai yang terjadi hari ini sehingga warga kota tidak sempat mempersiapkan diri. Badai yang terjadi mendadak ini membuat warga kota tidak bisa menyembunyikan kepanikannnya. Barang-barang berharga mereka seperti mobil, televisi, komputer dan surat-surat berharga lainnya hanyut terbawa arus air.

Dalam keadaan panik aku dan keluarga di rumah saling berdekatan, mulut kami tidak berhenti komat-kamit memanjatkan doa kepada Tuhan, kami tidak ingin ada yang terseret arus lalu hilang di bawa air yang sedang mengamuk di luar rumah. Bapak berusaha untuk meredam kepanikan ibu dan kedua adik ku, aku sendiri sebagai anak sulungnya ikut menenangkan Alexa adik ku yang paling kecil.

“mudah-mudahan badai ini cepat berhenti ya, ayo sama-sama kita berdoa kepada Tuhan agar kita sekeluarga diselamatkan dari bencana alam ini”. Dengan logat Sunda yang kental bapak menenangkan kami. Ibu yang tadinya panik mulai merasa tenang karena lelaki yang sudah menjaganya selama 21 tahun berhasil meneguhkan hatinya. Ibu pun mulai mendekap kami dengan dekapan yang tidak terlalu keras tapi kehangatannya begitu terasa.

“Sini nak, jangan takut sebentar lagi badainya akan berhenti”. Ibu coba merangkul aku, Joni dan Alexa. Dalam keadaan remang kami saling merangkul dan melindungi satu sama lain. Untung saja bapak adalah arsitek yang sudah mempersiapkan rumah kami anti gempa sehingga cukup kuat menahan arus air yang kencang dan gempa berkekuatan sedang sampai tinggi.

Makanan yang terisisa di lemari pendingin kami ambil beberapa, pagi itu kami makan bersama dengan keadaan yang kacau, meskipun begitu kami tetap bersyukur karena kami masih bisa makan bersama.

Alexa tiba-tiba menjerit saat petir menggelegar sangat kencang dan memekakan telinga. Dari jendela kaca rumah guratan petir terlihat menyala-nyala saling menyilangkan diri, sungguh baru kali ini aku mengalami hari yang begitu mencekam seperti hendak hancur seisi alam semesta ini.

Jam dinding di ruangan kami berkumpul menunjukan pukul 12.00, artinya hari sudah sampai pada pertengahannya dan awan gelap masih pekat, tapi hujan mulai berhenti perlahan dan petir tidak lagi terlihat. Masih dalam keadaan takut, kami sekeluarga mencoba untuk melihat kedekat jendela memastikan tentangga kami baik-baik saja. Ternyata rumah-rumah tentangga kami ludes terseret air, hanya sisa tiga rumah besar yang terlihat kondisinya lebih baik dari yang lain. Pemandangan itu membuat pikiran semakin tak keruan, aku sendiri bertanya-tanya dimana mereka sekarang ?, apa mereka hanyut bersama air atau sudah dievakuasi oleh petugas penyelamat.

Air mata ibu mengalir deras tak kuat melihat kerusakan yang sedang terjadi, membayangkan teman-temannya mati terseret air sampai kelaut dan menjadi makanan predator air atau malah membusuk menjadi makanan untuk plankton. Bapak mendekap ibu, menyeka air matanya dengan kaus yang dipakainya.

“sudah bu, doakan saja agar mereka selamat”, bapak berulang kali menenangkan ibu. Dalam keadaan seperti ini kami masih bisa bersama dan rumah kami tetap aman dari kerusakan. Badai berhenti pukul 14.00, tinggal arus air saja yang terdengar mengalir di lantai satu rumah dan seluruh permukaan jalan tidak Nampak kelihatan lagi. Kota kami sekarang terlihat seperti danau besar yang tak kelihatan ujungnya.

Aliran listrik tak kunung menyala, air berhasil menghantam tiang-tiang listrik dan memutus kabel-kabel listrik kota. Beruntung rumah ku punya banyak lampu penerangan yang bisa digunakan sebagai sumber cahaya cukup untuk dua hari kedepan. Walaupun badai sudah berhenti tidak terlihat satu pun petugas penyelamat berseliweran di sekitar kota, keadaan masing lengang dan mencekam. Joni yang sedari badai berhenti berdiri di depan jendela memanggil kami,

“pak, bu, kak, lihat itu !”, Joni menunjuk ke bawah arah Barat, tenyata di sana ada dua orang yang sudah tidak sadarkan diri tersangkut di batang pohon mangga. Kami tidak bisa melihat jelas siapa mereka, keduanya sudah tidak bernyawa. Melihat kedua orang yang tersangkut itu rasa iba kami memuncak, isak tangis tak bisa terbendung lagi, yang bisa kami lakukan sekarang hanyalah saling menjaga sambil menunggu pertolongan datang.

Bulan mulai menampakan dirinya dari Timur langit, wajahnya ikut muram menatap ke bawah ke kota kami. Dengan pikiran yang kacau dan badan lemas, bapak dan ibu menyiapkan makan malam, menunya tidak ada yang istimewa semunya serba makanan instan. Mie goreng sosis menjadi menu utama dengan air bening sebagai pelengkapnya, kami harus bisa menakar makanan kami untuk beberapa hari kedepan jangan sampai makanan habis sebelum ada pertolongan datang.

Kami menyantap makanan dengan lahap karena sedari siang tidak sama sekali ada makanan yang masuk ke perut. Kondisi kenyang membuat mata mengantuk, hari yang berat sudah kami lalui dengan harapan esok hari ada orang datang memberikan pertolongan.

********

Terik matahari masuk lewat sela-sela ventilasi udara dan menerpa wajah ku, saat bapak, ibu, dan adik ku masih terlelap aku terbangun membuka hordeng penutup jendela dan melihat ke bawah, air mulai surut dan kedua orang yang tersangkut di batang pohon mangga terlihat semakin jelas.

Sepertinya wajah dua orang itu tidak asing bagiku, yang satu laki-laki muda berusia 19 tahun dengan rambut keriting dan kulit putih, hanya ada satu orang yang punya fisik seperti itu di sekitaran rumah ku. Tidak salah lagi itu pasti Yusuf anak dari pengusaha mebel terbesar di kota ini. Jasad yang satunya lagi sepertinya Sukma adik perempuan Yusuf yang berusia 17 tahun.

“pak bangun!, bangun pak!”

“iya Zein ada apa?, apa ada petugas penyelamat yang datang?”

“bukan pak, sekarang aku tahu pak dua orang yang tersangkut di batang pohon manga rumah kita”.

Bapak tersentak, dan bergegas bangun membuka jendela.

“Ya Tuhan, itu kan Yusuf dan Sukma anaknya Pak Sulaiman”

“iya pak, ayo kita tolong mereka!”

“Pakai apa kita tolong mereka?”

“aku ada ide pak, air sudah mulai surut setidaknya kita bisa berjalan mencari bantuan atau kita buat rakit sendiri saja pak”.

“itu sulit Zein, kita buat rakit dari apa?”

“kita pakai pohon mangga itu, kita potong beberapa dahannya dan kita ikat pakai tali”

Ide ku memang gila, tapi bapak tanpa banyak bicara mengambil gergaji dan sebilah golok dan kami berjalan kea rah pohon mangga itu. Sambil melihat dua mayat yang terbujur kaku, dan kembung karena banyak air yang masuk ke perut bapak mengergaji dahan pohon mangga di samping kedua mayat itu. Aku mengikat dahan demi dahan dengan tambang dan membentuknya seperti rakit. Setelah satu jam kami berdua selesai membuat rakit seadanya, meletakan kedua mayat itu di atas rakit dan menyeretnya dengan tali tambang.

Pukul 09.00 ibu terbangun dan melihat kebawah,

“siapa mereka itu”, ibu berteriak menanyakan kedua mayat yang sedang kita tarik/

“ini Yusuf dan Sukma, anaknya Bapak Sulaiman”

“innalillahi wa inailahi rajiun”, ibu mengucapkan kalimat bela sungkawa.

Ayah mengikat rakit di tiang rumah untuk sementara waktu. Kami berdua lantas menghampiri ibu dan adik-adik di atas.

Air yang sudah surut memberanikan tekad kami untuk menaiki rakit bersama kedua mayat itu, menuju posko pengungsian.

********

Posko pengungsian nampak sesak dengan korban bencana, orang-orang berseliweran kesana-kemari, bapak masih dengan ibu dan kedua adik ku menunggu di depan posko sambil memegangi tali rakit. Aku berlari mencari petugas untuk mengevakuasi mayat Yusuf dan Sukma.

“pak di sana ada dua mayat korban”, aku menunjukan arah dan membimbing mereka ke rakit”.

“apa kalian mengenal ke dua orang ini?, petugas itu bertanya.

“mereka adalah Yusuf dan Sukma anak dari Pak Sulaiman”, bapak menjawab dengan tangkas.

Sambil membopong kedua mayat itu, kami pun di evakuasi menuju tenda yang tersedia. Keadaan posko pengungsian ternyata tidak lebih baik dari rumah kami, kami harus berdesak-desakan dengan pengungsi yang lain. Tapi apalah arti rumah kami kalau tiba-tiba fondasi rumah retak karena terkikis air dan semua bangunan roboh, lebih baik kami berdesakan di sini karena lebih aman.

Ada sekitar seribu orang pengungsi di posko ini, kami harus hidup dalam keterbatasan. Keterbatasan makanan, obat-obatan dan tempat tinggal. Selama dua hari kami tinggal di posko, banyak media lokal, nasional dan internasional yang meliput kondisi kota kami. Daftar korban mati pun diumumkan ke berbagai media, tidak terkecuali Yusuf dan Sukma. Tidak berselang lama setelah pengumaman itu hanya skitar tiga jam ayah dari Yusuf dan Sukma datang mengunjungi posko pengungsian. Raut wajah kesedihan terlihat jelas di wajah Pak Sulaiman, setelah empat hari mencari akhirnya dia harus berjumpa dengan kedua anak kesayangannya dalam keadaan tidak bernyawa.

*********

Selama di posko pengungsian aku tidak pernah ketinggalan berita, setiap pagi aku menyempatkan diri untuk membaca koran yang disediakan petugas di ruangan pusat informasi sambil berharap pemerintah segera merehabilitasi rumah-rumah yang rusak dan menaggung biaya hidup sementara seluruh warga kota yang menjadi korban. Hampir semua berita utama koran isinya bencana yang menimpah kota kami, dan kolom-kolom lainnya memberitakan peristiwa kriminal, politik dan ekonomi. Di kolom ekonomi hari ini  terpampang berita yang mengejutkan dunia bisnis nasional, ternyata keluarga Sulaiman menempati posisi pertama sebagai keluarga terkaya di negara ini mengalahkan keluarga Davis yang memiliki perusahaan rokok terbesar.

Aku terperanjat Pak Sulaiman Sang pengusaha mebel sekarang menjadi orang terkaya di negeri ini, apa rasanya menjadi orang kaya kalau ditinggal mati kedua anak kesayangannya. Karena harta tidak bisa menggantikan kebahagian bersama keluarga, paling tidak itu yang aku rasakan bersama ibu, bapak, dan kedua adik ku.

Kolom eknomi itu menginformasikan bahwa pundi-pundi kekayaan Sulaiman didapatkan dari penjualan mebel yang diproduksi langsung oleh perusahaannya tanpa ada tangan kedua. Perusahaan Sulaiman mengolah sendiri bahan mentah mulai dari penebangan pohon sampai menjadi berbagai bentuk mebel seperti, kursi, lemari, meja, dan perabotan lainnya. Sehingga keuntungan besar dapat dihasilkan dari pengolahan kayu itu.

********

Seminggu yang lalu seingat ku Yusuf pernah menceritakan sebuah proyek besar ayahnya kepada ku, waktu itu kebetulan kita bertemu di café dekat taman kota. Sore itu aku sedang menunggu kekasih ku Agnes untuk berkencan, kencan ini memang sudah menjadi jadwal rutin ku dengan Agnes yang sangat sibuk dengan kuliahnya di bidang pelestarian alam. Yusuf mungkin melihat ku sedang duduk sendiri sambil memainkan gadget, dia menghampiri ku dan memulai pembicaraan tentang proyek besar perusahaan ayahnya.

“Zein perusahaan keluarga ku sedang ada proyek besar, apa kau mau ikut bergabung lumyan loh nanti uangnya bisa buat kamu dan Agnes jalan-jalan”, Yusuf mengajak ku untuk bergabung dengan proyek ini.

“wah maaf Yusuf minggu ini aku ada tugas lapangan untuk melakukan ekskavasi di situs purbakala di kota sebrang, memang apa proyek besar ayah mu itu?”

“hem…begitu, proyek ayah ku ya cuma proyek gundulin rambut aja si”

“wah kalau itu, kamu bisa lakuin sendiri kan Cuma gundulin rambut aja kan”

“yasudah kalau gitu, aku pergi dulu ya Zein”. Yusuf pergi saat Ia melihat dari kejauhan Agnes datang.

“lama ya nungguin aku di sini”, Agnes memulai obrolan dengan ku.

“lama banget, mungkin sudah satu jam aku di sini”, jawaban sedikit menipu karena aku ingin melihat reaksi Agnes”.

“baru satu jam, minggu lalu aku nungguin kamu sampai dua jam”, Agnes membalas kebohongan ku dengan kebohongan yang lebih besar.

“iya deh iya, emang kamu dari mana sayang?”

“aku habis dari kantor pusat kehutanan, aku diberi data yang mencengangkan bahwa minggu ini aka nada penebangan hutan seluas seribu hektar”.

“kok bisa, kok pemerintah mengizinkan?”

“inilah zaman semuanya bisa dibeli oleh uang, hutan pun bisa dibeli kalau kebutuhan akan uang mendesak”.

“biadab mereka, pengusaha dan pemerintah bersekutu untuk menghancurkan alam hanya untuk kekayaan semata”.

“tadi siapa yang ngobrol sama kamu?”

“itu Yusuf tetangga ku, anak pengusaha mebel terbesar di kota ini, dia coba mengajak ku untuk ikut proyek besar ayahnya, tapi tau ga apa proyeknya?”

“apa?”

“gundulin kepala, aneh kan”

Sambil menikmati nasi ayam penyet dan es jeruk kami berbincang dengan mesra, saling bertukar pertanyaan selama satu minggu yang telah lalu sudah melakukan apa saja. Aku dan Agnes tidak bisa setiap hari bertemu karena kami sibuk dengan aktifitas perkuliahan masing-masing hanya di Minggu sore kita bisa bertemu bercerita tentang segala hal dan harapan masa depan kita.

********

Kabar buruk mengahampiri ku saat petugas memperbaharui daftar korban yang meninggal setelah seminggu bencana badai itu. Nama Agnes Lusiana masuk daftar korban meninggal, setelah seminggu aku mencari kabarnya ternyata kekasih ku pun meninggal. Perasaan sedih menghujam hati, bencana ini ternyata merenggut nyawa orang yang aku cintai, pertemuan Minggu sore itu menjadi pertemuan terakhir ku dengannya.

Aku bergegas menanyakan keberadaan jenazah Agnes ada di mana, petugas memberitahu ku jenazah agnes ada di ruang jenazah. Tubuhnya masih utuh dan bersih saat ku temui di sana, nampaknya Agnes meninggal bukan karena terseret air.

“pak orang ini mati karena apa?”, sambil menahan tangis aku bertanya pada salah seornag petugas yang sedang berjaga.

“dia kelaparan setelah satu minggu terjebak di kantor hutan lindung, sepertinya dia mahasiswa yang sedang melakukan investigasi.

Investigasi apa yang dilakukan oleh Agnes, aku masih bertanya-tanya. Keluarganya datang untuk memakamkan jenazah Agnes dengan kesedihan yang mendalam mereka menceritakan terakhir Agnes izin untuk melakukan investigasi penggundulan hutan seluas seribu hektar di hutan dekat kota.

Bencana badai dan banjir bandang ini telah merenggut nyawa kekasih ku dan teman-teman ku juga harta bendanya, sampai detik ini aku tidak tahu apa penyebab dari bencana ini. Bencana yang terjadi apa karena murka Tuhan atau karena ulah manusia sendiri? Aku masih bertanya-tanya.

Semoga Yusuf, Sukma dan kekasih Agnes tenang di sana.

  • view 40