Fatullah Ingin Membeli Surga

Dinan
Karya Dinan  Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 27 November 2017
Fatullah Ingin Membeli Surga

Teruntuk Bidadari Surgaku

 

Kala matahari menyunggingkan senyum

Apakah kau ikut tersenyum, bidadariku?

Aku akan ke sana, sebentar lagi, tempat kau bersemayam

Sudikah kau menerima jasadku yang berdebu?

 

Semua yang ada di dunia berlabel harga, surga pun demikian, bukan?

Bila surga memang memiliki harga, berapapun akan aku beli. Berapapun.

Cukupkah dengan nyawaku?

Bila sudah cukup maka ambillah, akan kuserahkan.

 

Laksana Pegasus, aku akan terbang menuju singgasana termulia

Tempat nabi dan rasul bercengkrama

Semua abadi dan bahagia

Tanpa ada air mata

 

Lusa, aku tak mau lagi melihat matahari di bumi

Aku ingin melihat Cahaya Ilahi

Walau jasadku sudah tak utuh lagi

Aku yakin akan bersanding dengan bidadari

 

Maros, 26 Nopember 2017

 

*

 

Kemarin ia tak seperti biasanya, tatapannya sayu dan lebih sering menghindar jika diajak bertatap mata. Kantung matanya juga terlihat bengkak, semalaman mungkin ia menangis tersedu.

 

“Beras ini harganya berapa, daeng?” Tanya seorang wanita yang memakai baju kaos sedikit ketat dengan bawahan celana jeans pendek yang mempertontonkan paha mulusnya.

 

Ia tak langsung menjawab, ditatapnya wanita yang berdiri dihadapannya. Menyadari pakaian wanita itu kurang pantas, ia lalu menundukkan pandangan. Ia memilih menatap ‘wajah-wajah’ beras dagangannya.

 

“Sepuluh ribu satu liter, bu,” ucapnya lirih.

 

“Kenapa mahal sekali? Biasanya delapan ribuji’.”

 

“Maaf Bu, ini beras baru dan kualitasnya nomor satu di pasar ini, jika ibu berminat silakan beli tapi kalo tidak mauki’, yah, tidak masalahji’.” Jawabnya ketus.

 

Wanita itu tak menimpali dan segera berlalu meninggalkan pedagang beras itu.

 

Sejenak, kuperhatikan tingkah laku sahabatku itu, sepertinya ia sedang ada masalah. Masalah apa? Ia sudah jarang bercerita denganku sejak ia mengikuti kelompok yang mewajibkan anggotanya untuk mengikuti kajian setiap malam jum’at di rumah guru besar mereka. Kalau tidak salah, rumah guru besarnya di daerah Pallangga, Kabupaten Gowa. Itu informasi yang kudengar dari tetanggaku yang suaminya juga salah satu anggota kelompok tersebut.

 

*

 

Dulu, sahabatku tak pernah ketus dalam melayani pelanggan. Senyum selalu menempel di wajahnya, dengan anugerah lesung pipi dari Tuhan menambah manis senyumnya. Ditambah lagi, wajah sahabatku itu bercahaya karena ia melaksanakan salah satu sunah Rasulullah untuk menjaga wudhu. Tiap wudhunya batal maka ia langsung bergegas berwudhu. Aku mengenalnya sejak kelas lima SD. Namanya, Fatullah.

 

Fatul, begitulah ia akrab dipanggil. Ayahnya seorang guru agama pada salah satu pondok pesantren di kampung kami, sedang ibunya seorang bidan. Secara ekonomi kehidupannya berkucupan. Sejak SD sampai SMP ia selalu mentraktirku es tongtong, salah satu jajanan favorit kami kala itu. Dalam sehari bila sedang mujur aku ditraktir dua kali. Oleh karenanya, aku cukup berutang budi padanya. Apapun masalah yang ia hadapi aku akan selalu siap membantunya, termasuk ketika ulangan matematika, kebetulan otakku encer soal hitung-menghitung dan dengan senang hati akan kuperlihatkan kertas jawabanku untuknya sampai ia berkata, “sudahmi’, Bahar.” Sambil mengacungkan jari jempolnya diikuti kerlingan mata kirinya.

 

Begitulah persahabatan kami bermula, dari kelas lima SD sampai SMA kami selalu menghabiskan waktu bersama. Mulai dari belajar bersama, mengikuti gadis pujaan kita masing-masing, memancing ikan mujair di empang Dg. Saba’, sampai salat berjamaah di masjid yang sama. Tapi, setelah lulus SMA kami tak pernah lagi bersua, kata ayahnya, ia melanjutkan pendidikan non formal di Kabupaten Gowa, sekolah khusus penghapal Qur’an. Ia sangat jarang pulang ke rumah orang tuanya, paling cuma sekali setahun, itu pun hanya saat idul fitri saja. Lima tahun ia menyelami ilmu agama dan setelah dikategorikan sebagai hafidz ia pulang ke rumah orang tuanya beserta istri dan kedua putrinya. Aku pun tak tahu kalau ia sudah menikah. Untuk menghidupi keluarga kecilnya, pagi hari ia berdagang beras di pasar dan setelah maghrib ia mengajar membaca Al-Qur’an bagi anak-anak kampung kami.

 

Persahabatan kami mulai renggang. Aku dan Fatul hanya bertegur sapa seadanya di pasar karena kebetulan toko kami berdekatan. Hanya sebatas itu, tak ada ngopi bareng apalagi salat berjamaah bersama. Ia lebih memilih salat di rumah, aku pun tak tahu apa alasannya.

 

*

 

Hari ini, aku tak melihat Fatul. Tokonya tertutup rapat. Biasanya, pukul 06.10 pagi tokonya sudah terbuka dan siap melayani pelanggan.

 

“Kemana Fatul? Apa ia sakit?” Tanyaku ke pemilik toko lain yang kebetulan keluarga dekat dengan Fatul. Ia hanya menggeleng.

 

*

 

Di tempat lain, sekumpulan lelaki duduk membentuk lingkaran. Mereka memakai pakaian serba hitam. Tepat di hadapan mereka, di pusat lingkaran,  duduk seorang pria paruh baya. Sorot matanya tajam. Keriput-keriput di wajahnya cukup banyak dan rambut hitamnya tinggal dihitung jari. Begitupula janggutnya, sebagian besar sudah berwarna putih.

 

“Bagaimana dengan aksi kita hari ini, Karaeng Guru?” Tanya seorang lelaki di barisan lingkaran tersebut.

 

Lelaki yang dipanggil Karaeng Guru itu tak langsung menjawab, ia menghela napas sejenak, seakan mengumpulkan keyakinan dalam dirinya untuk mengeluarkan fatwa. Matanya menyisir satu persatu lelaki yang ada di barisan lingkaran itu, ia memutar badannya 360 derajat agar bisa melihat semua anggotanya. Setelah mantap dengan keputusannya, ia berkata tegas, “surga dapat dibeli tapi harganya sangat mahal, sampai-sampai, kau harus menyerahkan nyawamu. Apakah kalian siap?”

 

“S I A P…” Teriak semua anggotanya secara bersama-sama, mereka sangat kompak dan dipenuhi keyakinan yang sangat besar dalam hati mereka.

 

“Kalau begitu,” lanjut Karaeng Guru. “Hari ini, yang terpilih menjadi syuhada cuma satu orang saja, dia yang paling siap diantara kalian semua. Fatullah.”

Semua mata lelaki di barisan lingkaran itu memandang ke arah Fatullah, lirikan mereka menyiratkan kecemburuan, mengapa harus Fatullah yang terpilih hari ini dan bukan aku? Begitu kira-kira tanya dalam benak mereka.

 

“Fatul…”

 

“Iye, Karaeng Guru.” Jawab Fatul dengan hormat sambil membungkukkan setengah badannya.

 

“Sasaran kita hari ini adalah prostitusi di jalan Nusantara Makassar, tempat itu seperti sarang iblis. Kita harus memusnahkannya, sebelum generasi mendatang terjerumus dalam lembah dosa maksiat.” Titah Karaeng Guru dengan suara tenornya yang melengking.

 

“Dengan senang hati, Karaeng Guru.” Fatul lalu melangkah ke pusat lingkaran, ia mencium punggung tangan kanan orang yang paling dihormatinya. Tak terasa air matanya menetes membasahi tangan Karaeng Guru. “Tolong, jaga anak dan istriku, Karaeng Guru.” Pinta Fatul setengah berbisik.

 

*

 

Senja telah menampakkan diri di garis horizon Pantai Losari, Makassar. Adzan Maghrib berkumandang, Fatul memilih salat maghrib di rumah temannya yang tidak jauh dari sasarannya malam ini.

 

Selepas maghrib, aku akan terbang menujumu, bidadari surgaku. Ucap Fatul dalam hatinya.

 

Akhirnya, waktu yang dinanti pun mewujud. Fatul memasang bom rompi di badannya, jenis bom ini adalah salah satu jenis bom rakitan, bahannya: potassium nitrat, belerang dan TNT. Di saku celananya, ia masukkan pemicu bom rompi tersebut, sekali tekan maka ledakan dahsyat akan terjadi sampai radius 20 meter di sekitarnya. Untuk mengelabui orang lain, ia memakai jaket yang cukup besar agar mampu menyembunyikan bom yang ada di badannya.

 

Fatul melangkah setapak demi setapak, tak lupa, bibir dan hatinya menyebut Asma Allah. Matanya menyusuri satu-persatu tempat hiburan di jalan Nusantara. Ia memilih tempat yang paling banyak memiliki wanita tunasusila. Setelah mencari dan mencari, akhirnya ia menemukan tempat yang sesuai. Di papan nama depannya tertulis: “Paradise”.

 

*

 

Sementara itu, di rumah ayah Fatul, anak bungsu Fatul terus saja menangis. Sedang istrinya juga tersedu pelan sembari memegang selembar kertas yang bertuliskan puisi berjudul “Teruntuk Bidadari Surgaku”

 

*

 

Suara musik dangdut koplo memenuhi ruangan, sepuluh wanita tunasusila duduk berjejer dengan rapi di ruang tamu tempat hiburan yang bernama Paradise itu. Salah seorang dari mereka, berbaju tank top  berwarna putih transparan dengan rok mini hitam menghampiri Fatul.

 

“Bagaimana daeng, mau ngamar bareng?” Rayunya. “Murahji’…” Tambahnya lagi.

 

Fatul bergeming. Ia lalu berlari menuju salah satu kamar, mendobrak pintunya. Sesampainya di dalam, ia berteriak lantang, “Allahu Akbar…” Tangan kanannya ia masukkan ke dalam saku celananya, lalu jempolnya mantap memencet pemicu bom yang ada di badannya. Sekejap, ledakan besar menghantam tempat itu. Suara teriakan di sana-sini. Efek dari bom itu meluluh lantakkan tiga tempat hiburan sekaligus. Tubuh Fatul terbelah menjadi empat bagian. Seluruh anggota tubuhnya hangus karena dahsyatnya ledakan bom rakitan itu.

 

Tak berapa lama, suara serine polisi dan ambulans terdengar di lokasi bom bunuh diri itu. Kerumunan warga segera membanjiri lokasi tersebut. Ada yang merekam, ada yang cuma sekadar memotret, adapula yang menangis meringis. Dengan cepat kejadian ini menjadi viral di media sosial dengan hastag: #TerorismeParadiseNusantara.

 

Berita itu pun sampai di linimasa media sosialku. Foto-foto korban, rekaman ledakan, dan yang paling membuat bulu kudukku berdiri adalah foto pelaku. Tubuhnya sudah tidak utuh lagi. Entah apa yang ada dipikiran orang itu. Siapa sebenarnya dalang dibalik kejadian ini? Beribu tanya bergelantungan dalam kepalaku.

 

Polisi cukup sigap. Sejam setelah kejadian itu, Kapolda Sulawesi Selatan membuat jumpa pers di angunan Pantai Losari. Stasiun tv lokal dan nasional menyiarkan secara langsung. Tragedi ini menjadi isu nasional.

 

Aku dan istriku segera menyalakan tv. Kudengar dengan seksama pernyataan Pak Kapolda:

 

“Saudara sekalian, malam ini, Tuhan menguji toleransi kita, kesabaran kita dan persaudaraan kita. Peristiwa bom bunuh diri yang terjadi di jalan Nusantara tepatnya tempat hiburan malam bernama Paradise dilakukan oleh orang yang sangat tidak bertanggungjawab dan tak bermoral. Ia telah membunuh lima belas orang dan membuat delapan orang terluka parah. Belum lagi, kerugian materil, entah berapa jumlahnya.”

 

Kapolda menghela napas, matanya menyisir para wartawan.

 

Lanjutnya, “Pelaku menggunakan bom rakitan berjenis bom rompi. Dan anehnya, ia sengaja membawa KTP yang terbungkus dengan plat besi yang cukup tebal. KTP tersebut tidak hancur, cuma bagian pinggirnya saja. Dan, nama dari pelaku adalah… Fatullah.”

 

Setelah mendengar nama itu, aku segera bangkit, lalu berlari menuju ke rumah Fatul. Jarak antara rumahku dan rumahnya sekitar satu kilometer. Aku tak sempat lagi berpikir untuk naik motor, tidak. Dalam pikiranku, aku cuma ingin memastikan berita itu. Semoga bukan Fatullah, sahabatku.

 

*

 

Suara tangis memenuhi rumah Fatul. Ayah dan ibunya menangis di teras, mereka tak menyadari kedatanganku. Aku segera masuk ke dalam rumah. Istri Fatul terduduk lemas di depan layar kaca, di tangannya, ia menggengam secarik kertas. Kuucap salam kepadanya, ia tak menggubris. Dengan tenang kuraih tangannya, kuambil secarik kertas itu. Setelah kubaca tulisan di kertas itu, pikiranku melayang, tubuhku lunglai.

 

Aku terdiam cukup lama.

 

Hanya hati kecilku yang mampu berucap, “apakah manusia bisa membeli surga, Fatul? semoga saja bisa. Semoga…Agar nyawamu tak sia-sia.”

 

 

Dinan

 

*Ilustrasi dipinjam dari sini


  • Redaksi inspirasi.co
    Redaksi inspirasi.co
    11 hari yang lalu.
    Catatan redaksi untuk tulisan:

    Sekali lagi Dinan membuat topik agama bisa berubah menjadi fiksi singkat yang tak hanya menyampaikan pesan menyentuh tetapi juga menarik sebagai bacaan menghibur. Lewat tulisan seperti ini, sang kreator berdakwah mengenai terorisme secara kreatif. Diperlukan lebih banyak lagi cerita dengan kandungan pesan moral penting dengan cara seperti ini.

    Dari judulnya saja, cerpen ini menarik menggiring siapa pun untuk mengekliknya. Walau telah banyak cerita dengan latar terorisme seperti ini dan bahwa geliat orang seperti Fatullah banyak kita baca di media, teknik penuturan cerita Dinan lah yang menjadikan ceritanya ini tetap layak dibaca. Dan seperti biasanya, Dinan sanggup menutup cerita dengan kalimat akhir yang membuat keseluruhan fiksi ini meninggalkan efek sendu sekaligus berkesan bagi pembacanya.

  • Farid Tri Wicaksono
    Farid Tri Wicaksono
    9 hari yang lalu.
    mantafff