Semua Bermula Magang di Harian Banten News

Anton Su
Karya Anton Su Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 16 Mei 2018
Semua Bermula Magang di Harian Banten News

Kebiasaan menulis saya, tidak sesering teman-teman angkatan kelas menulis Rumah Dunia lainnya. Cerpen-cerpen yang saya tulis juga tak pernah selesai, selalu berakhir di tengah cerita, tanpa ada ending yang jelas. Kadang saya iri, sama mereka-mereka yang sudah melahirkan satu hingga puluhan buku. Kenapa, ya, saya tidak bisa? Lagipula, diksi, tata bahasa dan warna tulisan saya datar-datar saja. Biasa-biasa saja. Begini-begini saja.

Lalu, saya berfikir, daripada  tak juga menulis dan menelurkan karya seperti yang lainnya, lebih baik saya melamar kerja saja. Melamar di media massa, kalau tidak salah, September 2016, saya memutuskan melamar kerja di Harian Banten News. Koran harian ini termasuk media cetak yang baru lahir di Provinsi Banten.

Waktu itu, saya bersama Maman melamar di Banten News, alamatnya di Walantaka, Kota Serang. Sehari interview, saya dan Maman diterima. Teman saya ini, bertugas di Kabupaten Serang, sedangkan saya diposisikan sebagai reporter magang yang bertugas di Kota Serang. Sayang, Maman memutuskan tidak melanjutkannya lagi, dia hanya bekerja sehari dan langsung berhenti.

Bekerja di media, terutama media cetak ini, biasanya menghabiskan waktu hingga malam hari. Pagi sampai sore, reporter akan mencari berita sesuai proyeksi dari redaktur atau inisiatif sendiri, untuk mencari isu-isu terkini. Sore hingga malam, fokus menulis berita di kantor. Biasanya, wartawan magang seperti saya, setiap malam akan dievaluasi. Ini layaknya membahas apa yang harus diperbaiki.

Kelemahan wartawan magang macam saya ini, saya masih bingung mencari berita. Pak Irfan biasanya mengarahkan kemana harus mencari berita. Dia memberi clue bagaimana mendapat info liputan setiap hari. Kata dia, sering-sering main ke Press Room Kota  Serang.

Tak tanggung-tanggung, dia juga mewajibkan saya setiap hari ke Press Room. Kalau tidak, pasti saya akan ditanya ini-itu. Sekarang saya tahu, kenapa Pak Irfan menyuruh saya pergi ke tempat itu, karena cara itu yang paling mudah, ikut dengan wartawan senior terlebih dahulu. Dia juga selalu menyuruh saya main ke dinas-dinas cuma sekadar berkenalan.

Malam hari, di kantor, saya menulis berita. Redaktur saya ini, cukup sabar mengajari bagaimana menulis berita dengan baik. Dia juga sering mengoreksi berita-berita yang saya tulis. Banyak cacatnya. Dia detail sekali memeriksa berita yang masuk dari server. Secuil koma atau titik pun, pasti dia bahas.

Berita pertama yang saya tulis pun banyak dibahas untuk dievaluasi. Pak Irfan selalu bilang, gaya tulisan saya cenderung feature, selalu begitu setiap hari. Saya belum bisa menulis berita straight news, seiring berjalannya waktu, pelan-pelan saya bisa menulis berita straight news, meskipun sampai sekarang tulisan saya selalu diedit oleh redaktur.

Di Harian Banten News ini, saya magang kurang dari tiga bulan. Pelajaran bagaimana menulis berita dan belajar tekun, sempat terasah disini. Sebelum saya risen di Harian Banten News, dia berpesan jika saya kembali lagi ke media, agar jangan mengecewakan media yang sudah memberi banyak pengalaman berarti.

  • view 82