PROTES!

Ahmad Sholeh
Karya Ahmad Sholeh Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 13 November 2017
Tunggu, Aku Datang

Tunggu, Aku Datang


Kumpulan cerpen

Kategori Fiksi Umum

221 Hak Cipta Terlindungi
PROTES!

:Ahmad Sholeh

11 November 1998, suasana Jakarta begitu mencekam. Kondisi politik pemerintahan karut-marut sisa-sisa rezim Orde Baru yang baru tumbang beberapa bulan lalu. Aku dan teman-temanku, mahasiswa dari penjuru Jakarta yang peduli pada nasib negeri ini terus mengkaji. Semenjak turunnya Soeharto dari kursi presiden, nyatanya negeri ini tak banyak berubah. Habibie, si anak emas yang jadi tumbal piciknya kekuasaan politik waktu itu pun mau tak mau menerima segala tulah yang diperbuat si jenderal tua dengan senyum bengisnya itu.


Sidang istimewa rencananya digelar pemerintah transisi waktu itu. Katanya, guna merumuskan agenda pemerintahan dan juga pemilihan umum. Aku, mahasiswa, dan masyarakat tak henti menyuarakan protes. Pamflet-pamflet penolakan, tulisan-tulisan, dan berbagai ekspresi lainnya pun bertebaran. Diskusi hingga aksi demonstrasi pun kami lakoni untuk menyatakan keberatan atas susunan pemerintah transisi yang notabene berisi antek-antek Soeharto itu. “Apa bedanya dengan rezim Orde Baru?!” kata Togar, kawanku yang cukup gencar mengkritisi pemerintah.
Dia pulalah yang mengajak aku dan lainnya untuk melek dan melihat realita politik yang terjadi. Jujur saja, aku tak begitu mengerti dengan situasi politik bangsa ini. Bagiku itu terlalu rumit. Yang ku tahu saat ini adalah bangsa kita sedang tidak baik-baik saja. Dan kita harus protes!
Protes untuk melawan. Itu kata si Sri, aktivis perempuan dari mahasiswa Trisakti. Mungkin dari ribuan massa aksi waktu itu, aku tak punya andil apa-apa selain bikin yelyel dan teatrikal kecil. Si Togar, temanku tadi, cukup aktif menggelar konsolidasi ke sana kemari. Tak jarang aku pun dibawanya. “Ah, Togar, kau ini yang tidak saja. Orang tak ngerti apa-apa macam aku ini kau bawa-bawa pula,” kataku, mengikuti logat Bataknya.
Togar bergeming saja kalau aku mengeluh. Tapi dia memang orang yang baik, peduli, dan kritis untuk urusan-urusan seperti ini. Tak ada buruknya berteman dengan dia. Dan Sri, ah itulah dia yang membuatku tak karu-karuan sepanjang waktu. Di antara ribuan massa aksi, sepertinya dia saja yang layak jadi primadona bagiku. Setiap kali aksi demo mahasiswa digelar, aku hanya menanti dia naik mimbar untuk orasi atau membaca sajak perlawanan.
Saat itu, situasi Jakarta gaduh sekali. Kampus-kampus dijaga ketat. Bahkan aku sempat mendegar bahwa pimpinan-pimpinan kampusku ditekan habis oleh aparat. “Jangan sampai ada aksi demo mahasiswa!” pertuah jenderal itu rupanya berhasil mengendalikan para elite kampus. Alhasil, mahasiswa dibatasi ruang geraknya.
Ya, mereka belum tahu saja, mahasiswa ini lebih cerdik dari para profesor, kata si Togar dalam suatu kesempatan diskusi ringan di kantin. Kampus lebih sering libur. Terutama saat ada momen-momen seperti sekarang ini. Saat pemerintah menggelar sidang istimewa.
“Gar, kapan kita turun aksi? Kangen aku lihat Sri orasi,” kataku.
“Ah, kau. Sri lagi, Sri terus, Sri saja yang kau tanyakan. Bagaimana bangsa ini mau maju kalau otakmu itu isinya cuma Sri,” timpalnya ketus.
“Ah ya sudahlah. Aku buat yelyel saja,” jawabku singkat sambil meninggalkan kursi kantin.
Aku bersama sekelompok mahasiswa lainnya berkumpul di salah satu sudut kampus. Aku membagi tim menjadi dua. Yang satu untuk tim yelyel yang satu untuk teatrikal. Ah, jelas saja ini pentas besar bagi mahasiswa pecinta seni macam kami. Kata teori, seni itu tidak boleh terlepas dari persoalan yang ada. Inilah praktiknya! Seni untuk protes.
“Hentikan, hentikan, KKN. KKN, KKN, warisan Orba! Hentikan, hentikan, dwifungsi ABRI. ABRI, ABRI, cuma alat pemerintah!” itulah yelyel yang dibuat oleh Ujo dan Ciwul, ya itu nama samara mereka. Aslinya aku tak begitu hapal. Itu salah satu kelemahanku, menghapal nama orang. Kecuali Sri.
Sementara tim teratrikal sedang merumuskan adegan-adegan tragis tentang rakyat yang ditindas penguasa. Sembari diselipi pembaca sajak yang menurutku cukup keras.
Sore itu kamu habiskan untuk mempersiapkan agenda besok pagi. Hingga larut bahkan kampus masih ramai. Kebanyakan dari para aktivis mahasiswa memang memilih bermalam di kampus, bahkan tak sedikit yang susah tidur.
Besoknya, skema besar penyerbuan gedung DPR/MPR pun dilaksanakan. Tak kusangka ternyata bukan cuma mahasiswa yang turun aksi. Tak sedikit juga masyarakat biasa yag turut hadir bersatu dengan mahasiswa.
Target hari itu adalah bisa menembus gedung DPR/MPR. Massa aksi mengepung dari tiga arah; Semanggi, Slipi, dan Kuningan. Tapi ternyata penjagaan aparat begitu ketat. Aku melihat mereka bersenjata lengkap. Bahkan ada tank lapis baja berderet. Ya, TNI, Brimob, dan Pamswakarsa menjaga ketat para elite pemerintah yang sedang siding istimewa di dalam sana.
Massa masih bertahan hingga malam. Sampai akhirnya aku mendengar suara riuh di depan. Sementara aku yang berada di tengah kerumunan massa hanya bisa ikut panik. Bentrok tak terelakkan. Beberapa kawanku menjadi korban kebrutalan aparat. Kami pun membawa mereka yang mejadi korban bentrok ke rumah sakit.
“Sri, apa kau baik-baik saja?” pikirku. Betul sekali, di otakku cuma ada Sri, tentang bagaimana keadaannya saat ini, apa dia juga terlibat bentrok atau tidak, apa dia selamat atau tidak. Ah, sial. Tak karuan aku dibuatnya.
Aksi belum selesai. Sebagian korban dilarikan ke rumah sakit. Termasuk ada di antaranya tim yelyel dan teatrikalku. Sebagian lagi diamankan di kampus kami. Kampus kami menjadi titik kumpul massa. Sampai malam itu berakhir dan disepakati dilanjutkan esok hari.
13 November 1998, kampus kami sudah riuh oleh massa. Padahal masih begitu pagi. Terlampau Subuh untuk aktivitas seperti biasa. Masih gelap, dingin pun masih menyergap tubuh. Aku belum ketemu lagi denga Togar sejak kemarin. Tapi kuyakin dia baik-baik saja.
“Hai, Man!” suara Togar memanggilku, aku pun menoleh ke arah suara. Ah, rupanya Togar baik-baik saja.
“Kau baik-baik saja Man?” tanyanya. Aku pun mengangkat kedua tanganku seperti seorang binaraga sedang memamerkan otot legannya. Aku baik saja, itu yang mau kukatakan pada Togar. Dan dia sendiri pun kulihat baik-baik saja. Meski bajunya sudah empat hari kulihat tak ganti. Lusuh. Sama sepertiku.
“Ini pakai,” dia memberikan ikat kepala berwarna merah putih padaku. Itulah salah satu yang menjadi simbol perjuangan kami. Ini harus kita selesaikan, katanya. Aku ikut saja, selagi masyarakat dan para mahasiswa masih sanggup berjuang.
Kondisi pagi itu Jalan Jend Sudirman sudah dikepung kendaraan lapis baja dan aparat bersenjata. Aku tak menyangka sampai sejauh ini. Dan perjuangan ini memang berat. Ah, seandainya nanti peluru itu menembur kepala atau dada kiriku, aku ingin Sri bisa melihat jasadku. Ya, jasad seorang pahlawan yang mati di medan perang. Tapi aku lebih senang bisa tetap hidup dan bisa melihat Sri lagi.
Di tengah suasana mencekam itu. Massa memulai aksi demonstrasinya. Ribuan massa dari mahasiswa dan masyarakat yang membanjiri jalanan itu. Aku dan ribuan massa aksi tumpah di jalan menyorakkan yelyel, meyanyikan lagu perjuangan, dan lainnya. Sesekali ada juga provokator yang kulihat menyusup ke dalam untuk membuat rusuh suasana.
“Hentikan dwifungsi ABRI! Lenyapkan warisan Orba!” teriak orator disambut suara massa.
Suasana macam itu sulit untuk dilupakan. Apalagi itu terjadi saat di depan mata ada moncong senjata yang kapan saja bisa menyemburkan kekejamannya.
Hingga sore hari, aksi demonstrasi masih berlanjut. Melihat hal itu aparat berang dan mulai membubarkan paksa massa. Aku lihat jelas pemicunya adalah lemparan botol dari arah massa. Entah siapa yang melakukannya. Aparat pun membalas melemparkan benda apa saja.
Akibat pemicu itu dia kubu aparat dan massa terlibat aksi saling lempar, bak bocah SMA sedang tawuran. tapi massa tetap solid. Belum membubarkan diri. Hingga akhirnya aparat mengeluarkan tembakan, menyasarkan pelurunya secara membabi buta. Para tentara itu terlihat begitu bengis.
Massa pun berhamburan. Sebagian berjatuhan. Tertembak. Luka-luka. Sebagian lagi meninggal tanpa sempat dilarikan ke rumah sakit.
Beruntunglah aku tidak termasuk korban. Aku berhasil menyelamatkan seorang kawan yang terluka tembak di kaki. Aku membawanya ke kampus. Karena itulah satu-satunya tempat perlindungan darurat kami.
Aksi yang melelahkan. Aku mendengar sorak-sorai para tentara yang merasa girang. Merasa menang. Bahkan 17 nyawa yang melayang itu bagi mereka adalah tada kemenangan. Betapa moncong senjata itu begitu mudah menembus kepala dan dada para korban.
Esok harinya aku penasaran dan khawatir apakah Sri termasuk dalam 17 daftar nama itu. Aku bersyukur karena tidak ada namanya. Berarti dia baik-baik saja. Mudah-mudahan begitu. Jadi aku bisa melihatnya lagi. Tapi, kupikir lagi bagaimana bisa. Aku lihat lagi daftar korban meninggal, ada namaku di situ. TAMAT.

  • view 93