FENOMENA TERORISME MODEL BARU DAN KAITANNYA DENGAN ISLAM

Kurniall Zulhandayani Rizki
Karya Kurniall Zulhandayani Rizki Kategori Lainnya
dipublikasikan 21 Juli 2017
FENOMENA TERORISME MODEL BARU DAN KAITANNYA DENGAN ISLAM

 
Oleh : Urwatil w.
Kata terorisme sudah tidak asing lagi ditelinga kita belakangan ini. Jika mendengar kata terorisme, teroris, terror, atau sejenisnya, tidak dapat dipungkiri mengenai streotipe bahwa aksi terror adalah dilakukan oleh suatu kelompok yang berlandaskan suatu agama tertentu. Dua dekade belakangan ini, isu terorisme sedang gencar diperbincangkan oleh para pemimpin Negara di dunia terutama Negara Barat seperti Amerika Serikat (AS) dan Eropa pasca terjadinya tragedi 11 September 2001. Penyerangan terhadap beberapa target di New York dan Washington tersebut menewaskan ribuan warga sipil sekaligus merupakan sebuah mimpi buruk bagi AS. Kelompok Al-Qaeda yang awalnya menolak tuduhan AS atas serangan tersebut, akhirnya mengklaim bahwa mereka bertanggung jawab atasnya. Amerika Serikat dibawah kepemimpinan presiden George Bush mengambil tindakan cepat dan responsive dengan meluncurkan aksi perang melawan terror, mereka men-cap terorisme sebagai musuh yang universal terhadap semua bangsa. Kebijakan yang diambil pemerintah AS berdampak langsung secara global. Banyak Negara yang kemudian memperkuat undang-undang anti-terorisme mereka dan memperluas kekuatan penegak hukumnya. Kebijakan War On Terrorism tersebut dianggap menimbulkan kerugian bagi umat Islam. Pasalnya sejak itu stigma global terutama AS terhadap Islam bahwa agama ini sebagai ideology atau dasar pemikiran radikal dari kaum teroris. Upaya menaggulangi aksi ini dilakukan dengan menggunakan cara-cara kekerasan melalui kekuatan militer, dimana tidak ada kompromi untuk mencari jalan keluar.
Kata terroris dan terorisme berasal dari bahasa latin yaitu “terrere” yang berarti menggetarkan dan “deterrere” yang berarti takut. Pada awalnya terror merupakan suatu istilah yang digunakan untuk penggunaan kekerasan terhadap penduduk sipil untuk mencapai tujuan politik, dalam skala lebih kecil daripada perang. Istilah tersebut pertama muncul pada abad ke 18 di Perancis yang semula dipergunakan untuk menyebut tindakan pemerintah hasil Revolusi Perancis yang mempergunakan kekerasan secara brutal dan berlebihan dengan cara memenggal 40.000 orang yang dituduh melakukan kegiatan anti pemerintah.[1] Selanjutnya kata Terorisme dipergunakan untuk menyebut gerakan kekerasan anti pemerintah di Rusia. Dengan demikian, kata Terorisme sejak awal dipergunakan adalah untuk menyebut tindakan kekerasan oleh pemerintah maupun kegiatan yang anti pemerintah.
Jika dilihat dari perkembangannya, terorisme memunculkan dua perspektif yang berbeda. Pada awal kemunculannya hingga tahun 1968, terorisme digambarkan sebagai suatu gerakan yang mengancam keamanan negara dan menimbulkan rasa takut kepada masyarakat. Namun, pasca-1968 dan peristiwa 11 September 2001, radikalisme dilihat sebagai terorisme, sehingga tidak ada perbedaan antara keduanya.[2] Radikalisme yaitu paham atau aliran yang menghendaki pembaharuan sosial atau politik dengan cara keras dan drastis. Sayangnya, belakangan ini tepatnya semenjak muncul isu terorisme dan Islam, radikalisme ini sering dikaitkan dengan konsep Jihad. Kata Jihad di-identikkan dengan barisan orang-orang religius yang fanatik dengan janggut yang seram dan mata berapi-api, dengan mengacungkan pedang dan menyerang orang-orang kafir. Selama ratusan tahun makna Jihad telah dirusak dan setidaknya telah dibuat menyimpang. Salah satu hal penting yang diperlukan oleh dunia Islam saat ini adalah menghidupkan kembali dan merebut kembali makna sejati dari Jihad.
Ada beberapa hal yang perlu kita ketahui tentang konsep Jihad dalam Islam. Jihad dalam terminologi Islam berarti melakukan suatu upaya, berusaha dan berjuang dengan cara yang mulia. Jihad dapat dibagi menjadi dua kategori besar. Pertama adalah Jihad Akbar. Ini adalah Jihad melawan diri sendiri dalam mengekang kecenderungan dosa, yaitu dengan penyucian diri. Ini adalah jihad yang paling sulit, oleh karenanya dalam hal ganjaran dan berkatnya Jihad ini masuk ke dalam kategori Jihad tertinggi. Jihad yang kedua adalah Jihad Asghar. Ini adalah Jihad pedang. Ini adalah Jihad secara komunal dan berada dibawah syarat dan kondisi tertentu. Al-Qur’an menyatakan bahwa peperangan hanya dilakukan pada mereka yang menyerang Muslim terlebih dahulu dan syarat ini juga yang sangat ditekankan dalam ayat-ayat Al-Qur’an yang lain. Ayat yang disebut ayat pedang di dalam Al-Qur’an seringkali dipergunakan diluar konteks, seolah dikesankan sebagai pembantaian yang membabi buta kepada kaum kafir. Kata-kata Al-Qur’an seperti ‘bunuhlah’, dimanapun kalian menemukannya, hal itu hanya berlaku dalam kasus dimana musuh telah menyerang Muslim lebih dahulu dan berlaku kepada orang-orang kafir dan musuh-musuh yang telah melanggar suatu perjanjian yang sudah disepakati. Hal tersebut tidak berlaku untuk peperangan atau pertarungan tanpa sebab.[3] Sejatinya, terorisme modern sangat bertentangan dengan konsep Jihad yang sesungguhnya.
Dapat disimpulkan bahwa, sejatiya tidak ada satupun agama yang mengajarkan atau menghendaki kekerasan, terlebih Islam yang merupakan agama “Rahmatan Lil’alamin” yaitu rahmat bagi seluruh alam. Islam mengajarkan perdamaian dan kesatuan dalam kehidupan bermasyarakat. Yang kemudian keliru adalah persepsi dan stigma global tentang konsep jihad dalam agama Islam terutama yang datang dari dunia barat. Hal ini telah menyebabkan munculnya streotipe yang bisa dikatakan “buruk” dalam memandang umat Islam secara keseluruhan. Segala bentuk kebijakan dan tindakan yang diambil oleh Negara-negara di dunia dalam memerangi terorisme telah banyak merugikan umat Islam. Sehingga tak dapat kita pungkiri bahwa kesan atas fenomena yang terjadi saat ini bukan hanya “War on Terrorism” namun juga “War on Islam”.
 
 
[1] Muhammad Mustofa, Memahami Terorisme: Suatu Perspektif Kriminologi, Jurnal Kriminologi Indonesia FISIP UI, vol 2 no III (Desember 2002): 30
[2] Matondang, Erlinda. Penanganan isu terorisme dalam kebijakan pertahanan Indonesia pada tahun 2002-2015. Hal.02. Online dalam : https://www.academia.edu/28714944/PENANGANAN_ISU_TERORISME_DALAM_KEBIJAKAN_PERTAHANAN_INDONESIA_PADA_TAHUN_2002_2015_THE_HANDLING_OF_TERRORISM_ISSUE_IN_INDONESIAN_DEFENSE_POLICY_IN_2002_2015. diakses pada 10 juli 2017.
[3] Islam dan terorisme. Online dalam : http://ahmadiyah.id/pustaka/artikel/islam-dan-terorisme. diakses pada 10 juli 2017.

  • view 63