Opini : Wajah Baru Terorisme Dan Cara Menghadapinya Melalui Psikologi Agama.

Kurniall Zulhandayani Rizki
Karya Kurniall Zulhandayani Rizki Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 01 Mei 2017
Opini : Wajah Baru Terorisme Dan Cara Menghadapinya Melalui Psikologi Agama.

Terorisme memang sudah menjadi hal yang lama terjadi di dunia ini, namun tindakan ini semakin menguat dengan adanya kasus teror yang terjadi di Amerika Serikat yang disebut sebagai peristiwa World Trade Center (WTC) di New York pada tanggal 11 September 2001. Serangan teror yang dilakukan melalui udara tersebut mengakibatkan banyak korban jiwa yang berjatuhan serta menjadi truma bagi masyarakat pada waktu itu bahwa kejadian yang terjadi merupakan kejadian yang tidak mengedepankan sikap perikemanusiaan sesama mahluk hidup yang saling hidup berdampingan. Tindakan teror memang menjadi sesuatu yang menakutkan dunia, apapun caranya. Hingga sekarang, telah banyak terjadi kasus-kasus terror, tak terkecuali di negeri kita, Indonesia (Ade P. Marboen, 2016).
Kita mengambil beberapa contoh kasus terorisme yang pernah terjadi di Indonesia, misalnya; 12 Oktober 2002: Bom meledak di Paddy’s Cafe dan Sari Club, dua restoran di Jalan Legian, Kuta, Denpasar, Bali. Teror ini terkenal dengan tragedi Bom Bali I. Kemudian pada 5 Agusutus 2003: Bom meledak di Hotel JW Marriot, Jakarta. 1 Oktober 2005: Bom meledak di Kuta Bali. Bom meledak di tiga tempat: Kafe Nyoman, Kafe Menega, dan Restoran Raja’s di Kuta Square, Denpasar. Tragedi ini kerap disebut Bom Bali II (Ade P. Marboen, 2016). Kemudian dari beberapa kasus tersebut mulai muncul terorisme yang mulai lekat dikaitkan dengan agama. Sehingga agama menjadi wajah utama penyebab terjadinya terorisme. Adapun agama yang sering disebutkan yakni agama Islam.
Lalu sebenarnya bagaimana sejarah terorisme yang sebenarnya? Bagimana dengan anggapan terorisme dengan yang selalu dikaitkan dengan agama terutama agama islam. Adapun menurut C. Manullang: Terorisme adalah suatu cara untuk merebut kekuasaan dari kelompok lain, dipicu oleh banyak hal, seperti; pertentangan (pemahaman) agama, ideologi dan etnis, kesenjangan ekonomi, serta tersumbatnya komunikasi masyarakat dengan pemerintah, atau karena adanya paham separatisme dan ideologi fanatisme, yang target atau tujuannya ialah untuk mempengaruhi pemerintah atau organisasi internasional, publik atau bagian tertentu dari publik (Admin, 2017).
Kemudian, Abdul Qadir Djaelani juga menyebutkan bahwa akbsi terorisme sudah berlangsung sejak era Yunani Kuno. Sejarawan Yunani, Xenophon (430-349 SM), pernah mengulas tentang manfaat dan efektivitas perang urat syaraf untuk menakut-nakuti musuh. Tetapi sulit diketahui, kapan aksi teror mulai dilakukan. Ada yang berpendapat, aksi teror seusia dengan sejarah peradaban manusia sendiri. Bahaya terorisme pun berkembang semakin kompleks seiring dengan kemajuan peradaban dan teknologi. Adapun sejarah teroris dan terorisme secara kronologis populer sejak revolusi Perancis. Sistem atau rezim de la terreur pada 1793-1794 dimaknai sebagai cara memulihkan tatanan saat periode kekacauan dan pergolakan anarkis setelah peristiwa pemberontakan rakyat pada 1789. Jadi rezim teror ketika itu adalah instrumen kepemerintahan dari negara revolusioner (Admin, 2017).
Hal ini berlanjut sejak deklarasi Rosbespierre pada tahun 1794 ini nyaris sejiwa dengan komunike kelompok-kelompok seperti Brigade Merah Italia dan Faksi Tentara Merah Jerman : “ We want an order of things … in which the arts are an abdoment to the liberty that ennoblas them, and commerce the source of wealth for the public and not of onstrous apulence for a few families … In our country we desire morality instead of selfishmess, honesty and not mere “horror”, principle and not mere custom, duty and not mere propriety, the sway of reason rather than the tyrany of fashion, a scorn for vice and not a contempt for the unfortunate” (Admin, 2017).
Lalu munculnya wacana nasionalisme dan kenegaraan (statehood) serta kewarganegaraan (citizenship) melahirkan negara-negara (nation state) baru seperti Jerman dan Italia. Sementara itu, perubahan sosial ekonomi akibat revolusi industri juga menciptakan ideologi-ideologi “universalis” baru seperti Marxisme dan komunisme (Admin, 2017). Adapun kemudian saat ini agama menjadi faktor utama terjadinya terorisme, yang mana agama menjadi wajah baru terorisme saat ini.
Adapun atas dasar tersebut mulailah muncul alasan mengapa aksi teror atau terorisme itu ada yakni faktor kultural yang menurut Fadli, masih banyak ditemukan orang memiliki pemahaman yang sempit dalam menterjemahkan nilai-nilai agama yang berkembang di tengah masyarakat. Akibatnya, pelaku dapat dipengaruhi mengikuti pemberi pengaruh untuk melakukan Terorisme (Admin, 2017)
Lalu bagaimana menyikapi tindak terorisme tersebut. Secara umum terorisme dapat dihadapi dengan Pertama, dengan Pendekatan Keamanan (hukum) yaitu menggunakan hukuman penjara yang telah disepakati dalam undang-undang, Kedua, Pendekatan Perilaku (disengagement) yaitu dipisahkan dengan kelompok dan dilakukan pendidikan di tempat penjara digabung dengan kelompok tahanan lain (tetapi kadang penjara juga menjadi tempat rekrutmen), Ketiga, Pendekatan Ekonomi, yaitu diberi bantuan ekonomi, didalam lapas juga dibantu secara ekonomi. Keempat, adalah Pendekatan Sosial, yaitu melalui relasi sosial, keluarga, masyarakat, pergaulan (lapas juga ada program asimilasi), Kelima, Pendekatan deradikalisasi (counter-ideology, kognitif), yaitu dengan mengubah belief-nya (Shadiqi. M. Abdan, 2016).
Ada pendapat menarik dari Dr. Fidiansyah yang merupakan Seksi Religi, Spiritualitas dan Psikiatri dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kejiwaan Indonesia (PDSKJI), yaitu kelompok yang memang menghubungkan apa yang Einstein sejak dahulu kala mengatakan, “ilmu tanpa agama adalah suatu hal yang bisa membutakan, tapi agama tanpa ilmu bisa lumpuh” (Fidiansyah, 2016). Maka aspek belief yang merupakan hal tersulit untuk di ubah kembali ke dalam pemikiran dan sikap yang jauh lebih normal (yang nanti pemikiran atau kognisi yang benar juga akan berpengaruh terhadap perilakunya) harus di counter dan dikembalikan dengan pemahaman agama yang benar, selain menggunakan lima pendekatan yang terdiri dari; hukum, perilaku, ekonomi, social, dan deradikalisasi, juga dilakukan terapi dengan psikologi agama (Admin, 2016).
By : Kurnia Zulhandayani Rizki.
 
Referensi :
Ade P. Marboen, 2016 http://www.antaranews.com/berita/539920/ringkasan-teror-bom-di-indonesia http://www.loc.gov/rr/frd/pdf-files/Soc_Psych_of_Terrorism.pdf diakses 27 April 2017
Shadiqi. M. Abdan, Mengupas Radikalisme dan Terorisme dari Sudut Pandang Psikologi, disampaikan dalam Diskusi Sosial ILMPI Wilayah 3 pada 20 Agustus 2016, diakses 27 April 2017
Fidiansyah, dalam acara program Lawyers Club di Tv One tanggal (16/2/2016), diakses di https://www.youtube.com/watch?v=AXB_VpMP_rM pada 26 Agustus 2016, diakses 27 April 2017
Admin, https://damailahindonesiaku.com/terorisme/penegertian-terorisme Diakses pada tanggal 27 April 2017
Admin, http://www.definisi-pengertian.com/2015/05/definisi-pengertian-terorisme-sejarah-global.html Diakses pada tanggal 27 April 2017
Admin, http://www.hukumonline.com/berita/ Diakses pada tanggal 27 April 2017
Admin, 2016. http://wilayah3.ilmpi.org/2016/09/03/terorisme-dalam-bingkai-psikologi/ Diakses pada tanggal 27 April 2017

  • view 150