Dilema Guru

31
Karya 31  Kategori Inspiratif
dipublikasikan 18 Maret 2016
Dilema Guru

Hari ini wajah pak ujang terlihat lesu dan pucat pasi, apakah pak ujang tidak sempat sarapan? Karena harus buru buru berangkat kesekolah untuk mengajar?hmm ternyata tidak, pak ujang terduduk lemas dengan jantung yang masih belum beraturan debarannya. Ya. Pak ujang baru di semprot? oleh salah seorang wali murid dikelasnya, ia di bentak dan dimarahi didepan murid muridnya, karena apa? Dia dianggap kejam karena telah menghukum anak dari wali murid tadi. Apakah hukuman yang diberikan pak ujang dan apa sebabnya? Pak ujang menghukum anak muridnya yang tidak mengerjakan PR dirumah dan hukumannya dengan menyelesaikan PR atau tugas rumah tadi di luar kelas sambil berdiri. Lalu apa alasan wali murid marah? Karena pak ujang dianggap tidak mendidik, seharusnya anak tidak boleh dihukum dengan cara memalukan seperti itu, karena anaknya malu diejek teman temannya.

Apakah kejadian yang dialami pak ujang itu pernah terjadi di sekolah? Coba saja di survey sendiri ke sekolah sekolah yang ada disekitar kita, beberapa waktu yang lalu seorang ibu guru di Taman Kanak kanak (TK) dekat rumah saya juga mengalami hal yang tak jauh berbeda, seorang ayah dari anak muridnya datang dengan sangat emosi, ibu guru langsung dimarahi didepan sekolah, di depan anak murid TK dan para orang tua lainnya, alasannya karena anaknya sampai saat itu belum juga bisa membaca. Kalau masalah ibu guru ini sudah banyak dibahas oleh para pakar pendidikan anak seperti Ayah Edi dan yang lain, karena usia TK sebenarnya adalah usia anak belajar sambil bermain, walaupun banyak tuntutan masuk Sekolah Dasar (SD) yang harus sudah bisa membaca dan berhitung.

Dilihat dari kelakuan para wali murid diatas menunjukkan sifat yang arogan, tidak mampukah kita menghargai guru? Atau setidaknya memberikan masukan atau protes dengan cara yang bijak, sampaikan dengan baik dan tidak didepan para murid, bagaimanapun posisi guru adalah orang yang semestinya dihormati oleh para murid muridnya.?

Pembeli adalah raja, istilah itu tepat sekali untuk memotivasi para penjual agar mampu melayani pembeli dengan sebaik baiknya, tapi tidak tepat jika di posisikan pada kondisi wali murid dan guru karena wali murid bukanlah pembeli jasa guru sehingga tidak perlu merasa dilayani dan merasa berhak untuk semena mena pada guru, guru adalah manusia biasa juga banyak kesalahan, bahkan ada oknum oknum guru yang melakukan hal yang tidak benar secara hukum. Tapi wali murid atau orang tua murid juga tidak bisa semena mena pada guru. Intinya sampaikan protes atau keluhan dengan cara yang bijaksana.

Ada suatu fenomena dimana sekolah akhirnya sangat menjaga agar anak anak murid benar benar aman dari hukuman hukuman para guru, untuk meyakinkan orangtua bahwa anaknya akan nyaman bersekolah di sekolah tersebut. Dan pada akhirnya malah sebagian orang tua mulai khawatir anaknya tidak paham mana yang boleh dan mana yang tidak boleh, karena guru mulai dilema, di satu sisi dia ingin menerapkan disiplin pada murid, disisi lain ia akan ditegor sekolah tempatnya bekerja, dan terkesanlah anak anak murid tanpa diperdulikan, terkesan dibiarkan saja, untuk anak yang mudah diingatkan tentu ini baik karena dengan dilirik saja mungkin anak yang melakukan kesalahan akan menyadarinya, tapi tidak sedikit anak yang harus diajarkan dengan hukuman, hukuman yang baik juga banyak seperti kalau melakukan kesalahan ini kamu harus membaca buku ini satu bab atau hukuman menuliskan maaf di papan tulis.

Guru, sungguh jasamu tiada tara.. masih banyak guru yang sangat perduli dengan pendidikan anak anak bangsa ini, mari kita menghargai perjuangannya mencerdaskan anak anak kita karena kita sendiri belum tentu mampu melakukannya.

?

*nasehat untuk kita semua terutama diri sendiri

*gambar diambil dari google

  • view 213