Diary drin #1

31
Karya 31  Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 26 Februari 2016
Diary drin #1

#1. TTTM

Aku Drin disini, diruang kamar yang suntuk karena berantakan, huuft.. pakaian yang belum disetrika dimana mana, mengisi tiap sudut ruangan kamarku. Pemalas..itu yang selalu ibu sebutkan untukku. Ah sudah biasa ibu kalau kerjaan ngomel ngomel setiap hari bisa tiga kali dalam sehari, seperti minum obat yang buat aku tidak sembuh sembuh.

Kamu tahu? Aku punya teman lama namanya cici, aku suka gayanya sama cueknya dengan diriku, kami banyak persamaan lho.. kami sama sama suka makan bakso, kami sering saling bertukar cerita ternyata dia benar benar seperti aku, dari gayanya berpakaian dan sampai gayanya bercanda, aku suka gayanya.

Cici selalu membuat aku rindu, membuat aku semangat untuk segera ke kampus dan bertemu dengannya, aku orang yang suka bercanda, selalu bercanda tidak perduli apakah itu di ruang perkuliahan ataupun dijalan, dan cici sering menjadi sasaran canda ku, aku suka cubit cubit dia dijalan sekedar bercanda.

Tapi entah kenapa selang beberapa waktu aku merasa cici mulai menjauhiku, aku tak mengerti. Ketika aku menghampirinya, dia hanya tersenyum sedikit seperti orang yang sedang berhemat saja, hemat senyum. Selidik demi selidik menurut perkiraanku dia mulai takut berteman denganku, ya.. selain karena aku bertaring hehe.. aku juga tidak feminim, ya ..aku tomboy secara kelakuan, aku akui itu. Aku tidak sepenuhnya berpakaian seperti pria tapi kelakuanku sehari hari jauh dari gaya wanita, tapi hey..aku tidak pernah mengakui dan mengharapkan jadi pria apalagi setengahnya.

Aku mencoba memahami kalau kau takut denganku, aku pun takut menghadapi diriku kalau aku terlalu dekat denganmu, ya.. aku juga takut kalau prasangka mu akan membuat aku benar benar mesra denganmu, aku mencoba memahami saja bahwa aku bukan wanita seperti itu dan mudah mudahan tuhan masih sayang kepadaku sehingga apa yang diinginkanNya dengan menciptakanku menjadi jenis ini akan mematikanku dengan masih pada jenis yang ini juga, wanita.

Walau kita bersahabat, kita punya batasan juga karena tuhan kita sudah mengajarkan kita jarak bagi sesama jenis dan lawan jenis.?

Cici, terimakasih atas ketakutanmu kepadaku karena aku pun hampir lupa bahwa aku harus berusaha menjadi apa yang aku inginkan bukan memperturutkan kondisi yang biasa tubuhku lakukan, terimakasih untuk tetap menjadi sahabatku dan menyadarkanku dengan caramu, karena aku mungkin akan tersinggung jika kau mengingatkan ku dengan kata kata. Terimakasih teman, kau masih teman yang hebat dalam hidupku, Teman Tapi Tak Mesra.

  • view 70