Perjalanan Edelweiss ( Drosera 1 )

31
Karya 31  Kategori Project
dipublikasikan 23 Januari 2017
Kumpulan Dongeng

Kumpulan Dongeng


Beberapa dongeng dengan cerita yang sedikit mustahil ada, tapi setiap cerita akan mengandung hikmah untuk dipetik. Yuk diintip..cocok untuk anak dan dewasa.

Kategori Fantasi

1.3 K
Perjalanan Edelweiss (  Drosera 1 )

“Kuharap Kau benar-benar yakin kita akan bisa melalui desa ini dengan aman”

“Aku yakin, setidaknya salah satu dari kita harus selamat”

 Lady berbisik meyakinkan Elwie setelah beberapa menit mereka melewati gerbang Desa Drosera yang terkenal penuh konflik, mereka tak kesulitan untuk masuk Desa demi Desa manapun karena Lady mampu meyakinkan para penjaga gerbang tentang perjalanannya, meskipun awalnya Ia ragu karena ini pertama kalinya Ia masuk ke Desa Drosera tapi ternyata masuk ke Desa itu tak sesulit yang dibayangkannya.

Desa Drosera terlihat suram meski hari begitu cerah dibawah terik matahari yang berangsur meredup menuju senja, langkah ke tiga pasang kaki ini seolah sangat berhati-hati, berjalan dengan tenang namun mata mereka tetap awas melihat kekiri dan kekanan. Dalam benak Elwie akan ada banyak hal yang mungkin saja dengan wajar menghilangkan nyawa mereka karena Desa ini terkenal dengan sangat mudahnya nyawa melayang setiap waktu. Suasana sepi, jalanan yang becek dengan air lumpur yang tergenang disana sini hingga memakan badan jalan yang mereka lewati.

“Kita harus mencari tempat menginap, hari akan gelap” ajak Lady sesaat kemudian.

Merekapun mencoba memperhatikan rumah-rumah disekeliling mereka, sepertinya ada sebuah bangunan dipinggir jalan yang terlihat seperti rumah persinggahan karena ada beberapa orang memarkirkan kereta kuda dan membawa tas-tas pakaian mereka masuk ke rumah itu, Lady pun segera mengarahkan langkahnya kesana diikuti oleh Elwie dan Yasmin.

***

“Sebaiknya kita tidur sekarang…besok pagi-pagi sekali kita harus melanjutkan perjalanan dan segera keluar dari Desa yang seram ini menuju satu Desa terakhir dan setelah itu kurasa perjalanan kita akan selesai” Lady menutup pembicaraan malam ini dengan sebuah tekad dan rencana dari perjalanan selanjutnya.

“Ahh..iya akupun sudah lelah, persediaan barang-barang berharga yang bisa kita tukarkan untuk kebutuhan kitapun sudah mulai menipis, meskipun sampai detik ini aku tak pernah paham apa sebenarnya tujuan akhir perjalanan ini, tapi aku tak peduli, yang penting sekarang kita tidur saja dulu. Ada apa denganmu Yasmin? Kau tampak tak tenang, kau teringat Desamu ya?”

Elwie sedikit heran melihat Yasmin yang pendiam itu selalu gelisah, matanya terus saja melihat kearah yang tak menentu.

“Aku merasa akan ada sesuatu, angin dingin dari luar ini…aku mendengar suara dari kejauhan melalui angin ini”

Yasmin membuka jendela kamar penginapan mereka, angin semilir yang dingin berhembus lembut menerpa wajahnya. Tiba-tiba Yasmin berbalik badan dan mendekat kearah Elwie.

“Mereka akan membunuh lagi, ayo kak..Kita harus menolong orang itu”

Mata Yasmin membesar seolah begitu yakin dengan apa yang baru ia dengar dari bisikan angin.

“Siapa? Mereka siapa? Dan siapa yang harus kita tolong?”

Elwie semakin tak mengerti sambil menatap Yasmin yang semakin tegang, sementara Lady duduk di sudut ruangan memperhatikan mereka berdua, wajahnya tak menunjukkan kepanikan tapi ia merasa mungkin Yasmin benar.

“Ayo..” Dengan sigap Lady mengambil perbekalan mereka dan bersiap keluar kamar, Elwie pun segera mengikuti langkah Lady begitu juga Yasmin yang semakin kuat memegang lengan Elwie.

“Lady, apa yang akan kita lakukan? Kau percaya akan ada yang terbunuh malam ini? Aku tak mendengar apapun..Apa kita bisa menolongnya?” Elwie berusaha bertanya diantara langkah kaki mereka yang terburu-buru.

“Yang aku tahu, kita punya tujuan, dan aku tak mau tujuan kita itu terganggu oleh apapun, aku akan mencapai tujuan kita dan bila kita tetap berada di Desa tak aman ini aku tak yakin kalau kita akan sampai ke tujuan kita itu, lebih baik kita tak usah membuang waktu.”

“Maksudmu meskipun akan ada yang terbunuh malam ini, kita tidak akan peduli? Manusia macam apa …….” Belum selesai Elwie dengan kalimatnya tiba-tiba terdengar suara mendekat di pertengahan Desa itu tepat di depan rumah persinggahan yang mereka singgahi.

“Toloooong!!!...Aku mau dibawa kemana..Lepaska…” suara itu seperti berhenti begitu saja seolah mulutnya sedang dibekap sesuatu, suasana gelap tanpa cahaya di jalan itu membuat mata mereka tak mampu melihat dengan jelas sekelebat bayangan kereta kuda yang berlari dengan cepat.

Orang-orang yang menginap di rumah persinggahan itupun ikut keluar dan kebingungan, terlihat beberapa warga yang berlarian ke jalan sepertinya mengejar kereta kuda tadi, mereka tampak beda, sepertinya postur tubuh mereka lebih kecil dari warga yang biasa tampak di Desa ini.

Elwie pun berusaha berlari menuju warga yang berlarian itu, ia tak sabar ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi namun Lady dengan cepat memegang lengan Elwie dan menahan Elwie untuk kesana.

“Jangan…Ini buka urusan kita, ingat apapun yang terjadi di Desa ini sudah terjadi sejak bertahun-tahun yang lalu dan tak ada siapapun yang mampu mencegahnya, warganya saja tidak bisa apalagi kita, aku tak mau terjadi apapun dalam perjalanan kita Elwie”

 Wajah Elwie kini tampak marah, ia tak menyangka kalimat itu keluar dari mulut Lady yang sudah ia percaya dan sudah ia anggap sebagai orang yang baik.

“Lepaskan tanganku!!..Lanjutkan saja perjalananmu, karena bagiku aku harus cari tahu apa yang terjadi meskipun aku tak bisa membantu banyak, aku tak mau menambah rasa bersalahku seperti rasa bersalahku tak bisa membantu Rosa dalam perang Desanya..” Elwie pun melepaskan genggaman Lady dan berlari mengejar rombongan warga berpostur kecil itu, begitu juga dengan Yasmin yang tetap mengikuti Elwie.

Darah pemberani itu jelas mengallir dalam tubuhmu

Lady membatin sendiri melihat Elwie yang ternyata juga keras kepala persis seperti dirinya, dan kali ini Lady harus mengalah untuk ikut berlari mengejar Elwie, dia yakin bahwa Elwie harus tetap dilindungi dari bahaya apapun dan Lady akan tetap menjadi bayangan Elwie kemanapun ia pergi.

***

“Apa yang terjadi?..siapa mereka?”

Dengan nafas terengah-engah, Elwie berusaha bertanya pada seorang pria yang masih juga berlari mengejar di antara warga yang lainnya, pria itu hanya menoleh dengan mata yang berkaca-kaca namun ia tak menjawab pertanyaan Elwie. Elwie pun berlari lebih cepat dan berusaha bertanya pada seorang wanita diantara rombongan warga itu, wanita yang berulang kali jatuh dan kembali berlari sambil menangis tersedu-sedu, dan ia hanya bisa menangis tanpa mampu menjawab pertanyaan Elwie. Elwie semakin bingung harus bertanya pada siapa, ia berusaha bertanya pada siapa saja yang dijumpainya namun mereka tak juga mau menjawabnya, ini aneh, mereka yang rata-rata memiliki tinggi badan setengah darinya terlihat sedih  juga tampak wajah yang penuh ketakutan.

Tiba-tiba rombongan warga itu berhenti berlari, seseorang telah menghentikan rombongan itu dari depan barisan..

“Ada apa ini, katakan apa yang terjadi sebenarnya!”

  • view 111