Pesan Ibu Lewat Palupi

31
Karya 31  Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 22 Desember 2016
Pesan Ibu Lewat Palupi

“Apa Jang Kau Tjari, Palupi?” pernah dengar atau baca kalimat itu? Itu adalah judul film yang tayang sekitar tahun 1969, berdurasi 127 menit,  sutrada Asrul Sani. Saya sendiri belum lahir tahun itu, tapi kalimat judul tersebut sangat sering saya dengar, Ibu saya seringkali mengucapkan itu. Setiap kami, anak-anaknya mulai banyak tingkah dan menuntut ini dan itu, bahkan meminta sesuatu yang mungkin takkan terbeli, maka Ibu akan mengucapkan kalimat “Apa yang kau cari Palupi?”, mendengar kalimat itu, kami sudah mengerti atau mencoba untuk mengerti bahwa apa yang kami inginkan itu tak selalu akan berguna bagi kami, hanya sebuah keinginan yang semu dan tak bermanfaat. Cukup kalimat dari judul film itu saja, kami sudah mulai memutar otak sendiri membayangkan bahwa diri kamu terkuasai oleh nafsu kekanak-kanakan.

Awalnya sih kalimat itu sering dijelaskan oleh Ibu, bahwa seseorang hanya ingin memenuhi keinginannya tapi tak pernah puas, mungkin seperti itulah makna yang ibu tangkap dari cerita film Apa Jang Kau Tjari, Palupi? ….

Sampai sekarang, setiap datang keinginan yang berlebihan atau setiap teringat akan kesalahan dan menimbulkan penyesalan yang dalam, diri ini akan teringat sosok Ibu yang selalu tanpa lelah mengingatkan banyak hal dalam hidup kami, dan akan selalu terngiang kalimat itu “Apa yang kau cari, Palupi”

Hari ini, begitu besar keinginan saya untuk berbagi kepada kita semua bahwa ada kalanya keinginan kita yang menggebu-gebu itu hanyalah fatamorgana, semu, dan akan menyisakan penyesalan suatu saat nanti. Sebelum itu terjadi, mungkin tak ada salahnya kita bertanya pada diri kita sendiri “Apa yang kau cari, Palupi” seolah kita adalah Palupi.

Sekilas tentang Palupi;

 Aduh, gelap betul di sini,” keluh Palupi. “Ya. Dalam dunia angan-angan [film], yang terang bisa kelihatan gelap,” jawab Chalil. Percakapan ini berlangsung di sebuah ruang kosong yang tampak kusam ketika Palupi masuk ke dalam bingkai melalui lorong. Setelah itu, Chalil pun bertanya, “Apa yang kau cari, Palupi?” “Aku ingin ‘hidup’,” jawab Palupi. 

Dalam cerita, Palupi menjadi isteri dari Haidar, seorang penulis yang juga sutradara teater. Palupi masuk ke dunia film melalui Chalil, kawan dari Haidar. Sebelum ia memasuki dunia itu, Chalil sempat bertanya kepada Haidar apakah dia mencintai istrinya atau tidak. Chalil seakan ingin ‘memperingatkan’ Haidar akan permintaan isterinya itu yang akan mengubah diri Palupi dan juga kehidupan keluarganya.

Perjalanan hidup Palupi mengajak kita untuk menjejalahi antara dunia nyata dan dunia fantasi–yang dibentuk oleh dunia film. Bagaimana tokoh Palupi kemudian terjerumus dan tidak dapat membedakannya, mana ‘hidup’ dalam dunia nyata, dan mana ‘hidup’ di dalam fantasi.

Film ini mendapatkan penghargaan sebagai film terbaik pada Festival Film Asia 1970 yang diadakan di Jakarta. Film ini merupakan satu dari empat film yang dibuat Dewan Produksi Film Nasional sebelum akhirnya lembaga ini dibubarkan setahun setelah berdiri
(1968-1969). ( Oleh Misbar-Kineforum.Org )

  

  • view 182