Perjalanan Edelweiss ( Jasminum Sambac )

31
Karya 31  Kategori Project
dipublikasikan 21 Desember 2016
Kumpulan Dongeng

Kumpulan Dongeng


Beberapa dongeng dengan cerita yang sedikit mustahil ada, tapi setiap cerita akan mengandung hikmah untuk dipetik. Yuk diintip..cocok untuk anak dan dewasa.

Kategori Fantasi

1.3 K
Perjalanan Edelweiss ( Jasminum Sambac )

“Kira-kira sampai berapa lama lagi kau akan tidur di bawah pohon ini, semenjak tadi aku membangunkanmu dari nada suara yang kecil hingga suara keras pun kau tak terjaga..hmm mungkin air ini bisa mempercepat sadarmu” 

Semenjak bangun dari tidurnya, Lady terus saja mengomel melihat Elwie yang tidur tak beralas di bawah pohon rindang, sementara dia sendiri berada di gerobak kayu, Lady sangat bingung dengan apa yang telah terjadi, rasa penasaran yang begitu dalam ingin diselesaikannya dengan bertanya segalanya pada Elwie, namun Elwie tak sanggup bangun walaupun sudah berkali-kali dibangunkannya. Akhirnya sebotol air yang ia temukan didalam gerobaknya dituangkannya ke atas wajah Elwie yang masih terlelap.

“Aaah…Rosaaa…Andraa..ayooo kita harus pergi..aku tak mau meninggalkan kalian” Elwie tersadar dari tidurnya dengan mengucapkan igauan yang tak menentu.

“Syukurlah kau terjaga juga, bagaimana kita bisa ada di sini? Dan ada apa dengan Rosa ataupun Andra? Kenapa kau menyebut nama mereka seperti ketakutan?” Lady segera memberodong dengan pertanyaan-pertanyaan.

“Lady..kau lama sekali tertidur..Aku tak tahu harus apa, aku bingung sendiri menghadapi semua,Desa Centifolia diserang, semua penduduk panik,  Rosa dan Andra yang memintaku meninggalkan Desa dan membawamu pergi, kata mereka kita memiliki tujuan yang lebih penting, kau harus jelaskan padaku tujuan apa sebenarnya yang kau rahasiakan selama ini.” 

“Apaaa? Mereka diserang? Ternyata terjadi juga apa yang aku takutkan..argh, aku menyesal harus tertidur selama itu, semua diluar kehendakku Elwie” Lady pun meneteskan air mata, dengan lutut lemas ia terduduk sambil menutup wajahnya yang memerah marah bercampur sedih teramat dalam, perasaannya tak karuan, bercampur aduk antara ingin kembali ke Desa yang selama ini sangat sering ia datangi itu dengan sahabat-sahabat yang begitu ramah dan seperti keluarga sendiri baginya atau harus melanjutkan perjalanannya bersama Elwie karena sebuah janji yang telah diikrarkannya semasa ia kecil dan akan dirahasiakannya dari Elwie sampai tiba masanya nanti.

“Aku tak tahu harus apa, kalau aku kembali ke Desa Centifolia, mungkin aku takkan punya waktu lagi untuk membawamu”

“Membawaku kemana? Aku tak punya tujuan Lady..seharusnya kita kembali saja dan membantu mereka, mereka pasti membutuhkan bantuan kita walau hanya untuk mengobati luka para korban” usul Elwie.

“Tidak…Rosa pun tahu kalau aku harus mengantarmu, karena tempat yang kita tuju sangat jauh, kita harus melewati beberapa desa lagi di depan dan aku tak punya waktu banyak, Rosa tahu batasku, takkan lama lagi….” Lady langsung menyanggah usulan Elwie.

“Apa yang tak lama lagi? Memangnya kau mau kemana Lady? Dan kau mau mengantarkanku kemana? Ayo jelaskan semuanya sekarang, kau harus jelaskan sekarang, atau aku akan pergi meninggalkanmu..” Elwie mengancam Lady dan ia mulai melangkah perlahan seolah akan meninggalkan Lady bila tak menjelaskan apa yang dirahasiakan Lady selama ini. Namun Lady ternyata tak menggubris ancamannya, Lady tetap melanjutkan perjalanannya, ia yakin kalau Elwie takkan berani pergi sendiri tanpa dirinya karena Elwie tak mengenal wilayah ini seperti dirinya.

“Lady..ish..Kau memang keras kepala!!!” ternyata benar dugaan Lady, Elwie berbalik arah dan mengikuti Lady meskipun wajahnya cemberut karena Lady masih tak menceritakan apapun tentang tujuan dari perjalanan mereka.

“Dengar, aku akan menjelaskan semuanya nanti, kalau aku menjelaskannya sekarang, aku tak yakin kau akan mau mengikutiku lagi dan itu tak baik..tak baik..”

***

 

Sudah beberapa kilometer mereka lalui dan hari mulai siang, cuaca yang mendung di langit siang itu menambah hawa dingin di sekeliling mereka, hembusan angin terasa sedikit aneh bagi Elwie, angin yang tak kencang tapi hawa dingin yang dihantarkannya seolah menusuk persendiannya.

“Apakah kita akan menuju pemukiman hantu? Suasananya horror sekali” celoteh elwie asal bersuara.

“Tidak, memangnya kau percaya dengan hantu? Haha..kita akan menuju wilayah yang memiliki suhu lebih dingin dan lembab, kita tetap harus  melihat ke depan dan tak menghiraukan apapun yang ada di samping kanan dan kiri kita..” Lady mencoba meyakinkan Elwie.

Elwie dan Lady melanjutkan perjalanan menembus hawa dingin yang semakin menjadi. Dalam suasana mendung siang itu, dari kejauhan Elwie mencoba memicingkan matanya ketika ia melihat sesuatu yang  bergerak di antara rimbunnya daun-daun lebar di sekitarnya, sepertinya sesuatu yang ditutupi selembar kain berwarna putih, semakin Elwie memicingkan matanya semakin jelas ia melihat tangan manusia keluar dari kain itu dan sedang memainkan bebatuan di hadapannya..Elwie semakin yakin itu adalah seorang manusia. Elwie pun bergegas melangkah menuju ke arah manusia itu tanpa terlihat takut sedikitpun, melihat Elwie seperti itu Lady malah merasa bingung dan cemas, karena Lady melihat Elwie berjalan ke arah yang salah.

“Elwie!!..Apa yang kau lakukan? Kau jangan kesana..ingat pesanku, kita harus tetap berjalan lurus kedepan..Elwie!!!” Namun Elwie seperti tak mendengar panggilan Lady, ia langsung menghampiri manusia misterius itu, semakin dekat…dengan langkah kaki Elwie yang melambat dan tak ingin mengagetkan orang itu atau lebih tepatnya anak itu, karena ketika Elwie semakin dekat dengannya terlihat tangan manusia misterius  itu lebih  kecil tak seperti tangan orang dewasa.

“Enngg, halo..kau siapa? Apa yang kau lakukan di sini sendirian? Kau pucat sekali” Tanya Elwie begitu sesampainya ia di hadapan seorang anak perempuan yang pucat dan lusuh, tubuhnya kurus duduk dengan lutut ditekuk dan ia memeluk kedua kakinya yang dirapatkannya ke tubuhnya yang mungil, tangannya tak henti memainkan batu-batu kerikil di depannya, batu-batu itu disusunnya sampai membentuk piramid.

“Siapa namamu? Namaku Elwie” Elwie mengulangi pertanyaannya sambil mendekati dan duduk di hadapan anak kecil tersebut, melihat kelakuan Elwie itu Lady pun bergegas menghampiri mereka, ia tetap harus melindungi Elwie dari marabahaya di sekitarnya.

Anak kecil itu tampak begitu lelah, matanya yang sayu mencoba menatap Elwie.

“Aku yasmin, aku berasal dari Desa Sambac…Aku pergi dari Desaku” Jawab gadis mungil yang usianya mungkin masih sekitar 10 tahun.

“Mengapa kau pergi dari Desa? Apakah mereka mengusirmu? Dan untuk apa batu-batu kerikil itu kau kumpulkan?” kembali Elwie bertannya .

“Aku melarikan diri, mereka ingin menjadikanku tumbal karena di Desaku terjadi bencana, gunung di samping Desa kami mengeluarkan asap tebal, menurut penduduk dan kepala Desa aku adalah tumbal yang telah dipilih alam ini…Kata Ibuku jika kita berdoa sebanyak-banyaknya maka Tuhan akan mengabulkan doa kita, batu-batu ini adalah bukti untuk Tuhan karena aku telah berdoa sebanyak batu yang kukumpulkan ini, dan Tuhan telah menjawab doaku, Ia telah menghadirkan kakak kepadaku” mata Yasmin berkaca-kaca sambil menatap nanar kearah Elwie, seolah ia berharap Elwie akan menolongnya.

“Tenanglah, aku akan membawamu pergi dari sini..Tapi Ibumu di mana? Apakah Ia tak mencarimu?”

“Ia tlah berubah, Ibuku sama seperti mereka yang ingin menumbalkanku, baginya menjadi tumbal adalah sebuah kehormatan. Tapi aku tak mau, aku masih ingin hidup, aku akan bertahan”

“Ayo..bangunlah, kita pergi dari sini, kau pasti lelah duduk seperti itu dengan memeluk kakimu, kau pasti kedinginan”

“Aku merapatkan kakiku keperut agar menekan lambungku, setidaknya dengan begitu rasa laparku tidak terlalu menyiksa”

Mendengar penjelasan Yasmin, air mata Lady terjatuh, Lady yang sedari tadi hanya memperhatikan dan terkesan acuh tak acuh pun akhirnya merasa sedih dan memeluk tubuh Yasmin saat itu juga, seolah Lady melihat dirinya semasa kecil yang sering menahan lapar. Elwie pun ikut sedih melihat Yasmin yang hanya pasrah menceritakan apa yang dialaminya, Yasmin terlihat begitu lelah dan lemas, Elwie segera memberinya dua potong roti yang masih tersisa di saku.

“Kita harus segera berangkat sebelum sore, tapi sebenarnya kita harus melewati Desa Sambac atau…” Ungkap Lady kemudian.

“Atau apa? Kita tak mungkin membawa Yasmin kembali ke desanya, itu berbahaya”

“Iya kau benar Elwie, ada satu Desa lagi yang bisa menjadi alternative tapi aku tak pernah ke sana, dan setahuku Desa itu sering terjadi konflik antar penduduknya sendiri, Desa Drosera, Desa yang paling berdarah di wilayah ini” Lady kembali menjelaskan.

Suasana kembali hening, Lady dan Elwie mematung sambil menatap Yasmin yang sedang melahap dua roti ditangannya. Lady dan Elwie harus memilih perjalanan yang teraman diantara dua Desa yang tak aman….

***

  • view 186