Pesan Terakhir

.
Karya Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 15 Desember 2016
Pesan Terakhir

Pernah kita berbicara pada bulan? Bintang? Angin yang semilir? Dengan suara lantang atau hanya dengan berbisik. Tak semua orang gila berbicara pada bulan dan tak semua orang yang berbicara pada bulan adalah gila. Pernahkah kita berbicara pada benda mati? Mungkin kita merasa setiap perkataan kita takkan ada yang mendengar atau kita memang tak berharap untuk didengar karena ada rasa lelah atau pupus. Lalu bagaimana ketika melihat dan mendengar ketika seseorang mengirimkan pesan terakhir karena dia tahu mungkin esok ia tak akan bernyawa lagi, ia berbicara pada benda mati yang diharapkan akan menularkan rasa yang sedang ia rasa saat itu, detik itu, rasa dimana tak ada dunia lain yang mendengar tangisan anak-anak merintih berlumuran darah dan ketakutan.


Dengan air mata ia merasa putus asa bila mengharap kepada manusia yang sebenarnya sebagian diantaranya mampu memberikan bantuan kepadanya, tapi dengan helaan nafas dan mata yang sendu ia menunjukkan keikhlasan yang dalam dengan apapun yang akan terjadi esok hari, bahwa setiap kepedihan yang ia rasakan akan membawanya kepada syurga. Ikhlas, bila orang yang ikhlas kehilangan sesuatu katanya akan digantikan dengan yang lebih baik dan sepuluh kali lebih banyak, lalu bagaimana keikhlasan pemuda tadi yang dengan memberikan pesan terakhirnya, ia menunjukkan ketenangan dan keikhlasan akan kemungkinan terburuk yaitu kematian atau lebih pedih lagi adalah menyaksikan penyiksaan orang disekitarnya tanpa mampu berbuat apapun, apakah semua yang diikhlaskannya akan tergantikan dengan yang lebih baik dan lebih banyak? Mereka ada di Aleppo, mereka yang terkepung dan tak berdaya yang mencoba mengirimkan pesan terakhir di akun-akun social media mereka. Dan saya percaya tak ada yang sia-sia dari semua usaha mereka dan dari setiap doa yang terus mengangkasa, karena Allah tidak tidur.


Rasanya tak sanggup melihat setiap kejadian yang menimpa saudara-saudara seiman di berbagai belahan dunia, penyiksaan demi penyiksaan sampai pada kematian, mungkin inilah yang baginda Rasul lihat ketika menjelang ajalnya hingga beliau menyebut “ummatku..ummatku..ummatku”. Dan kemarin saya tertegun membaca sebaris komentar dari seorang yang lupa namanya tentang berita kepedihan Aleppo, “Rasanya aku tak mau tertawa lagi seumur hidupku” (kira-kira begitu bunyinya).


  • Harmawati 
    Harmawati 
    8 bulan yang lalu.
    saya suka bicara pada benda mati

    • Lihat 5 Respon

  • Anis 
    Anis 
    8 bulan yang lalu.
    "Tak semua orang gila berbicara pada bulan
    dan tak semua orang yang berbicara pada bulan adalah gila."

    • Lihat 3 Respon