Perjalanan Edelweiss (Rosa Centifolia 2)

31
Karya 31  Kategori Project
dipublikasikan 05 Desember 2016
Kumpulan Dongeng

Kumpulan Dongeng


Beberapa dongeng dengan cerita yang sedikit mustahil ada, tapi setiap cerita akan mengandung hikmah untuk dipetik. Yuk diintip..cocok untuk anak dan dewasa.

Kategori Fantasi

1.3 K
Perjalanan Edelweiss (Rosa Centifolia 2)

Hmmm…kalau tinggal di sini terus dan menikmati keharuman yang menenangkan seperti ini, rasanya aku akan betah berlama-lama menikmati hari demi hari di desa centifolia ini..Tapi mengapa Lady tak ingin tinggal di sini meskipun dia sering singgah tapi tak mau menetap di sini, daan kenapa ya dia selalu mengatakan akan membawaku pulang dan katanya aku tersesat? Lady semakin membingungkan saja.

“Haii Elwie, hari ini musim windy telah berakhir, kami bebas keluar rumah, aku ingin mengajakmu berkeliling desa, kamu mau kan?” Tanya Rosa yang merupakan sahabat baik Lady di desa Centifolia. Elwie merasa sangat senang mendengar ajakan Rosa, karena sudah dua hari Elwie di rumah saja sama seperti para wanita di desa itu.

“Ayuk, aku sangat ingin berjalan-jalan di sini dan banyak yang ingin aku tanyakan padamu, sebentar…aku bangunkan Lady dulu” Elwie bergegas turun dari tempat duduknya dan menuju ke sebuah ruangan kecil dimana lady tidur sehari penuh.

“Tunggu!” Rosa mencoba mencegah Elwie namun Elwie tak mendengarkannya, mungkin karena terlalu semangat untuk membangunkan Lady.

Elwie terus saja mengguncang tubuh Lady dan memanggil namanya, namun Lady seperti pingsan dan tak juga terjaga, mungkin dia terlalu lelah.

“ Elwie.. Lady akan tidur sampai besok, dia membutuhkan tenaga sangat banyak dan tidur selama 2 hari adalah kebiasaannya, dia selalu begitu dan orang-orang di desanya juga seperti itu, itu adalah kebutuhan tubuh mereka yang mungkin berbeda dengan cara tubuh kita memulihkan tenaga” Rosa mencoba menjelaskan kondisi Lady.

“Haaa…dua hari? Apa dia tidak lapar? Haus? Atau badannya tidak terasa pegal tidur selama itu?”

“Itulah bedanya orang-orang desa Kogsi dengan kita, dan budaya desaku pun tidak selalu sama dengan yang ada di desamu kan?” Rosa kembali menjelaskan dan menarik tangan Elwie untuk segera keluar rumah dan menikmati suasana desa Centifolia.

“Setiap kita memiliki perbedaan, dari segi budaya dan ciri khas desa kita, bahkan untuk setiap ciri khas fisik kita juga berbeda-beda, biasanya sih dipengaruhi dari turun temurun nenek moyang kita masing-masing, seperti lady, dia memiliki sayap dan harus tidur sampai dua hari setelah aktivitas berat, seperti kami yang memiliki aroma khas dan juga dirimu yang memiliki cahaya sampai ke ujung kuku-kukumu, itu juga keturunan kan? Dan dengan perbedaan kita, kita mampu menghormati orang lain dan membuat kita saling mengenal satu sama lain” Lanjut Rosa.

“Tapi Rosa, di desaku hanya aku yang memiliki cahaya seperti ini, dan aku tak pernah mengenal siapa orang tuaku, aku hanya dibesarkan oleh seorang nenek angkat di desa itu, apakah aku bukan asli penduduk desa Montiana?” dengan nada suara yang semakin merendah, Elwie berusaha berfikir tentang dirinya.

Melihat raut wajah Elwie yang berubah membuat Rosa seakan menyesal telah memulai perbincangan mengenai ciri khas itu, seoalah ia harus tetap tenang dan mengendalikan lisannya.

“Oya..Elwie, aku akan menunjukkan padamu kebun bunga terbesar di desa kami, kami memiliki kebun bunga sangat besar karena semua petani menanam bunga pada satu tempat dan kami akan memanennya bersama-sama”

Mendengar ajakan itu Elwie sesaat melupakan rasa penasaran akan jatidirinya yang sebenarnya, Elwie sangat menyukai bunga, dan ia betah berlama-lama memandangi bunga yang mekar . Mereka pun berjalan bersama menyusuri desa yang ramai dengan segala aktivitas masing-masing orang disana, mereka sangat ramah, setiap berjumpa satu sama lain, mereka akan menyapa atau sekedar tersenyum. Elwie merasa begitu nyaman berada diantara orang-orang ramah desa itu.

“Naah..ini adalah kebun bunga kami” akhirnya mereka sampai di kebun bunga yang sangat luas dan sedang mekar bunganya.

“Waaah…indah sekali Rosaaa…aku tak pernah melihat bunga mekar bersamaan dalam taman yang begitu luas..ada warna ungu, kuning, merah, putih, bahkan hitam..Semua memiliki keharuman yang membuatku ingin sekali mendekapnya, memetik dan menyimpannya” wajah Elwie begitu bahagia seolah itulah moment  paling bahagia dalam hidupnya.

“Iya Elwie, kami sering kesini menjelang musim panen, karena bunga-bunga disini baru mekar dan sangat harum, semua ini bunga mawar yang spesial, hanya ada di desa kami, karena setiap bibitnya di tanam di daerah lain ia tak mau tumbuh” Rosa dan Elwie seakan hanyut dalam pesona mawar yang memenuhi taman di hadapan mereka saat itu.

“Rosa, boleh aku bertanya? Kenapa setiap musim Windy kalian tidak keluar rumah? Apakah angin yang kencang itu membahayakan para wanita di desa ini?” Tiba-tiba Elwie teringat akan rasa penasarannya selama ini.

“Hmm.. tidak juga sih, sebenarnya wanita tidak dilarang keluar rumah, namun sudah menjadi tradisi di desa ini saat musim angin kencang itu para wanita tak keluar rumah, hanya kesadaran sendiri saja yang membuat kami tak keluar, tak ada larangan sih.. Kau tahu? Semua itu ada sejarahnya, dulu ada seorang wanita di desa kami yang memiliki keindahan dan keharuman yang luar biasa sehingga terkenal sampai ke luar desa, dia tak menggoda namun keharumannya sangat mampu menggoda siapa saja yang berada didekatnya, hingga pada saat angin kencang, keharumannya sempat membuat beberapa pria sangat tergila-gila dan mengacaukan kondisi desa yang aman tenteram dengan kelakuan mereka, mereka berkelahi satu sama lain karena memperebutkan wanita itu, lalu penduduk desa mulai merasa kesal dan marah pada wanita itu. Sebenarnya bukan salah wanita itu, tapi masyarakat tak mau tahu, mereka meminta wanita itu pergi dan meninggalkan desa ini” Cerita Rosa singkat.

“Lalu? Wanita itu pergi? Kasihan ya, bukan kesalahannya”

“Tidak, wanita itu sudah hampir pergi karena rasa bersalahnya, namun kepala desa melarangnya dan mengingatkan warga desa bahwa kejadian tersebut bukan keinginan wanita itu dan dia sudah berusaha untuk menutup dirinya dengan pakaian yang sopan dan tak menggoda. Akhirnya penduduk desa mengerti dan tidak menyalahkan wanita itu lagi. Namun sejak hari itu, wanita tersebut tak pernah keluar rumah sampai ia kurus dan sakit, lalu penduduk mulai merasa sedih dan mencoba memberi semangat bagi wanita itu, dan wanita itu mampu bangkit lagi karena para penduduk yang sudah kembali baik padanya dan karena simpati warga, mereka semua bertekad untuk tidak keluar rumah ketika musim Windy atau angin kencang, sejak itulah kebiasaaan itu terus membudaya hingga kini” kembali Rosa menceritakan kisah budaya desanya.

“Sungguh mengharukan, rasa persaudaraan di desa ini luar biasa” Elwie terkagum-kagum mendengar cerita Rosa, seolah ia merasa iri dengan desa itu yang tak sama dengan perlakuan penduduk desa tampat dia tinggal sebelumnya.

“Coba lihat di ujung jalan itu, disana ada sebuah gambar yang sudah buram, itu adalah gambar wanita yang aku ceritakan, kisahnya menjadi legenda di desa kami” Rosa menunjuk sebuah gambar berbingkai di sudut desa dekat dengan taman bunga yang mereka kunjungi, Elwie pun berjalan mendekati gambar itu, ia sangat ingin melihat wajah wanita tersebut.

“Meskipun gambar ini sudah buram, tapi garis wajahnya terlihat jelas, dia sangat cantik dan wajahnya terkesan tenang, tunggu dulu…kalau aku perhatikan wajahnya sangat mirip denganmu Rosa” Elwie menatap dengan cermat gambar di hadapannya.

“Haha..kata mereka juga seperti itu, nama kami pun sama, wanita itu adalah nenek dari nenekku, ibuku sangat mengaguminya dan ketika aku lahir ibu memberi nama yang sama dengan namanya, dia adalah nenek buyutku”

“Oooo ternyata..hahaha” Tawa Elwie dan Rosa menceriakan suasana pagi yang cerah, tapi tak lama kemudian wajah mereka seakan berubah kaget dan kebingungan, karena tiba-tiba suara dentuman keras menghantam desa, penduduk berlarian tak tentu arah, para pengawal dan penjaga keamanan bergegas dengan sigap memacu kuda-kuda mereka kea rah pintu gerbang desa, tampak seorang pemuda berkuda mencari-cari di antara penduduk yang berhamburan.

”Andraaa…”Rosa melambaikan tangannya memanggil pemuda berkuda tersebut dan pemuda itu segera menghampirinya dengan sangat tergesa, wajahnya mengisyaratkan kelegaan setelah menemukan Rosa.

“Cepat, kalian pergi dari sini, desa kita diserang!! Rosa bawa penduduk ke pengungsian yang telah kita siapkan dahulu, dan Elwie segera bawa Lady pergi dari desa ini lewat jalan belakang” Pinta Andra pada mereka berdua.

“Tidak, aku tak akan pergi, aku akan ikut dengan rosa” Elwie masih tak ingin meninggalkan desa itu, ia masih ingin bersama mereka.

“Kalian harus pergi dari sini sekarang!! Kalian masih harus menemukan tujuan kalian, kau harus pulang Elwie..kau harus bawa Lady pergi dari sini sekarang, kalau tidak nanti kalian tidak akan bisa keluar dari sini, karena para penyerang mungkin saja akan mengepung desa ini, ayo bergegaslah!!” Andra dengan sangat yakin menegaskan Elwie saat itu, tapi Elwie masih tak mengerti maksud ucapan Andra.

“Pulang? Pulang kemana? Desaku telah mengusirku dan aku tak mungkin kembali kesana, aku akan tetap disini dan membantu Rosa membawa warga ke pengungsian!” Jawab Elwie tak kalah tegas dari Andra.

“Elwie..Desamu bukan Montiana!..Lady akan membawamu pulang ke asalmu..Mmm.. kami tak bisa menjelaskannya sekarang, cepat bawa Lady segera” dengan bergegas Rosa menarik lengan Elwie sambil berlari, Elwie masih mencoba memahami maksud perkataan Rosa dan ia merasa hanya dengan membawa Lady pergi dari desa itu satu-satunya jalan untuk mengetahui rahasia apa yang disimpan Lady selama ini.

Rosa segera mengambil gerobak kayu yang terparkir di pinggir jalan, tepat di depan rumah mereka, lalu dengan cepat Elwie dan Rosa mengangkat tubuh Lady yang masih tak sadarkan diri dalam tidurnya yang panjang, Rosa mengisyaratkan Elwie untuk cepat mendorong gerobak tersebut sebelum terlambat, Elwie masih sangat berat meninggalkan desa Centifolia.

“Semoga kita berjumpa lagi suatu saat, tolong sampaikan salam kami untuk Lady dan semoga kau akan menemukan tempat asalmu yang sebenarnya,  apapun yang akan kau temukan kelak dan apapun yang disampaikan Lady kelak aku harap kau jangan membenci Lady, dia orang baik.” Tiba-tiba Rosa memeluk Elwie erat seolah mereka tak akan berjumpa lagi. Tanpa disadari elwie, bulir-bulir bercahaya menetes dari sudut matanya, perasaannya bercampur aduk, ia benar-benar tak mampu menjelaskan apa yang dirasakannya saat ini.

***

 

Angin berhembus lembut, matahari mulai meredup. Kaki-kaki Elwie sudah kelelahan, sudah sekian jauh ia berjalan mendorong gerobak kayu berisikan Lady yang sama sekali tak terjaga dari tidurnya. Suara dentuman dan teriakan perang dari desa Rosa pun sudah tak terdengar lagi, hanya kalimat doa yang terus saja terucap dalam hati Elwie setiap ia melangkahkan kakinya hingga sampai di tempat yang sejuk dan teduh ini. Elwie memutuskan untuk beristirahat di tempat itu, ia mulai meluruskan kakinya dan bersandar pada sebuah pohon besar yang rimbun, ia pun memakan beberapa roti yang sempat di letakkan Rosa ke gerobaknya saat akan meninggalkan desa tadi.

“Rosa, kau sangat baik ….Semoga suatu hari nanti kita dapat bertemu lagi, semoga kalian baik-baik saja.” Elwie merasa semakin lelah dan kelopak matanya mulai semakin berat hingga akhirnya ia pun terpejam.

 

***

 

 

 

Sebelumnya ;

~Perjalanan Edelweiss ( Primadona Yang Terusir )

~Perjalanan Edelweiss ( Lady )

~Perjalanan Edelweiss ( Rosa Centifolia 1 )

 


  • Redaksi inspirasi.co
    Redaksi inspirasi.co
    10 bulan yang lalu.
    Catatan redaksi:

    Karya petualangan yang asyik dinikmati. Alur yang cepat membuat cerpen ini terasa dinamis. Pembaca diajak terus-menerus menebak apa yang akan dialami oleh Elwie. Yang menarik juga Vera menambahkan banyak kejutan di sana-sini sehingga cukup sukses membuat pembaca penasaran dan menunggu. Bahasa yang digunakan juga enak, tidak terlalu berat.

    Vera juga tetap memainkan gaya penceritaan deskriptif dan ia memasukkan banyak dialog bermakna bagus tentang sikap saling menghormati antar perbedaan daerah. Selain imajinasi yang bagus, kami salut kepada Vera yang turut memasukkan unsur cerita rakyat mengenai nenek buyut Rosa dalam tulisannya ini. Jadi, bagaimana nasib Elwie selanjutnya?

  • agus geisha
    agus geisha
    10 bulan yang lalu.
    argh...aku belum baca...

  • SAM FIRDAUS
    SAM FIRDAUS
    10 bulan yang lalu.
    yeay, akhirnya kelar baca part ini (emang part sebelum2nya udah?)
    btw apa merk roti yang dimakan Elwie, bu? #eh

    • Lihat 7 Respon

  • Polisi Bahasa
    Polisi Bahasa
    10 bulan yang lalu.
    kesini => ke sini

  • Eny Wulandari
    Eny Wulandari
    10 bulan yang lalu.
    Ditunggu kelanjutannya mbak Vera. Asyik nih,. hehe

    • Lihat 1 Respon