Anak Lelaki Dan Mentari

31
Karya 31  Kategori Puisi
dipublikasikan 28 November 2016
Anak Lelaki Dan Mentari

Anak lelaki berjalan di luasnya gurun.

Menantang mentari membakar mimpi.

Memanggul pelana beriringan kuda tak berpelana.

Wajah mendongak, mata tajam menatap mentari.

Bertelanjang kaki dengan tapak tersayat terseret

Tegap yakin "Aku penantangmu"

Ahh, maklum saja anak-anak.

Perjalanan panjang berpeluh dahaga ketika mata tersentuh pada sebuah mangga.

Pikiran mengisyaratkan ranum, harum, pelepas dahaga.

Tangan dengan sigap menyergap dan menghantamkan geligi.

Gigitan menyayat melepas sisi inci sebuah mangga lemah dalam genggaman.

Ternyata berulat!!

"Ahh, fuih!! Mangga gila, bukannya manis malah menjijikkan!"

Diinjak, diludah, benamkan dengan tapak kasar dalam pasir panas.

Ahh..maklum saja anak-anak.

Wajah kembali mendongak, mata tajam menatap mentari.

"Aku belum selesai denganmu" 

Peluh menetes hingga dagu, mata meredup masih menantang bara mentari.

Pelana semakin menambah kilo berat di pundaknya.

Tak merasa bodoh, agar kuda tetap gagah mengiringi.

Ahh..maklum saja anak-anak.

Perut mulai bergetar menunjukkan eksistensinya.

Panas tak menggetarkan hatinya, ia yakin ia menang.

Banyak rekan dijumpai sambil lalu.

Tawa riang menunjukkan kegagahan bak pejuang melawan terik.

Tepuk tangan sorak sorai menambah euforia rekan memberi semangat.

Hati yakin dalam kesombongan.

"Mentari itu pasti kalah"

Redup seketika, mentari mulai menghilang, terang menjadi gelap.

Anak lelaki berpelana bahagia, ia menang..

Duduk bersama kuda gagah dengan perut masih bergetar.

Rasa menang yang tak mengenyangkan.

Angin dingin menyapa, kini ia merasa sepi.

Ia kehilangan teman sejati, sang mentari yang tiada henti mengajaknya berlomba

"Ahh..mungkin sebaiknya aku tidur saja, esok aku akan gagah lagi bila ada mentari"

Maklum saja anak-anak.

  • view 117