Terimakasih Guruku

31
Karya 31  Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 25 November 2016
Terimakasih Guruku

Ananda...hari ini, 5 tahun yang lalu dirimu hadir menjadi hadiah terbaik bagi kami, bagi seluruh keluarga kita.

Pertama kali dirimu hadir tak mau menangis seperti bayi lainnya, sampai cubitan pertama membangunkan suaramu. Ibumu ini pun selalu bahagia bersamamu, sampai usiamu 3 bulan, untuk pertama kali Ibumu ini ketakutan memelukmu erat karena tubuhmu kejang lalu  tak bergerak dalam pelukku, namamu selalu ku panggil agar kamu tak pergi saat itu, Ibu tahu saat itupun kamu berusaha menjawab panggilanku. Semua kembali tenang setelah kamu kembali tersenyum.

Waktu terus berjalan sampai semua orang bertanya kepadaku, mengapa anakmu beda? Aku mencoba mencari segala teori dan ilmu baru tentangmu, tentang dirimu yang tak mau bertatap mata pada siapapun, tentang dirimu yang tak mendengar tegur sapa siapapun, tentang keberanianmu yang membuatku histeris. Ibu banyak belajar darimu.

Kamu mendapat perhatian khusus dari semua keluarga, kami membawamu ke tempat belajar yang unik untuk anak yang unik, tempat belajar bagi anak dan ibunya juga.

5 tahun melangkah denganmu dengan begitu banyak pelajaran hebat darimu, point demi point selalu kuresapi dalam-dalam, sungguh diriku beruntung setelah aku mencoba menarik nafas panjang dan menghayati kehadiranmu, kehadiranmu yang membuat banyak mata melihat ke arah kita saat itu, saat kamu teriak dan tertawa kencang di dalam Angkot hanya karena halusinasimu sedang berputar bak film dalam ingatanmu. Atau saat semua orang memperhatikan kita ketika kamu berputar seperti gasing di pinggir jalan raya, hanya karena ibumu ini tak mengerti permintaanmu untuk dibelikan jajan seribu perak, diriku menangis saat itu, bukan karena malu ataupun sedih tapi ibu menyesal karena tak mampu mengenalmu lebih.

Tak hanya pelajaran hebat tentangmu saja yang Ibu dapati, tapi pelajaran tentang semua orang di sekitar kita, berjalan bersamamu mampu membuktikan padaku bahwa tak semua orang tulus, disana masih banyak kebohongan dan kepura-puraan saja, banyak topeng manis namun tak mampu menerima orang lain dengan apa adanya. Dan bersamamu pula Ibumu ini harus menjadi Ibu yang tak sempat banyak dandan, tak sempat banyak gosip, tak sempat berjalan bagai model diatas catwalk karena sebentar berjalan Ibu sudah harus berlari mengejarmu yang hilang dari pandangan. Ibumu ini benar-benar harus menanggalkan image keren yang memang belum pernah Ibu dapat, karena harus tampil apa adanya, kadang teriak di jalanan hanya karena memanggilmu yang sulit menoleh, atau memegang dengkul dan berjongkok setelah berlomba lari denganmu. Aah tak pernah habis segala rasa syukur tentangmu..