Kecelakaan

31
Karya 31  Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 09 November 2016
Kecelakaan

Ditabrak..ketabrak…kena tabrak..tertabrak, intinya semua adalah tabrakan, ada yang menabrak dan ada yang ditabrak. Walaupun penabrak tidak lari namun tetap saja yang ditabrak terluka, meskipun tidak terluka parah tapi pasti hatinya juga terluka.

Salah satu hari dalam bulan November ini, saya melihat keramaian di sebuah klinik, Ada apa ya? Mata saya melirik-lirik dan telinga saya mencoba mendengarkan, ternyata baru saja terjadi tabrakan beruntun, beberapa orang sedang mengantri untuk masuk bilik pemeriksaan. Satu orang bapak  sepertinya lebih parah dari beberapa yang lain, karena kondisinya setengah pingsan dan tangannya mengalami luka yang harus dijahit. Keluarga si bapak pun sudah hadir memadati ruang tunggu klinik, dan hampir semuanya berbicara, sepertinya mereka sangat mengetahui kejadiannya.

Ditengah keramaian muncul tiga orang pria memakai seragam, dua orang memakai seragam salah satu perusahaan swasta dan satu orang memakai seragam polisi, dan ternyata dua orang berseragam swasta itu adalah pemilik mobil box yang menabrak. Mungkin karena ramainya korban tabrakan maka penabrak sudah siap sedia dengan membawa serta pak polisi bersamanya.

Dari pembicaraan yang saya dengar, penabrak siap menanggung biaya yang dirugikannya. Tapi dia juga sangat memperhatikan kesaksian para korban dan keluarga korban, dilihat dari sikapnya yang segera menyangkal bila ada cerita yang melebih-lebihkan dari kejadian sebenarnya,  seperti yang terjadi saat itu, ketika si ibu yang merupakan istri dari korban terparah menceritakan kejadian didepan orang ramai, si penabrak langsung klarifikasi.

Semua masih menunggu si Bapak, korban yang harus dijahit tangannya. Suasana semakin ramai, terlihat wajah cemas dari dua orang penabrak, mungkin saja mereka menduga akan mengeluarkan biaya yang tidak sedikit untuk tuntutan si bapak, karena sepertinya sudah biasa kalau terjadi tabrakan atau senggol-senggolan kendaraan di jalan, maka system mark-up biaya kerugian pun berjalan.

Akhirnya si Bapak yang merupakan korban terparah pada kecelakaan beruntun itupun keluar dari bilik pemeriksaan, si bapak terlihat sudah bugar kembali, dengan tangan berbalut perban ia menghampiri keramaian. Si Bapak menjelaskan kronologi kejadian tersebut dan ia tak merasa marah sedikitpun, dengan santai si bapak mengatakan tidak akan menuntut apa-apa setelah salah seorang keluarga mempertanyakan masalah ganti rugi…

“Namanya kecelakaan gitu kan ga sengaja..ya sudahlah” sekilas saya menangkap perkataan si Bapak sambil berlalu. Terlihat wajah- wajah sumringah dari kedua orang penabrak menghembuskan nafas penuh kelegaan.

Berkecamuk aneka pertanyaan di benak saya, sedikit heran dengan si Bapak,  karena untuk kota dengan penduduk yang kebanyakan berwatak keras seperti di Medan ini, sikap seperti yang ditunjukkan si Bapak ini sangat langka. Biasanya kalau kendaraan tersenggol sedikit saja di jalan, maka hardikan keras sampai segala tuntutan akan mengancam jiwa si pemilik kendaraan yang menyenggol.

Kenapa si Bapak ikhlas sekali?

Apakah sikap si Bapak bisa dikategorikan sebagai sikap orang baik?

Kecelakaan memang biasanya tidak disengaja, kalau sengaja namanya janjian ketemuan *eh..

Trus, sedang ngapain ya saya di klinik? Lama bener..

 

 Thumbnail

  • view 112