Perjalanan Edelweiss ( Lady )

31
Karya 31  Kategori Project
dipublikasikan 06 November 2016
Kumpulan Dongeng

Kumpulan Dongeng


Beberapa dongeng dengan cerita yang sedikit mustahil ada, tapi setiap cerita akan mengandung hikmah untuk dipetik. Yuk diintip..cocok untuk anak dan dewasa.

Kategori Fantasi

1.2 K
Perjalanan Edelweiss (  Lady )

Aku takkan menoleh ke belakang..takkan menoleh ke belakang..Aku telah berjanji pada nenek untuk berjalan lurus ke depan tanpa menoleh lagi ke belakang, walau sedih, kecewa dan marah menjadi satu dalam benak ini, tapi nenek telah menguatkanku untuk tetap melangkah karena ini pasti sudah takdirku.

Sepanjang jalan Elwie masih saja teringat akan wejangan-wejangan Nenek sesaat sebelum ia meninggalkan desa Mountiana, desa yang telah membesarkannya dan menjadikannya gadis remaja yang kuat meskipun tanpa ayah dan bunda. Namun semua tak selalu sesuai keinginannya, seperti saat ini yang harus dilaluinya dengan semua kenangan indah tentang desa itu, kenangan itu seperti film yang terus saja silih berganti mengisi benak Elwie hingga menguras airmatanya, kenangan yang hanya menjadi kenangan selamanya karena ia mungkin takkan pernah kembali.

Elwie berjalan dengan wajah tertunduk, matanya selalu menatap ujung kakinya yang silih berganti maju dari yang kanan lalu yang kiri, berulang-ulang. Sampai sesaat kemudian kakinya terhenti, pandangan matanya terbentur sebuah daun hijau yang panjang menjulang, wajahnya yang semula tertunduk spontan terangkat perlahan keatas mengikuti seberapa tingginya daun hijau itu. Apa ini? Haaa…tingginya hampir 3 kali tinggi badanku. Daun ini seperti ilalang..yaaa, ini ilalang raksasa, oh Tuhan, dan……banyak!!!

Terhampar padang ilalang raksasa di hadapan Elwie, tak tahu ujungnya sampai mana dan luasnya bisa saja berhektar-hektar, dan tentu saja ilalang ini memiliki pinggiran yang tajam, Elwie terdiam hampir tak percaya dengan apa yang akan dilaluinya.

Apapun yang akan kamu hadapi di sana, tetap maju ke depan. Jangan menoleh ke belakang dan jangan belok ke kiri maupun ke kanan, karena kalau kamu lurus saja maka perjalananmu akan lebih cepat sampai ke Desa yang lain” kembali Elwie teringat pesan Nenek.

Dengan sedikit ragu yang coba dihempaskannya, Elwie pun melangkah menelusuri padang ilalang raksasa, dari satu ilalang yang dilewati hingga..

“Dua belas..Huufft…baru dua belas ilalang yang aku lewati dengan sangat hati-hati, tapi bajuku sudah sobek sana-sini terkena pinggiran ilalang ini..dan ilalangnya masih banyak!!! Huu” Elwie berhenti dan menangis, rasanya ia takkan mampu melewati padang ilalang itu.

Elwie mengalihkan pandangannya ke kanan, ada sebuah batu yang cukup besar dan tinggi, aku akan istirahat di sana, setidaknya aku bisa mengobati bekas sayatan pinggiran ilalang ini. Elwie bergegas menaiki batu berukuran 3 kali dirinya itu dan duduk diatasnya, ia segera membuka tas dan mengambil bungkusan kecil berisi obat-obatan racikan nenek yang sengaja dibuat untuk kebutuhan selama dalam perjalanan.

Kalau dilihat dari atas batu ini, indah juga pemandangan ilalang nan hijau yang terlihat riang menari di permainkan angin. Angin pun terasa begitu memanjakanku dengan belaian lembutnya..tapi..apa itu?

Mata Elwie tiba-tiba menangkap sesuatu yang seperti terbang diatas ilalang raksasa, terbangnya tak tentu arah, sesekali ia terbang menukik ke kiri kemudian ke kanan, dan kemudian terbang  mendekat ke  arah Elwie.

 Apa itu, sesuatu berwarna merah dan hitam, bersayap..tubuhnya sedikit bulat..dia terbang ke arahku..

Sesuatu yang asing itupun sampai tepat di depan Elwie dan ia mendarat dengan sedikit goyah, ia seorang wanita dengan busana merah dan berbintik hitam tapi ia memakai sayap. Elwie terperangah tak percaya dengan apa yang dilihatnya, ia tak pernah melihat seseorang yang bisa terbang seperti itu sebelumnya.

” Hallo, namaku Lady..Aku berasal dari desa Koksi, banyak yang menyebutku Lady bug” wanita itu dengan ramah memperkenalkan dirinya sambil mengulurkan tangannya ingin bersalaman.

“ Kau bersayap!!!” Elwie masih terpaku mematung memandangi sayap Lady, ia tak percaya dengan apa yang dilihatnya.

“ Dan kau bercahaya!! Hingga aku tertarik menghampirimu” dengan santai Lady menjelaskan kedatangannya.

Elwie masih terpana menatap lady..

“ Namaku Elwie, aku berasal dari desa mountiana di kaki gunung sana, dan kau…bersayap???” sambil memperkenalkan diri, Elwie masih tak habis-habisnya mengagumi sayap Lady.

” Ya..aku bersayap dan kau bercahaya, bukankah kita memiliki kelebihan masing-masing? Dan kita tak harus sama kan, lalu apa yang kau lakukan di tengah padang ilalang raksasa yang tajam ini? Sebentar lagi hari akan sore, biasanya para belalang pemangsa akan mulai mencari makan di sekitar sini, mereka sangat ganas” Lady mencoba menjelaskan..

“ Aku diusir dari desaku karena aku difitnah, aku harus pergi mencari desa yang lain, tapi ilalang ini melukaiku hingga aku harus mengobati lukaku dahulu, aku tak tahu mengenai belalang itu, kalau begitu kita harus segera pergi dari sini” Elwie segera menuruni batu tempat mereka berdiri.

“ Tunggu..ikutlah denganku, aku akan membawamu terbang agar lebih cepat, karena letak desa lain masih sangat jauh..ayoo” Entah kebaikan apa yang dilihat Elwie dari sosok seorang lady, karena untuk seseorang yang baru saja ia kenal, sosok Lady Langsung akrab dan Elwie tak merasa ragu mengikuti ajakan Lady.

Sepertinya perjalanan ini akan menarik…Aku bersama seorang Lady berbaju merah bola-bola hitam, dan dia ..bersayap..Yeay!!

 

 

 

Sebelumnya : ~Primadona Yang Terusir


  • Dinan 
    Dinan 
    9 bulan yang lalu.
    Yeay...
    Project ini menarik Bu Vera, 2 rius...

    Pertama, "di" dan "ke" nya sudah 'sekolah' dan mereka sudah tidak nakal lagi, perkembangan yang bagus Bu.

    Kedua, bila Bu Vera serius menggarap project ini bukan tidak mungkin akan banyak pembaca yang tertarik.

    Ketiga, imaji penulis bermain dengan cerdas, fiksi tak dibatasi kenyataan. Dan, Bu Vera memainkannya dengan asyik.

    Keempat, ceritanya runut dan tidak membingungkan, menurut saya. Jadi mudah dimengerti.

    Sekadar saran, hati-hati melangkah pada chapter berikutnya, Bu Vera harus memikirkan konflik yang sedikit menantang agar project ini semakin asyik dibaca. Untuk chapter ini, konfliknya lumayan, hanya saja perlu diperkuat lagi.

    *Saya memang sok tahu dan sok ahli ya...
    hahahahha...
    Maaf Bu, karena saya mengganggap Bu Vera 'Saudara' jadi harus betul-betul 'memperhatikan' karya ibu yang enak dibaca.

    Salim___

    • Lihat 1 Respon

  • SAM FIRDAUS
    SAM FIRDAUS
    9 bulan yang lalu.
    Lady Gaga

    • Lihat 5 Respon