Perjalanan Edelweiss ( Primadona Yang Terusir )

31
Karya 31  Kategori Project
dipublikasikan 24 Oktober 2016
Kumpulan Dongeng

Kumpulan Dongeng


Beberapa dongeng dengan cerita yang sedikit mustahil ada, tapi setiap cerita akan mengandung hikmah untuk dipetik. Yuk diintip..cocok untuk anak dan dewasa.

Kategori Fantasi

1.4 K
Perjalanan Edelweiss (  Primadona Yang Terusir )

Kecantikan gadis remaja bernama Elwie menggema kepenjuru desa Mountiana, namanya sering disebut dan diagung-agungkan. Bagi seorang gadis remaja yang tinggal di sebuah desa nan damai itu, Elwie begitu bahagia. Ia selalu mendapat keistimewaan, Ia yang hanya sebatang kara tanpa ayah bunda juga tanpa saudara tetap merasa bahagia dan tak kesepian, karena suasana desa yang damai dan memiliki penduduk yang ramah padanya membuat hidupnya begitu bahagia. Ia bagai cahaya yang berjalan kesana kemari, dengan keindahan dirinya tak sulit baginya mendapatkan senyuman disana sini.

Setiap tahun desa Mountiana selalu mengadakan sayembara putri kecantikan, tentu saja Edelweiss yang akrab dipanggil Elwie ini selalu menyabet juara pertama. Hanya 2 kali Elwie tidak meraih kemenangan, itupun karena Elwie tidak ikut sayembara.

Gadis berwajah sebening salju dan berkulit putih bercahaya ini selalu melakukan aktivitas selayaknya penduduk desa lainnya, berbelanja sayur dan memasak, lalu mencuci pakaian dan menyetrika. Ia juga bekerja mencari penghasilan ketika sore hari di sebuah kedai yang menjual bunga. Kedai itu sangat diuntungkan olehnya, karena ramai sekali pengunjung yang datang dan hanya ingin membeli bunga yang ditawarkan Elwie. Bukan hanya para lelaki saja, ibu-ibu dan nenek-nenek pun sangat suka padanya. Kedai bunga yang sederhana itu berhadap-hadapan dengan sebuah toko penjual serbuk berlian yang sangat mewah, pemilik toko serbuk berlian ini sering menawarkan pekerjaan pada Elwie, tapi Elwie tidak tega meninggalkan sang nenek pemilik kedai bunga yang sudah seperti neneknya sendiri, tawaran itupun selalu ditolaknya.

Mondy, seorang putri dari pemilik toko serbuk berlian yang kesehariannya sibuk berbelanja busana mewah. Ia pun sering mengikuti sayembara putri kecantikan di desa itu, namun sayang ia masih kalah bersaing dengan Elwie, keadaan itu membuatnya tak suka melihat Elwie. Ia selalu berusaha mengumpulkan teman-temannya untuk membenci Elwie.

Sore itu, suasana desa masih ramai dengan segala aktivitas warga, Elwie pun masih saja sibuk melayani para pembeli bunga di kedai nenek. Tampak Mondy dan beberapa temannya bergegas datang menghampiri..

“Sudah laku berapa tangkai bungamu Elwie?” Tanya Mondy dengan nada mengejek diikuti tawa teman-temannya.

Elwie sudah terbiasa dengan kesombongan Mondy, hingga ia tak menanggapi dengan serius pertanyaan mondy, cukup segaris senyum terbentuk dibibirnya.

“ Kau tahu? Walau bunga seisi kedai ini laku kau jual hari ini, tidak akan membuatmu dan nenek tua itu kaya..”

“Hahahaha” tawa teman-teman mondy semakin besar.

“ Dan kau tahu? Walaupun bunga sedesa ini kau jual dengan cepat, tak akan mampu membeli sesendok serbuk berlian dari tokoku yang terkenal.” Tampak bibir Mondy mulai menungkik kekiri, dan dengan gaya melentikkan ujung jari kelingkingnya, Mondy menunjukkan keangkuhannya.

“Aku tahu, tentu saja berlianmu sangat mahal tak sebanding dengan bunga kedai ini. Tapi tentu tak sebanding pula dengan nilai kehebatanku dalam menjual sampai ayah dan ibumu selalu menawarkanku untuk menjadi penjual serbuk berlian tokomu. Mengapa mereka tak memintamu menjualnya dan mengurus toko mereka? Apakah berlian-berlian itu terlalu berharga untuk di urus oleh orang sepertimu?”

Elwie membuat wajah Mondy memerah, teman-teman Mondy tersenyum kecut tak berani bersuara. Mondy geram dan membuang muka sambil bergegas menjauh dari depan kedai bunga itu.

Kali ini kau akan benar-benar menyesal Elwie, sambil mengepalkan tangannya, Mondy menatap tajam kearah kedai bunga yang masih saja ramai itu dari balik jendela kamarnya di lantai dua tokonya.

***

Hari hampir gelap, Elwie berjalan menyusuri desa menuju rumahnya yang tak terlalu jauh dari kedai bunga tempatnya bekerja. Rumah yang terbuat dari tempelan-tempelan kayu seadanya telah menaunginya selama ini, tak besar namun cukup luas untuknya melepaskan lelah seharian. Tapi kali ini aneh, saat Elwie membuka pintu rumahnya, pintu itu tak berkunci. Elwie bingung, dia mencoba menyalakan sumbu lampu minyak yang tersangkut di dinding rumahnya, tapi tak bisa karena minyaknya kosong? Elwie yakin sekali kalau minyak lampu itu telah diisi semua. Perlahan ia masuk dan meneliti setiap sudut ruangan yang semakin gelap, dan…

“Aku melihatnya membawa sesuatu kerumahnnya!! Pasti dia pencurinya!” seseorang berteriak di luar rumahnya dan terdengar suara riuh keramaian disana.

Ada apa?... Elwie jadi penasaran.

Elwie belum sempat keluar rumahnya, namun begitu ramai penduduk desa memaksa masuk kerumahnya yang sempit, mereka membawa obor hingga Nampak dengan jelas seisi rumah Elwie, kondisi rumah biasa saja, masih rapi dan tak ada yang aneh. Para penduduk mulai mengacak-acak perabotan rumahnya, mereka seperti mencari sesuatu.

“Ada apa ini? Mengapa kalian merusak rumahku? Aku baru saja pulang” Elwie terus bertanya pada semua orang, namun mereka sibuk membongkar isi rumahnya.

“Aku rasa ini yang kita cari” seseorang memegang kantung yang terbuat dari kain dan menarik perhatian semua orang. Orang itu segera membuka kantung itu dan menunjukkan pada yang lain bahwa yang dia temukan adalah sesuatu yang sangat beharga.

Serbuk berlian? Elwie masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya dari isi kantung itu, bahkan ia tak mengenali kantung itu. Sejak kapan kantung itu ada di rumahku? Dan bagaimana caranya berlian itu ada disini?  Begitu banyak pertanyaan yang ada di kepala Elwie, ia tak pernah mengerti apa yang terjadi.

“Nahhh!! Sudah jelas buktinya, kalau Elwie lah yang telah mencuri serbuk berlian dari toko kami, aku sudah curiga karena ia selalu bercahaya, mungkin saja selama ini dia mengambil serbuk berlian kami untuk membuat ramuan khusus di air mandinya.” Tiba-tiba Mondy bersuara lantang dan menuduh Elwie mencuri.

“Tidak..itu tidak benar, Aku tidak pernah mencuri, Aku baru pulang dan kondisi rumah tidak seperti biasa, pintu terbuka dan lampu-lampu tidak bisa saya nyalakan…percayalah, pasti ada orang yang telah masuk ke rumahku dan memfitnah diriku.” Elwie berusaha membela diri.

“Aaah..itu alasannya saja, mana mungkin maling akan mengaku begitu saja. Dia harus dihukum!!!” teriak seseorang diantara kerumunan penduduk dan diikuti sorak para penduduk lainnya. Elwie menitikkan airmata, ia tak menyangka hal ini akan menimpanya, sepertinya dunia terbalik seketika, kemarin ia masih menuai kekaguman penduduk dan hari ini ia mendapat tuduhan dan hujatan kebencian.

“Dia tidak mungkin mencuri, aku mengenalnya dengan baik.” Suara itu tak asing di telinga Elwie, itu suara nenek pemilik kedai bunga tempat ia bekerja.

“Iya, kalaulah dia menggunakan serbuk berlian untuk membuat kulitnya bercahaya, coba kalian jelaskan padaku mengapa airmatanya yang menetes itu pun bercahaya? Apakah ia juga meminum serbuk berlian? Apakah ada yang bisa membuktikan bahwa dia benar-benar mencuri? Seharian ini dia bersamaku berjualan dan baru beberapa saat yang lalu dia pulang, kapan dia akan ke toko Mondy untuk mencuri?” Penjelasan Nenek sesaat membuat para penduduk kebingungan dan mulai percaya padanya, tapi semua hanya sesaat.

“Aku mengerti Nek, tapi bukti sudah memberatkan Elwie, karena kantung kain berisi serbuk berlian ini ada di rumahnya.” Pak kepala desa pun akhirnya buka suara, ia tetap harus memberi keputusan yang adil agar penduduk desa tidak kebingungan.

“Karena hari ini sudah malam, maka besok Elwie harus bersiap-siap meninggalkan desa ini sesuai dengan peraturan desa yang telah ada, untuk malam ini saya memberikan kesempatan Elwie tetap tinggal di desa kita, silahkan  kalau Elwie mau menginap dimana saja kecuali di rumah ini, karena rumah ini harus kosong.” Kepala desa melanjutkan kata-katanya yang menjadi keputusan terakhir bagi Elwie.

Suasana riuh perlahan menjadi tenang, para penduduk desa meninggalkan rumah itu dan membiarkan Elwie dalam kesedihan. Elwie hanya terdiam menunduk sambil sesekali ia menitikkan airmatanya, terlihat sosok Nenek yang masih menenangkan Elwie sambil merangkulnnya, merekapun meninggalkan rumah itu, Nenek membawannya menginap di rumah Nenek di malam terakhir Elwie.

***


  • Redaksi inspirasi.co
    Redaksi inspirasi.co
    1 tahun yang lalu.
    Catatan redaksi:

    Selalu menyenangkan membaca tulisan berbau dongeng seperti karya Vera yang satu ini. Bahasa yang ia gunakan asyik. Pesan moral yang terkandung di dalamnya juga tinggi, yaitu jangan hanya melihat orang dari fisik semata. Bahwa kekayaan materi tidak turut menjamin kemegahan hatinya cocok untuk menggambarkan sifat Mondy. Sementara tipikal kisah ini mungkin sudah sering kita baca hal yang menjadikan karya ini tampil beda adalah bagian akhir dimana Elwie mengalami nasib naas. Ia terpaksa diusir dari rumah neneknya untuk hal yang ia tidak pernah lakukan. Bisa jadi ini mencerminkan fakta saat ini di masyarakat bahwa yang lemah pada akhirnya tak bisa berbuat banyak untuk menyelamatkan dirinya sendiri. Bagus sekali, Vera!

  • Chairunisa Eka 
    Chairunisa Eka 
    10 bulan yang lalu.
    Saya baru nongol!! Mantap kak vera masuk pilihan redaksi, sayangnya sudah 2 bulan yang lalu

  • Umie Poerwanti
    Umie Poerwanti
    1 tahun yang lalu.
    Waaaah.... andaikan akulah sang elwie ^_
    Pasti bakalan ada lanjutannya ini.... secepatnya yaa mbak veeee *love

    • Lihat 1 Respon

  • Dinan 
    Dinan 
    1 tahun yang lalu.
    Selamat Bu Vera, tulisannya terpilih oleh redaksi menjadi tulisan minggu ini.

    Salut....

  • DEBORA KAREN
    DEBORA KAREN
    1 tahun yang lalu.
    maafkan saya Kak soal cover *eh

    • Lihat 1 Respon