Ini Ceritaku

31
Karya 31  Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 10 September 2016
Ini Ceritaku

 

Bermain, tertawa, bercanda selalu kita lewati bersama. Aku yang berpostur terkecil dari kalian berdua, kakak dan adikku, membuatku menjadi yang terlindungi, terawasi, dan terjaga selalu dari pengawasan kakak yang tegas dan sedikit cerewet, dan juga dari dampingan sang adik yang gagah. Banyak hal yang kami lewati bersama, dari usia kanak-kanak hingga dewasa kami habiskan dengan sangat cepat, rasanya terlalu cepat waktu itu berlalu. Dan kita mulai berpencar karena sekolah dan pekerjaan lalu menikah kemudian berkeluarga, keharmonisan tak berubah, selalu ada canda tawa. Ada yang sedikit berbeda, kita sudah jarang bertengkar seperti dulu.

Ayah dan Nyak, mereka tak seperti dulu. Mereka tak sekuat dulu, tapi semangatnya masih sama seperti dulu. Bahkan Ayah sampai usia menjelang kepala 7 masih tetap kukuh menggunakan vespa kemana-mana, padahal menurutku jenis kendaraan ini cukup berat apalagi kalau ban sedang bocor, tak terbayang kalau Ayah harus mendorong benda berat itu sepanjang jalan.

Aku teringat saat dulu, saat dimana aku merasa baru mengenal sosok Ayah yang sebenarnya….

“Kita jadi pindah Yah?” tanyaku suatu siang..

“iya, kali ini jadi..dan kita akan pindah ke Ambon”

“Haa? Ambon? Jauhnyaaaa..Trus gimana sekolah saya yah? Naik kelas 3 SMP nih, nanggung bentar lagi juga tamat , kalau tamat sih” berasa sedih meninggalkan teman-teman sekolah.

“Gak apa-apa, nanti Ayah carikan SMP yang bagus disana..sudah gak usah dipikirin” Ayah bergegas mempersiapkan vespa birunya, menghidupkan mesinnya karena harus berangkat ke acara perpisahan di kantornya bersama Nyak.

“Trus vespa kesayangan Ayah ini akan dikemanain? Mana ada yang mau beli” tanyaku lagi dengan pesimis.

“Ada..kemarin Om Dayat sudah membayar cash untuk vespa ini” sepertinya sahabat Ayah ini sedang berbaik hati pada Ayah.

Dengan sedikit buru-buru,  Ayah dan Nyak pun berangkat dangan meninggalkan banyak pesan-pesan singkat agar kami tidak nakal dirumah.

Enam jam berlalu, kami mulai cemas, sepertinya ini terlalu lama.

“Eh..dek..kalian yang sabar ya..jangan panik” tiba-tiba seorang tetangga datang dan menyuruh kami untuk tidak panik, padahal dia bicara dengan panik, kemudian beberapa pemuda setempat pun datang kerumah. Sepertinya ini justru membuat kami panik.

“Kalian yang tenang, duduk dulu semua..Ayah dan Nyak kalian tertabrak” setenang apapun saat itu kami tetap terkejut dan syok mendengar berita itu.

“Iya..tapi tenang aja, Nyak sudah dibawa ke Rumah sakit dan Ayah kalian tidak apa-apa” saat itu bingung dan semakin cemas, ingin segera melihat kondisi keduanya.

Aku keluar rumah, menunggu di depan pagar rumah dengan cemas, hari sudah malam dan sudah mulai sepi, hanya tinggal beberapa tetangga yang masih menemani kami dirumah ini. Di kejauhan aku melihat bayangan yang berjalan mendekat sambil mendorong vespa, itu Ayah dengan sedikit pincang berjalan dengan tenang kearahku. Tak lama kemudian sebuah Taxi berhenti didepan rumah, ternyata itu taxi yang menabrak vespa Ayah. Dari dalam Taxi itu ada seorang pemuda yang memapah Nyak, mereka baru dari Rumah sakit. Syukurlah Nyak tidak apa-apa, aku segera membantu Nyak masuk ke rumah.

“Pi..Kamu jaga Nyak dan adek-adek ya?...Ayah harus pergi sebentar dengan mereka, kalau dalam waktu satu jam Ayah tak kembali, kamu bilang ke bang rembo ya”

Pesan Ayah kepada kakakku. Aku merasa khawatir mendengar pesan Ayah itu, Ia akan menyelesaikan urusan ganti rugi dengan pihak penabrak karena mereka tidak mau berurusan dengan polisi, dan bang rembo adalah seorang pemuda setempat yang biasa menjaga lingkungan perumahan.

Tak sampai satu jam Ayah sudah kembali, dan menenangkan kami semua agar tak perlu khawatir dan segera tidur karena sudah larut malam dan kami masih terjaga. Tapi malam itu aku tak bisa tidur, aku terus mengkhawatirkan Ayah dan Nyak, aku bangun dan melihat ke kamar Nyak sudah tertidu nyanyak, tapi Ayah dimana? Aku melihat lampu ruang tengah masih menyala, akupun melangkah kesana, Ayah duduk sambil mengobati luka-luka di kakinya, sesekali kudengar Ia merintih, ternyata lukanya banyak juga di sepanjang kakinya.

“Yah..Ayah gak apa-apa?”tanyaku pelan.

Sepertinya Ayah kaget melihatku yang belum tidur.

“Tidurlah, Ayah gak apa-apa. Ayo tidur sana, Ayah juga dah mau tidur nih”

Aku masih berdiri memperhatikannya, aku berfikir harus begitukah menjadi orang tua? Orang tua adalah orang yang tidak boleh menangis? Tidak boleh merasa sakit? Tidak boleh mengeluh? Ku lihat vespa biru didekat Ayah pun sudah penuh lecet, rodanya sudah tidak berbentuk bulat lagi. Apa yang dipikirkan Ayah saat ini? Hanya tinggal beberapa hari lagi persiapan untuk pindah dan Vespa itu sudah dibayar oleh temannya,apakah temannya masih mau menerima vespa yang sudah seperti itu?  Aku masih tertegun berdiri memperhatikan.

“Tidurlaah…besok kamu masih harus sekolah” pinta Ayah sekali lagi. Dengan berat hati aku meninggalkan Ayah dan segera tidur.

Pagi menjelang seolah tak ada kejadian apa-apa semalam, Ayah sudah berpakaian rapi untuk bekerja dan Nyak sudah sibuk menyiapkan sarapan untuk kami. Sesaat aku benar-benar tak mengerti karena hanya vespa biru tua yang terlihat masih sakit, tidak dengan Ayah dan Nyak, mereka menunjukkan semangat pagi yang menyenangkan bagi kami.

***

 

Kenangan itu sangat simple tapi begitu membekas di ingatanku, begitu banyak pelajaran yang seharusnya dapat aku realisasikan di kehidupanku mendatang.

Begitu banyak hal yang masih belum mampu aku contoh dari sikap bijak mereka, semoga Allah masih memberi aku kesempatan sekali lagi dan sekali lagi untuk memperbaiki hidup yang seharusnya sesurga dengan mereka dan mereka yang lainnya yang telah sukses menjadi keluarga kebanggaan anggotanya.

Seperti Aku kecil yang selalu bangga dengan keluarga yang telah Ayah bina, disanalah surga kami, anak-anakmu ini. Dan disitulah awalnya hidup kami dalam menghayati arti sejatinya sehidup sesurga selamanya hanya ada bersama orang-orang tercinta.

 *Thumbnail