Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Renungan 27 Agustus 2016   21:30 WIB
Boleh Ikut Mikir?

Ada apa dengan rokok dengan harga mencapai 50.000 rupiah?

Akan ada doa dibalik kebijakan ini;

Semoga para perokok mengerti bahwa semua kebijakan ini memiliki tujuan untuk mengurangi perokok aktif di negara ini terutama anak-anak.

Semoga 'gaya keren' merokok tidak semakin bertambah seiring bertambahnya harga jual rokok itu sendiri.

Semoga para penjual rokok ketengan tidak memberi diskon harga perbatang rokok terutama untuk anak-anak.

Semoga para bapak tidak memotong uang belanja para ibu hanya karena ingin membeli rokok.

Semoga 'uang rokok' para pekerja tidak minta dinaikkan juga.

Dan mungkin beberapa harapan dan doa lainnya.

Tapi kalau saya pribadi sih lebih senang kalau harga rokok tidak naik, bagaimana kalau rokoknya saja yang dikecilkan ukurannya. Biasanya tuh kalau harga produk tidak dinaikkan, kita masih punya pilihan untuk mengurangi ingredient atau bahan dasar produk tersebut. Seperti contohnya permen yang semakin kecil meskipun bungkusnya masih besar.

Nah kalau rokok menjadi lebih kecil atau lebih pendek ukurannya, kemungkinan besar para perokok akan mengurangi kegiatan merokok (kalau ini yang menjadi salah satu tujuan kebijakan tadi.)

Alasannya;

Rokok yang lebih kecil lebih melelahkan, karena dengan waktu yang lebih singkat, perokok harus membakar rokok yang baru lagi. Bagaimana kalau sang perokok tidak membawa pemantik, pasti dia akan lelah meminjam dan malu juga.

Rokok yang lebih kecil juga kurang 'gaya keren', yah bisa dibayangkan ketika ingin ambil posisi bergaya sambil merokok ternyata rokoknya sudah sangat pendek.

Karya : 31