Perempuan Tua Dan Agustus

Vera
Karya Vera  Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 09 Agustus 2016
PEREMPUAN-PEREMPUAN

PEREMPUAN-PEREMPUAN


Banyak kisah dan gambaran perempuan

Kategori Cerita Pendek

836 Hak Cipta Terlindungi
Perempuan Tua Dan Agustus

Dia telah lama terkulai, terbujur kaku dalam luka yang dalam. Berbulan-bulan ia kehilangan keseimbangan, antara mencari dan harapan untuk dicari. Dia tahu dirinya sangat tak sabar, ingin meraih mimpi spontan dan instan. 

Kesalahan terbesar dalam hidupnya adalah mengharap ksatria angin berhembus sekali lagi, mencarinya sekali lagi, menyapanya sekali lagi.

Setiap jam berganti, ia selalu meyakinkan dirinya dan berucap

"Sekali lagi"

Setiap tanggal berganti, ia tak pernah berhenti berucap

"Sekali lagi"

Bahkan bulan berganti, ia tak bergeming, masih terpaku memandang rembulan, seolah teringat sebuah pepatah

"Bagai pungguk merindukan bulan"

Semilir angin malam menghembuskan dingin, selalu menggodanya untuk mengenang sebuah kisah instan yang benar-benar membelenggunya. Tapi angin itu tak pernah membawa kabar yang dinanti, perempuan tua kembali membuka buku catatan yang pernah ditulisnya. Ia ingat betul pada halaman 25, bahwa bila dia akan pergi maka dia pergi sebagai ksatria bukan lari dari janji.

"Ah..sudah kuduga, semua masih jelas tertulis di sini. Tapi buku ini hanya ada padaku, tidak padanya" Perempuan tua kembali bersedih.

***

"Ijinkan aku membawamu pergi, kau bukan perindu. Aku mengenalmu setiap aku menjumpaimu ditahun-tahun yang lalu, kau bukan perindu"

Perempuan tua dikagetkan oleh suara serak yang berwibawa, ia selalu singgah setiap setahun sekali. Perempuan tua tak menyangka kalau ia sudah sampai, berarti sudah cukup lama perempuan tua itu murung.

"Agustus? Apakah kau sanggup membawaku? "

"Tentu saja, aku sudah menyiapkan semangat juang para syuhada untuk kau ikuti. Mungkin tidak mudah, tapi aku yakin kau bukan perindu, kau adalah Srikandi yang tak berhenti berjuang. Lihat hidupmu yang lalu, aku selalu menjumpaimu dengan semangat hidupmu yang membara. Tapi tidak seperti saat ini."

"Sayapku patah, aku tak bisa terbang bebas lagi. Kemana ku pergi selalu ada kabut dimataku" perempuan tua meluapkan curahan hatinya.

"Pegang tanganku Srikandi, jika sayapmu patah, berjalanlah semampumu. Bila kabut dimatamu tak kunjung hilang, menengadahlah keatas saat hujan, bukalah matamu agar Tuhan membersihkan matamu dengan curahan kasih sederas-derasnya"

"Aku akan bangkit bersamamu...Agustus"

Agustus pun tersenyum lembut menatap perempuan tua yang dikenalnya sebagai srikandi mampu berdiri dan berbenah diri.

Kini perempuan tua sudah siap dengan busur dan anak panahnya yang sudah lama sempat kusam berdebu.

Dalam hatinya, Agustus berkata

Srikandi, adakalanya sayap itu patah bahkan tak terobati lagi. Namun selama darahmu masih mengalir dari hatimu dan kembali kehatimu, maka Kau tetap akan bisa meraih mimpimu. Dan bila matamu selalu berkabut, cukup kau tutup matamu sesaat , kabut itu akan hilang setelah kau membuka matamu kembali.

 

 

 


  • Polisi Bahasa
    Polisi Bahasa
    10 bulan yang lalu.
    dimatamu => di matamu
    dimataku => di mataku
    kehatimu => ke hatimu

  • Anis 
    Anis 
    10 bulan yang lalu.
    Bu, kenapa tokoh aku dan kau ditulis dengan huruf kapital 'Aku', 'Kau'?

    kata Srikandi bikin saya inget iklan film 3 Srikandi, olimpiade memanah juga. *abaikan*

    ini saya kayaknya masih gak konsen baca, belum nemu benang ijonya

    • Lihat 3 Respon

  • Dinan 
    Dinan 
    10 bulan yang lalu.
    Asyik Bu,,,

    Cuma,
    "ke" dan "di" nya masih 'rewel', hehe.
    #salim Bu

    • Lihat 1 Respon