Jiwa

31
Karya 31  Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 09 Juni 2016
Kosong

Kosong


tentang makna yang hilang

Kategori Acak

1.5 K Hak Cipta Terlindungi
Jiwa

Tempat apa ini?

Begitu ramainya orang berlari, mereka menuju kemana?

Apa yang mereka cari? 

Mereka sangat terburu-buru, mereka tak peduli disekitar mereka, bahkan bila bersinggungan, mereka akan saling menyikut hanya karena ingin duluan.

Ku lihat kesebelah kanan, begitu banyak laki-laki sangat menggebu-gebu dalam langkahnya. Bahkan sesekali mereka terhempas dan terinjak oleh laki-laki lain, tapi mereka tetap bangkit dan berlari dengan pandangan tajam kedepan tanpa berkedip. Mereka tak menoleh kanan ataupun kiri.

Kulihat kesebelah kiri, kebanyakan perempuan yang juga tak berhenti berlari, bahkan ada yang terlihat sangat letih tapi ia tak berhenti. Pandangannya pun sangat yakin dengan apa yang dikejarnya. Apa yang mereka kejar sebenarnya?

Ku lihat kearah depan, sangat jauh disana. Seperti ada sebuah istana megah, dinding-dindingnya berwana emas. Terlihat sangat mewah. Apakah mereka semua berlari menuju kesana? Benarkah mereka semua bisa tinggal bersama di istana itu? Sementara saat berlari saja mereka saling sikut. Aku tak mengerti.

Tapi tunggu dulu, aku melihat sesuatu yang aneh dipinggiran jalan ini. Sepertinya banyak gundukan-gundukan disana, diseberang sana.

Aku mencoba menyeberang jalan ini, melewati orang-orang yang terus berlari, mereka terlihat kesal karena aku menghalangi jalan mereka.

Dengan setengah berlari dan sesekali tersungkur diantara dorongan dan desakan mereka yang berlari. Akhirnya aku sampai diseberang ini, begitu banyak gundukan disini.

Apa ini? Apakah semua gundukan ini adalah kuburan? 

Aku mulai mendekati, gundukan-gundukan ini ada yang bercahaya dan ada yang tidak. Sepertinya ini bukan tanah, seperti debu dan abu vulkanik dari gunung yang baru menyembur. Aku mencoba mendekati satu gundukan yang tak bercahaya, kuusap sedikit demi sedikit debu yang menutupinya.

Ya Tuhan, ini seorang manusia.

Mengapa begitu banyak manusia terbaring hingga tertutupi debu disini? Sementara manusia-manusia yang di jalan itu tak ada satupun yang berhenti dari larinya untuk sekedar melihat apalagi untuk peduli dengan mereka yang terbaring disini?

Sebenarnya tempat apa ini?

Siapa mereka yang berlari dan siapa mereka yang terbaring ini?

Aku terus mengusap debu di wajah orang ini, semakin jelas ku lihat wajahnya. Siapa dia? Kenapa wajahnya persis denganku? Apakah dia adalah aku? Apa yang terjadi padanya? Dan apa yang terjasi padaku?

Bangunlah..

Aku mengguncangkan bahunya, menepuk-nepuk pipinya, agar dia terjaga dan bisa menjelaskan semua ini padaku. Wajahnya pucat dan kelopak matanya menghitam, dia seperti mati, ataukah dia hanya tak sadarkan diri. Kini kutarik lengannya, ku genggam jemarinya, kuharap aku dapat memberikan kehangatan di tubuhnya yang dingin dan kaku.

Aku merasakan sesuatu di tangannya, dia mulai menggenggamku juga. Dan kulihat kelopak mata itu mulai bergerak-gerak. Sepertinya dia akan sadar, aku merasa sangat senang. Tiba-tiba kelopak matanya terbuka, matanya memandang tajam ke arah alisnya, ya, dia hanya menatap kearah atasnya. 

Ada apa denganmu?

Bangunlah!

Ceritakan padaku apa yang terjadi dan tempat apa ini? Tempat ini sangat aneh bagiku. Aku merasa tempat ini sangat melelahkan, begitu banyak keinginan dan manusia-manusia itu semakin tak peduli dengan semua yang ada disekitarnya.

Mereka semua terus berlari dan sangat menginginkan sesuatu yang mereka sendiri tidak tahu apakah yang mereka kejar itu akan membahagiakan mereka. Kau lihat apa? Matamu tak turun-turun untuk melihat aku yang membangunkanmu.

Hei!..lihatlah aku, aku yang telah membangunkanmu, mengapa matamu terus menatap keatas?

Aku mencoba mencari kearah mana dia menatap, dalam kondisi yang masih berbaring, ia menatap terus ke arah sana.

Oh tidak! Dia juga seperti manusia-manusia yang berlari itu, menatap tanpa berkedip ke aras istana itu, istana megah nan mewah diujung jalan itu. Apakah mereka tak melihat istana itu hanya sebuah bayangan bak fatamorgana digurun pasir?

Hei! Sadarlah, kau tak perlu berlari kesana. Itu hanya istana ilusi, kau belum tentu akan menemukannya, apakah hanya aku saja yang mampu melihat bahwa itu adalah ilusi?

Ia pun bangkit dari tidur panjangnya, ia bangkit perlahan. Sedikitpun ia tak melihatku. Aku masih terduduk tak mengerti, dan aku yakin dia akan juga berlari seperti yang lain. 

Tapi ada yang ingin aku tanyakan padanya, sebelum dia beranjak pergi. Aku juga mulai perlahan bangkit, tapi tiba-tiba sesuatu terpukul keras ke pundakku. Tubuhku serasa berat dan aku tersungkur ditanah, badanku terasa kaku tak bisa ku gerakkan lagi. Hanya mataku yang masih mampu memperhatikan semua yang ada di depanku, tepatnya melihat dia yang telah aku bangunkan, berdiri tegak menatapku.

Dia telah memukulku dari belakang? Aku tak percaya pada dirinya yang berwajah persis denganku, dia tega melakukan ini.

Ia pun segera berbalik arah, kembali menatap kearah istana itu, dan ia pun mulai berlari seperti yang lain. Bayangannya berlalu dari pandanganku, kini aku yang terbaring disini, aku bahkan tak mendapatkan jawaban dari semua pertanyaanku. Debu-debu mulai menerpa dan menghinggapi tubuhku, menutupiku kini. Kelopak mataku mulai terasa berat, semua akan berakhir gelap.

Aku ingat akan apa yang ingin kutanyakan padamu wahai diri yang berwajah sama denganku. Mungkinkah aku dan kamu adalah satu? Tak bisakah kita bertawazun bersama? Ketika kau adalah sumber segala ingin, maka aku adalah sumber segala pengingat bagimu.

Tapi kini kau tak menginginkanku, keserakahan adalah duniamu. Sekarang aku merasa tubuhku semakin tertutupi debu. Berpendar cahaya dalam gundukan ini, sama seperti gundukan yang bercahaya lainnya. Aku terdiam, kelopak mataku mulai menutup, aku berharap suatu saat kau kembali dan membangunkan aku....

 

 *Tawazun = Seimbang.

 

*thumbnail


  • Nisrina S Nissinero
    Nisrina S Nissinero
    1 tahun yang lalu.
    Hmmm...nurani yang tertutup debu dan jelaga dunia ya, Mbak Vera?

    Bagus juga penggambarannya, saya suka.
    Maaf ni komennya telat, maklumlah baru sempet keliling2.

    Salaam ^_^

  • Dani Kaizen
    Dani Kaizen
    1 tahun yang lalu.
    @VERA.....istana megah? apakah ini surga? atau ini memang hanya ilusi dan fatamorgana?

    • Lihat 4 Respon

  • Dinan 
    Dinan 
    1 tahun yang lalu.
    Bagus...bagus...bagus, Bu Vera.

    • Lihat 1 Respon

  • DEBORA KAREN
    DEBORA KAREN
    1 tahun yang lalu.
    Just dream. Dont fair

    • Lihat 8 Respon