[Fikber KOMPI] Arjuna Bertemu Srikandi #6

31
Karya 31  Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 06 Mei 2016
[Fikber KOMPI] Arjuna Bertemu Srikandi   #6

[Fikber KOMPI]  Arjuna Bertemu Srikandi

Penulis : VERA 31

Hari ini sama seperti hari-hari kemarin yang kulalui dengan sendu, suasana biru terus membayangi langkahku, aku bagai busur yang kehilangan anak panah, karena aku kehilanganmu laras, kau terlalu cepat meninggalkanku, aku belum sempat memenuhi janji-janjiku padamu.

Setahun telah berlalu dari peristiwa kecelakaan itu yang mengambil dirimu dari diriku selamanya, dan aku kehilanganmu selamanya, terlalu banyak lamunan yang kuhabiskan hanya tentangmu, bahkan aku semakin banyak menulis cerita penuh perenungan dan suasana kelam hanya karenamu, seolah dirimu adalah satu-satunya isi dalam kepalaku.

“Kak,"  terdengar suara lesmana adikku membuyarkan lamunanku yang entah keberapa kali dalam sehari ini tentang larasati.

“Ada apa dek?”

“Tolong bantu aku menjawab soal-soal PR ku ini kak” sambil menyodorkan selembar kertas .

“Soal apa ini?” tanyaku sedikit heran

“Kenapa emangnya kak?, Itu soal dari kelas bimbinganku tadi siang.”

“Soalnya banyak amat dan ribet, emang kalian sudah belajar sampe situ?”

“Ya udah dong kak, kalau belum ga mungkin dikasih soalan gini.” jawab lesmana nyengir

“Oo..kalau begitu coba kamu buka buku pelajaranmu yang membahas soal-soal ini, kan sudah dipelajari. Harusnya kamu lebih tahu dari kakak, karena kakak sudah tidak mempelajarinya lagi, ” aku balas nyengir.

“Dasar kakak , bilang aja ga mau bantuin. Haadeeeh..!!!”Lesmana beringsut pergi dan menarik kertas soal dari tanganku.

“Tunggu dek, ini nama guru pembimbing kamu?.” tanyaku setelah melihat sebuah nama disudut kanan atas.

“Iya..Namanya Larasati. Emang kenapa? Ooo.. Jangan-jangan Kakak teringat Kak Larasati temannya Kakak  itu, ya?..Hadeeh, Kaaak..Move on dong..Move ooonnnn..!!!” teriak lesmana sambil berlalu.

Dasar anak kecil sok tau move on. Tapi…..bagaimanapun aku memang sulit untuk move on dari bayanganmu, Laras. Kau yang begitu lembut, tidak pernah menuntut, bahkan ketika aku sering mengingkari janji-janjiku. Kau hanya menegurku sekenanya. Kau satu-satunya yang mengerti aku, Laras.

***

 

“Dek, kakak antar kamu, ya?sekarang kamu mau pergi ke Bimbel, kan?” aku bergegas mengambil kunci motor untuk mengatar lesmana.

“Kenapa semangat sekali mengantarku, Kak? Aku ga ada bimbingan hari ini. Aku mau main sama teman, mau main basket. Kakak mau ngantar gak?” jawab lesmana sambil tersenyum nakal. Sepertinya dia tahu kalau aku ingin melihat gurunya. Yah.. memang sih aku sangat penasaran dengan guru bimbingannya karena aku merasa Larasku hidup lagi walau hanya namanya saja.

“Ooh, kalau main basket ya kamu jalan kaki aja deh, biar banyak pemanasan sebelum basket, bagus tuh,” jawabku pula sambil meletakkan kembali kunci motorku. Lesmana hanya menatap kesal dan beranjak pergi meninggalkanku.

“Eh..tunggu..hehe, kakak hanya bercanda, kok, gitu aja ngambek. Ayo kakak antar,“ sambil kembali mengambil kunci motor dan merangkul adikku yang sudah terlanjur ngambek.

***

“Oke..yeamea.." Guru Durna menyudahi latihan karate kami malam ini.

Aku sering menghabiskan waktu dengan aktivitas seperti ini, agar aku segera menghabiskan sisa kenanganku bersamamu laras.

Malam ini aku mencoba memperhatikan teman-temanku yang sering ngumpul di KOMPI komunitas peminum kopi, tapi menurutku juga komunitas pemimpi. Mereka ada semua di dojo ini. Para KOMPI'ers ini selain pandai minum kopi dan pandai bermimpi, juga pandai bela diri. Dan mereka pula yang sering membuat aku merasa tak sendiri di dunia entah ini.

“Nah ini namanya Arjuna, ada yang manggil juna, ada juga yang manggil arju yang belum manggil juju atau nana. Terserah kamu mau manggil dia apa. Oh ya juna, ini kenalkan senpei kita dari kota Ambigu.. sedang berkunjung ke dojo kita. Namanya Srikandi,” tiba-tiba muncul Dinan memperkenalkan seorang wanita yang bergaya biasa itu.

“Oh ya..halo senpei,” kataku sembari tersenyum dan bergumam sendiri, apa benar dia bisa karate? Gayanya tidak meyakinkan sama sekali, tidak Nampak srikandi-nya, malah lebih mirip bidadari, ehm...

“Panggil saja aku sri, dan jangan sungkan gitu, he he he.” sambut Srikandi.

“Nah Sri, mari gabung dengan rekan-rekan KOMPI sambil minum kopi..di KOMPI ini ada aku, Dinan, trus ada itu  pak Bay, dia berprofesi sebagai dokter forensik, kamu tahu kan kalau dokter forensik biasa disebut orang yang berdarah dingin, hehe.

Nah yang sebelah saya ini ada Ayin yang manis dan baik hati, ada Shinta yang sukanya hitam putih aja, ada Anis yang manis dan bikin senyum meringis, ada Adeirra yang baik dan lucu, ada Chia yang multi talenta, dan ada Bagus yang sebagus namanya, ada Vera yang biasa aja sih, trus ada si Arjuna ini. Nah Arjuna adalah orang yang paling sering kami bicarakan dan kami tulis kisahnya, abis dia seru untuk dibahas, hehe..” dengan gaya bapak guru, Dinan menjelaskan tentang kami kepada Srikandi

“Dan kamu tahu, Sri? Dinan ini adalah murid paling lihai dalam seni bela diri, mungkin suatu saat kamu bisa sparing sama dia,” sambarku, membuat wajah Dinan senyum malu-malu.

Dan kami se-KOMPI serta Srikandi tertawa lepas malam ini.

***

 

Entah angin apa yang membuat aku semakin memperhatikan Srikandi. Cara dia berbicara dan tertawa semakin membuatku ingin selalu memperhatikannya. Ada apa denganku?, apakah aku mulai melupakanmu, laras? Apakah aku akan menjadi penghianat cintamu, Laras? Ataukah aku sudah mulai menyadari arti seseorang selain dirimu?

Srikandi semakin hari semakin dekat denganku, semakin banyak hal yang kami bagi dalam tawa, mungkin dia jauh berbeda denganmu Laras. Dia sangat lihai dengan jurus-jurus bela diri nya. Yaahh...Wajar saja karena dia sudah senpei. Tapi dia juga sangat merendah dengan segala kelebihannya. Dia tidak pernah merasa hebat, aku tak tahu apakah aku mulai ..

“Kak," suara Lesmana sekali lagi membuyarkan lamunanku..

“Kak, guru pembimbingku Kak Larasati dan teman-temanku datang. Kami akan membahas soal-soal di rumah, karena kami sudah membuat kelompok diskusi sekarang. Kakak mau kan buatin minum kita? Hehehe buat kakak pembimbingku juga loooh..” senyum nakal adikku benar-benar menjebakku.

“Okeh..bentar lagi kakak buatin ya..” jawabku sambil bergegas keluar kamar untuk membantunya menyiapkan ruangan untuk teman-temannya. Dan siapa yang kulihat saat ini dihadapanku, diantara anak-anak SMP sekelas adikku? Dia seorang yang pernah aku kenal dan jumpai. Dia adalah guru pembimbing adikku. Dia adalah Larasati dan ternyata dia juga adalah Srikandi!

“Kak..!"

Aaarrgh...!!! Adikku selalu bersuara ditengah lamunanku yang sedang berulang seperti irama lagu 'kamulah satu-satunya' Dewa 19

“Kak, ini guru pembimbingku. Namanya Kak Larasati. Nama panjangnya Larasati Ayu Srikandi. Kenalan dulu ya, Kak laras, ini kakakku Arjuna,” lanjut Lesmana.

Tapi aku sudah mematung tak percaya dengan apa yang kulihat, dia benar-benar wanita yang multitasking. Dia mampu menjadi orang yang berbeda-beda dalam pekerjaan maupun keahlian juga penampilan. Aku semakin terpesona dengannya.

Kini aku melihat seorang wanita yang berbeda dihadapanku sedang menatapku dengan senyumnya, sepertinya hatiku terus berharap….dan terus berharap saat ini……entah harapan apa......sesuatu yang ingin ……dan terus ingin…..entah ingin apa.....aku tak bisa menjelaskannya, hanya mengharap saja…

 

( Bersambung ke FIKBER 7 )

 

 

*Yeamea   = Istirahat atau selesai 

*Dojo        = Tempat latihan

*Senpei    = Kakak perguruan senior

*Sparing   = Berlatih tanding

* Forensik = Ilmu kedokteran (identifikasi dan otopsi)yang digunakan untuk membantu penegakkan hukum

*Multitasking= melakukan pekerjaan yang berbeda dalam waktu yang bersamaan.

*Mohon maaf bagi nama-nama yang di bawa dicerita ini, murni hanya kisah fiksi saja..kalau ada nama yang kebetulan sama mohon diabaikan.. :)

 Cerita sebelumnya:

[Fikber KOMPI] Arjuna Setengah Iblis #5

thumbnail dari www.flicker.com (patung manahan, solo/Flickr-Photo Sharing)


  • Nisrina S Nissinero
    Nisrina S Nissinero
    1 tahun yang lalu.
    Selamat pagi, Mbak Vera, ijinkan saya mengomentari karya ini sebagai bentuk tanggung jawab saya menjadi peserta terakhir fikber. Maaf bila komen yang di lapak saya belum terjawab, maklumlah bentar lagi saya tertelan rutinitas harian.

    Membaca fikber edisi ini, sangatlah mengalir, lancar dan terasa sekali suasana 'homy'nya. Benar-benar khas tulisan seorang wanita. Seorang wanita yang amat cinta keluarga (Maaf kalo salah tafsir yah ^_^).

    Saya merasa konfliknya kurang greget, padahal saya udah membayangkan Mbak Vera akan nulis semodel dengan tulisan yang bercerita tentang perselingkuhan yang terselubung oleh simbol2 seperti kuntum bunga yang layu dan patah dari tangkai, hujan yang marah dan angin yang melambungkannya hingga terbuai mimpi indah. (Saya lupa judulnya, kalo ga salah Perempuan dan Sekuntum Bunga).

    Baithewei, tulisan ini bagus, enak bacanya.

    Salaam kenal,
    Great Learner

    • Lihat 1 Respon

  • DEBORA KAREN
    DEBORA KAREN
    1 tahun yang lalu.
    Nitip donat dulu mau nimba di sumur

    • Lihat 5 Respon

  • Ayin Elfarima
    Ayin Elfarima
    1 tahun yang lalu.
    Juju atau Nana. Hahahahaha...

    *nitip itu dulu, Mbak Vera yang gak biasa aja.

    • Lihat 1 Respon

  • Shinta Siluet Hitam Putih
    Shinta Siluet Hitam Putih
    1 tahun yang lalu.
    mbak vera...ninggalin kopi sm kacang dlu ya...bedah2annya nanti malam ya...

    • Lihat 7 Respon

  • Chairunisa Eka 
    Chairunisa Eka 
    1 tahun yang lalu.
    aku ninggalin jejak dulu ada kelas
    *kabur
    *komennya belakangan ya

    • Lihat 5 Respon