Perempuan Dan Sekuntum Bunga

31
Karya 31  Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 01 Mei 2016
PEREMPUAN-PEREMPUAN

PEREMPUAN-PEREMPUAN


Banyak kisah dan gambaran perempuan

Kategori Cerita Pendek

1.1 K Hak Cipta Terlindungi
Perempuan Dan Sekuntum Bunga

Kali ini aku mendaki bukit tua yang sudah mulai tak hijau lagi, diantara dedaunan yang semakin kusam ku dapati sekuntum bunga yang masih kuncup, sayang sekali kuntumnya terancam tak akan mekar, tapi dia masih punya harapan karena kuntum ini masih ada tangkai yang kuat memegangnya dan mengalirkan energinya untuk sang kuntum.

 

Tapi lihat disana, ada sekuntum bunga yang layu, dia juga masih kuncup tapi dia tlah patah dari tangkainya, dan sungguh malang nasibnya kini karena dia hanya menunggu sirna.

 

"Itu takdirnya" tiba-tiba aku mendengar suara lembut datang menghampiriku dan membuyarkan lamunanku, dia seorang perempuan dengan selendang kuning yang dipakai sekedar menutup kepalanya.

 

"Ya, itu adalah takdirnya yang dia tak tahu sebelum semua terjadi, kerinduannya yang sudah begitu lama terpendam seperti lima belas tahun sang pujangga merindu cinta, dia hanya memendam rasa dalam setiap sari yang ditutup kelopaknya. Lalu sang angin datang menghampirinya, menegur dan mengajaknya terbang. Alangkah bahagia sang kuntum, sang angin adalah kekasih yang diimpikannya. Tanpa ragu sang kuntum pun mengikuti angin beterbangan dalam buaian cinta tiada tara, hingga dia terlepas dari tangkainya, dia tetap bahagia tiada tara mengikuti buaian sang angin, tapi tiba-tiba hujan datang, tumpah ruah penuh amarah, kuntum bunga pun terhempas ke tanah, bukan sekali itu terjadi, dua kali kuntum terhempas dan terluka, tapi dia tahu ini salahnya juga karena mengharapkan angin selalu membawanya terbang dan berkelana, baginya angin adalah cinta yang akan ada sampai akhir hayatnya.

Tapi kini sang angin sudah tak lagi menghampirinya, angin sudah kembali pada sang hujan. Cinta angin tlah usai, ia tak lagi menyapa kuntum bunga yang terdiam tak berdaya, mungkin sang angin telah menyadari bahwa angin selamanya hanya milik sang hujan. 

Sang kuntum tak pernah menyalahkan siapapun, cintanya tak pernah hilang walau sang angin tak pernah ingat padanya.

"Lalu kenapa tak kau bawa sang kuntum bersamamu? Kau bisa membuatnya lebih baik ditempat yang lebih nyaman" tanyaku penuh rasa yakin.

"Tidak, sang kuntum hanya ingin diam disana, agar ia bisa merasakan angin dalam kenangan indahnya, sampai saat ia pun sirna".jawab perempuan berselendang kuning itu.

"Mungkin dia masih berharap sang angin menjemputnya dan membawa ia terbang sekali lagi?" Tanyaku lagi, kali ini aku merasa iba pada sang kuntum bunga.

"Tidak, sang kuntum akan mencari  tempat untuk sembunyi, ia tak akan menjumpai sang angin bila sang angin lewat di dekatnya, ia tak ingin hujan marah lagi dan meluluh lantakkan angin dan ia tak ingin angin lelah memikirkan segala harapan sang kuntum" perempuan berselendang kuning menyeka setitik air mata disudut matanya.

"Sudahlah, mereka sudah berdamai dengan takdir mereka, kelelahan sang angin tak mampu dihapus oleh sekuntum bunga kecil yang telah patah, kuntum bunga itupun tlah ikhlas menjalani hidupnya tanpa harus memenuhi hasrat cintanya bersama sang angin, tak ada sakit hati dalam dirinya, yang ada mungkin rasa kebencian yang akan ditebarkan sang kuntum bunga kepada angin agar sang angin tetap menjauh darinya, itu lebih baik untuk dunia cinta mereka"  sekali lagi dia menyeka bulir air matanya.

Dan kami beranjak pergi dari tempat itu, tempat dimana sekuntum bunga kecil terkulai bersembunyi dari sang angin dan sang hujan.

"semoga kau mampu melalui sisa harimu dengan segenap tenaga untuk tersenyum" doaku dalam hati sambil berlalu meninggalkan bukit tua yang tak lagi hijau.


  • Chairunisa Eka 
    Chairunisa Eka 
    1 tahun yang lalu.
    baru baca hahahaha~~~

  • Dinan 
    Dinan 
    1 tahun yang lalu.
    Saya suka, pakai banget.
    Kisah ini bertutur lembut. Antara awal dan akhir nyambung.

    Ini dibuat oleh Bu Vera?
    Jika dibuat oleh Bu Vera, artinya, kamu cocok di wilayah ini....

    • Lihat 3 Respon

  • Anis 
    Anis 
    1 tahun yang lalu.
    komen perdana tenggelam, gak jadi bales ah...

    #melukangin

    • Lihat 8 Respon

  • Silmi Kaffah
    Silmi Kaffah
    1 tahun yang lalu.
    bercinta dengan angin itu rasanya~
    sumuk.
    kalo gak hadir hadir.

    • Lihat 4 Respon

  • DEBORA KAREN
    DEBORA KAREN
    1 tahun yang lalu.
    Bunga?? Nama mantanku #eh

    • Lihat 8 Respon