ABK Itu Anakku #three

31
Karya 31  Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 17 April 2016
ABK Itu Anakku  #three

Akhirnya Sinug pun dirujuk ke bagian rehabilitasi medic untuk diterapi, dan Alhamdulillah di tempat ini para perawat dan therapistnya sangat pengertian, mereka sangat memahami kondisi Sinug, Umi mencoba berdialog dengan seorang therapist dan menceritakan setiap kendala yang dihadapinya bersama Sinug, dan juga menceritakan betapa tidak mengertinya banyak orang disekitar mengenai anak seperti Sinug bahkan mereka yang bergelut di bidang kesehatan, mereka pun ternyata banyak yang tidak mampu memahami kondisi anak seperti itu. Jawaban sang therapist sangat menenangkan dan memotivasi Umi mungkin karena begitu banyak pengalamannya menghadapi kondisi anak yang seperti Sinug, ada kata katanya yang tidak pernah dilupakan Umi sampai kapanpun dan selalu membuatnya percaya diri, therapist itu mengatakan pada Umi “ buk..jangan terlalu memikirkan apa pandangan orang lain kepada kita, tidak semua mereka memahami kita, pada akhirnya setiap orang akan memikirkan perutnya sendiri”, entahlah, tapi kata kata itu begitu menguatkan Umi sampai saat ini, karena setiap persoalan yang dibagi kepada orang lain mungkin akan sedikit melegakan hati kita namun pada akhirnnya kitalah yang paling mampu menyelesaikan masalah kita sendiri.

 

 

Kali ini terapi Sinug berjalan lancar dan hampir setiap terapi sang kakek ikut menemani karena umi sudah mulai kewalahan dengan ngototnya Sinug mampir ke indomar*t yang letaknya tepat di depan Rumah Sakit Umum, mau bagaimana lagi, kalau keinginannya tidak dituruti ia akan guling-guling di jalan bahkan dia mau saja berlari menyeberangi jalan raya menuju indomar*t itu, sang kakek lah yang mampu menanganinya, sikap tegas sang kakek membuatnya sedikit takut.

 

Terapi sinug ada dua kelas yaitu terapi okupasi atau OT dimana Sinug dilatih untuk fokus dan konsentrasi pada alat-alat permainan yang di berikan, terapi okupasi ini diharapkan mampu melatih kemampuan anak dalam mengendalikan emosinya sehingga dia nantinya akan mandiri karena dia tidak selamanya akan ada yang mendampingi. Yang kedua adalah Terapi Wicara atau TW dimana Sinug dilatih dalam pengucapan agar terbiasa berbicara dan akhirnya diharapkan agar anak mampu berkomunikasi dua arah.

 

Awalnya Sinug sangat antusias mengikuti terapi ini, lama kelamaan mulai terlihat kejenuhan pada dirinya dan terapistnya juga berbeda-beda  sehingga penanganan pada Sinug juga mengalami perubahan, akhirnya Sinug mulai bertingkah, dia tidak mau mengikuti arahan dari terapistnya, bahkan jika dipaksakan dia akan melempar peralatan terapi yang ada.

 

Akhirnya Umi dipanggil menjumpai seorang therapist, dan beliau bukan therapist yang menangani Sinug di awal melainkan therapist pengganti atau therapist kedua. Saat itu dia mengeluhkan kelakuan Sinug

“buk, ini gimana ya..sulit untuk mengendalikan emosi anak ini, kalau begini terus sama aja program kita tidak akan jalan bu, sama saja saya ngangon-ngangoni saja to?” keluhnya,

“terus saya harus gimana?” Tanya Umi,

“gimana ya..kalau saya kerasin ini anak malah ngamuk, ini berarti ada system yang tidak berjalan, apakah kalau dirumah dia juga begini? Apakah kalau dia menginginkan sesuatu, ibu selalu memberikannya?” Tanyanya lagi.

“kalau dirumah saya bisa lebih tegas pak, tapi kalau diluar saya harus bagaimana? Saya tidak sanggup menjelaskan pada semua orang yang melihat heran kearah kami, kalau saya sedang bergelut dengannya hanya mencoba disiplin untuk menjaganya dari makanan-makanan yang harus dia jauhi seperti makanan terlalu manis, coklat dan makanan yang mengandung MSG” jawab Umi saat itu,

 karena untuk anak yang seperti ini bisa dikatakan mereka kelebihan kalori sehingga jika memakan makanan yang banyak mengandung gula, coklat dan MSG maka energinya akan menjadi super bahkan hiper, sehingga Sinug termasuk anak yang sering tidur jam 2 atau jam 3 dini hari bila sorenya dia mengemil jajanan. Dan jika Sinug bergadang otomatis uni juga harus ikut bergadang mengawasi aktifitas Sinug di saat itu, terkadang Umi berfikir ada ibu yang memiliki bayi sudah mengeluh karena sering bergadang dan biasanya hal itu sampai usia bayi 1 tahun, tapi Umi harus menikmati kondisi “bayi” Sinug ini entah sampai usia berapa. Tapi tekad Umi sudah bulat, mungkin ini adalah bagian dari perjalanan hidupnya.

“yah.. jadi mau gimana lagi ya buk, saya sih sarankan Sinug dimasukkan sekolah, coba saja buk..karena kalaupun tetap dipaksakan terapi ini sepertinya sama saja, tidak akan ada perkembangan” usul sang therapist .

Hati Umi semakin sedih, seharusnya sang therapist tidak menyerah tapi tidak mungkin juga Umi memaksakan kehendaknya, lalu Umi mulai berfikir keras sekolah mana yang mau menerima Sinug?? Kalaulah sekolah khusus pasti biayanya mahal.

 

Tapi Umi adalah Umi, dia mudah sedih tapi juga mudah bangkit dari kesedihannya, dengan tekad yang mulai dibangunnya lagi, Umi mengatakan niatnya  kepada sang Ayah untuk mencoba mendaftarkan Sinug ke sekolah dekat rumah mereka, Ayah kurang setuju, rasanya sulit membayangkan Sinug mampu bersosialisasi dengan anak-anak lain. Tapi Umi sudah tetap teguh untuk berusaha secepatnya karena usia Sinug terus berjalan, kalau semakin bertambah usianya akan semakin sulit baginya untuk memulai bersosialisasi.

 

Alhamdulillah, ternyata Sinug diterima di sekolah tersebut walaupun di usia 4 tahun dia harus masuk kelas play group, tapi tidak mengapa bagi umi, hal ini lebih baik daripada tidak ada usaha apapun. Kemandirian Sinug pun mulai terlihat karena awal sekolah ia sering menangis kalau Umi meninggalkannya di sekolah, lama kelamaan Sinug malah mengusir Umi agar segera pulang setelah mengantarnya sekolah, dia tidak berucap hanya mendorong bokong Umi sampai ke sepeda motor Umi dan dengan kode dia menunjuk kearah kunci sepeda motor sambil mengoceh tidak jelas, pertanda dia meminta Umi menghidupkan sepeda motornya dan pulang.

 

Hati Umi mulai merasa lega, setidaknya suramnya pandangan Umi diawal terapi dulu seolah mulai menunjukkan cahaya terang walau belum jelas terlihat. Dulu setiap Umi menggendong Sinug diperjalanan ke tempat Sinug terapi, Umi selalu mengucapkan doa dalam hatinya “Ya Allah, ijinkan aku hidup sampai anakku ini mampu mandiri tanpa menyusahkan siapapun, agar kalau waktuku tiba, ada rasa puas dalam hatiku karena telah berusaha sekuat tenagaku” doa itu yang selalu di batinnya sehingga tak terlalu terasa lelah dan tidak terlalu terbiasa keluh kesah terucap.

 

 

 

 

 

*ABK = Anak Berkebutuhan Khusus

** Gambar pada text diambil dari google


  • 31 
    31 
    1 tahun yang lalu.
    @ito' pemimpin bayangan 3..terimakasih sudah menshare tulisan saya..eh tapi ini masih belum lulus edit.. ..

  • Chairunisa Eka 
    Chairunisa Eka 
    1 tahun yang lalu.
    halooo dek sinug mau ante ajarin terapi wicara? ante juga pernah ngajarin terapi anak autis, pasti menyenangkan kalao sinug belajar sama ante. Mau yah dek, kita jalanin aktivitas yang bisa bikin sinug jadi mandiri. Sabar ya mba vera tiap anak punya masa-masanya dimana anak butuh perhatian dan juga bimbingan

    • Lihat 6 Respon

  • Silmi Kaffah
    Silmi Kaffah
    1 tahun yang lalu.
    masyaAllah, ganteng deh~ *cubit idung mancung*

    • Lihat 7 Respon

  • Pemimpin Bayangan III
    Pemimpin Bayangan III
    1 tahun yang lalu.
    Pekat...

    • Lihat 9 Respon