ABK Itu Anakku #Two

31
Karya 31  Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 16 April 2016
ABK Itu Anakku  #Two

Terapi berjalan lancar, sebulan..dua bulan..setahun, dan Sinug sudah banyak perkembangan karena kegigihan umi yang setiap tiga kali seminggu membawa sinug walau harus menggendong Sinug pergi dan pulang terapi sampai usia Sinug 3 tahun, dan Sinug tetap lebih sering digendong oleh umi, bukan karena sinug tidak lancar berjalan tapi karena Sinug tidak bisa tenang kalau ada yang diinginkannya ditengah jalan, dia akan sangat fokus pada apa yang diinginkannya, tidak perduli apakah itu di jalan raya ataupun di rumah orang lain. Dan yang menyulitkan Umi karena Sinug belum mampu berkomunikasi, jadi pada saat dia menginginkan sesuatu dia akan mengambilnya tanpa bicara dan bila dilarang oleh Umi tentu saja Sinug tidak mengerti dengan ucapan Umi dan ia akan guling-guling sambil teriak histeris disaat itu juga, terkadang air mata Umi pun tak sanggup lagi membendung emosi yang tak menentu saat itu. Tapi benarlah kalau sudah Allah katakana bahwa cobaan itu tidak akan diberikan kalau hambaNya tidak mampu, dan engkau Umi adalah hambaNya yang kuat, semoga selamanya kuat.

 

Perubahan kebijakan terjadi dinegara ini, setiap pegawai harus menggunakan fasilitas kesehatan negara yaitu BPJS, begitu juga dengan Ayah Sinug, yang mengharuskan Sinug pindah tempat terapi ke Rumah Sakit Umum yang ada fasilitas terapi.

 

Umi dan Sinug tetap berjuang dengan modal kekuatan yang ada menempuh setiap proses terapi dengan fasilitas BPJS ini, mungkin untuk setiap awal bulan proses BPJS melalui beberapa tahap dari tahap pengambilan surat rujukan di rumah sakit terdekat dan kemudian mengikuti tahap mengantri dan konsultasi dan mengambil surat rujukan dari dokter spesialis anak yang akan diteruskan ke bagian terapi di rumah sakit umum.

 

Umi dan sang kakek ikut menemani Sinug untuk menjumpai Dokter Spesialis Anak agar mendapat rujukan ke bagian terapi yang disebut bagian Rehabilitasi Medis. Proses antrian yang begitu lama dan banyaknya pasien yang sudah menunggu membuat Sinug tidak betah, ada saja yang dilakukannya untuk menghilangkan kebosanannya, sesekali kakek dan umi bergantian membawa Sinug berkeliling, tapi energi Sinug tak ada habisnya, ia selalu ingin bergerak.

 

Sampai saatnya Sinug pun dipanggil kedalam ruangan perawat untuk diambil datanya seperti berat badan, tinggi badan dan lain –lain, bagi Sinug ruangan tersebut adalah arena permainan yang baru dab mengasyikkan, dan Sinug pun beraksi.. Ketika menaiki timbangan, dia melompat dan alat pengukur tinggi badan di tariknya sampai lepas dari sarangnya, wajah perawat senior mulai tidak karuan, lalu Sinug mulai ke peralatan yang lain, Umi sudah kewalahan memeganginya, ia melompat dan memanjat kemudian melompat lagi, dan seketika perawat pun kaget, “mak, jantungan aku dibikin anakmu..Kau jagalah anakmu itu, “ Tersentak seketika Umi yang masih saja sibuk memegangi Sinug anaknya, mendengar bentakkan si perawat senior diantara setiap tingkah Sinug yang tidak bisa diam karena selalu melompat, dan memanjat lagi diantara peralatan rumah sakit umum di kota kami. “Maaf bu, anak saya memang seperti ini” jawab Umi sekedar sambil keluar ruangan.

 

Tidak selesai hanya di dalam ruangan para perawat, Umi, Kakek dan Sinug disuruh mengantri lagi diluar menunggu panggilan ke ruangan dokter, dan lagi-lagi Sinug mulai memanjat tembok pinggiran Rumah Sakit , walau tangan Umi selalu memegangi Sinug tapi kelincahan Sinug benar-benar tak ada capeknya. Sang perawat senior yang tadi ternyata lewat lagi, dengan wajah sangat marah dia menghardik Umi didepan orang banyak “lasak kali anakmu itu..kau jaga itu..”. Umi yang sudah lelah tak mampu menjawab apa-apa lagi, hanya ada segaris senyum diwajahnya atas perkataan sang perawat, dan dalam hatinya hanya mencoba menghibur diri sendiri dan membatin sendiri “apakah perawat ini tidak menegrti mengapa anak saya dibawa kesini?”,  Umi bukan orang yang suka berdebat atau membalas kata-kata kasar, dia memilih diam.

 

Akhirnya Sinug pun dirujuk ke bagian rehabilitasi medic untuk diterapi, dan Alhamdulillah di tempat ini para perawat dan therapistnya sangat pengertian, mereka sangat memahami kondisi Sinug, Umi mencoba berdialog dengan seorang therapist dan menceritakan setiap kendala yang dihadapinya bersama Sinug, dan juga menceritakan betapa tidak mengertinya banyak orang disekitar mengenai anak seperti Sinug bahkan mereka yang bergelut di bidang kesehatan, mereka pun ternyata banyak yang tidak mampu memahami kondisi anak seperti itu. Jawaban sang therapist sangat menenangkan dan memotivasi Umi mungkin karena begitu banyak pengalamannya menghadapi kondisi anak yang seperti Sinug, ada kata katanya yang tidak pernah dilupakan Umi sampai kapanpun dan selalu membuatnya percaya diri, therapist itu mengatakan pada Umi “ buk..jangan terlalu memikirkan apa pandangan orang lain kepada kita, tidak semua mereka memahami kita, pada akhirnya setiap orang akan memikirkan perutnya sendiri”, entahlah, tapi kata kata itu begitu menguatkan Umi sampai saat ini, karena setiap persoalan yang dibagi kepada orang lain mungkin akan sedikit melegakan hati kita namun pada akhirnnya kitalah yang paling mampu menyelesaikan masalah kita sendiri.

 

 

 

*ABK= Anak Berkebutuhan Khusus