ABK Itu Anakku #one

31
Karya 31  Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 16 April 2016
ABK Itu Anakku  #one

Sinug, bocah lelaki usia 4 tahun dengan ciri autis pada dirinya mengharuskan orang tuanya berfikir keras bagaimana caranya agar anak lelaki itu mendapat penanganan segera oleh sang ahli.

 

Mulanya dua tahun yang lalu, disaat usia Sinug satu tahun, Umi sudah curiga ada sesuatu dengan perkembangan motorik halusnya, ada dua ciri autis yang sangat menonjol pada dirinya yaitu dia tidak pernah mengetahui namanya sendiri, karena dia tidak akan menoleh atau melihat atau berekspresi ketika dipanggil namanya,  lalu ciri yang kedua dia tidak melihat kearah jari Umi menunjuk ketika diajak melihat kearah suatu objek.

 

Bingung, mungkin kata itulah yang paling pas menggambarkan kondisi orang tua Sinug saat itu, akhirnya Umi sang ibunda menguatkan tekadnya untuk membawa sinug ke dokter spesialis, dan benar saja sinug harus terapi, “tapi darimana biaya segitu bisa kita siapkan setiap bulannya untuk jangka waktu yang lama?” Tanya sang Ayah membuat hati Umi semakin sedih, “andai saja aku tidak mundur dari pekerjaanku kemarin” Umi membatin , Umi dan Ayah pun hanya bisa terus terdiam dan mencoba mencari jalan keluar dalam diamnya.

 

“Alhamdulillah Mi, Ayah sudah mendapat persetujuan dari tempat Ayah bekerja untuk membantu biaya Sinug kita terapi” ucap sang Ayah dengan semangat saat pulang kerja malam itu, “Alhamdulillah yah..biar Umi yang urus tekhnisnya nanti” semangat sang ibunda begitu menggebu-gebu seolah Sinug pasti akan segera berubah seperti anak seusianya.

 

Terapi berjalan lancar, sebulan..dua bulan..setahun, dan Sinug sudah banyak perkembangan karena kegigihan umi yang setiap tiga kali seminggu membawa sinug walau harus menggendong Sinug pergi dan pulang terapi sampai usia Sinug 3 tahun, dan Sinug tetap lebih sering digendong oleh umi, bukan karena sinug tidak lancar berjalan tapi karena Sinug tidak bisa tenang kalau ada yang diinginkannya ditengah jalan, dia akan sangat fokus pada apa yang diinginkannya, tidak perduli apakah itu di jalan raya ataupun di rumah orang lain. Dan yang menyulitkan Umi karena Sinug belum mampu berkomunikasi, jadi pada saat dia menginginkan sesuatu dia akan mengambilnya tanpa bicara dan bila dilarang oleh Umi tentu saja Sinug tidak mengerti dengan ucapan Umi dan ia akan guling-guling sambil teriak histeris disaat itu juga, terkadang air mata Umi pun tak sanggup lagi membendung emosi yang tak menentu saat itu. Tapi benarlah kalau sudah Allah katakana bahwa cobaan itu tidak akan diberikan kalau hambaNya tidak mampu, dan engkau Umi adalah hambaNya yang kuat, semoga selamanya kuat.

 

 

 

*ABK= Anak Berkebutuhan Khusus


  • Pemimpin Bayangan III
    Pemimpin Bayangan III
    1 tahun yang lalu.
    Fiksi or nyata ini, eh... ? ^_

    • Lihat 13 Respon

  • Silmi Kaffah
    Silmi Kaffah
    1 tahun yang lalu.
    mbaaaaaa aku mau tanyak.. lewat wa aja tapi *ade janji jani mulu mau nge wa, tapi gak pernah kelaksana* hmm

    • Lihat 13 Respon