Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Catatan Harian 9 September 2017   17:43 WIB
Hidup ini Indah.

Tidak terasa, Kita adalah anak-anak detak waktu yang terus berjatuhan. Tanpa Kita sadari, jumlah bilangan usia Kita semakin hari semakin berkurang. Senja yang kemaren begitu indah kini sudah tidak ada lagi. Api Unggun, Nyiur Melambai sepoi-sepoi. Atau cengkrama burung-burung. Semua sudah tidak lagi sama, meskipun masih dipantai yang sama. Matahari yang sama maupun karang yang sama. Ada sesuatu yang sesungguhnya Kita lupa. Yaitu Rasa. Kita terhanyut bersama bahagia namun Kita lupa bila kemaren Kita justru menangisi suatu sudut sisi hati yang tergores luka. Kita meratapi senja ini dan Kita lupa bila disini, kemaren adalah dimana canda tawa itu berserakan. Begitulah, Kita tidak pernah berada pada rasa yang sama. Kita bukan berkekalan dibawah naungan anugerah meskipun sedikit bahagia akan mampu menghapuskan setumpuk duka lara. Kita sering terhanyut pada rasa dan Kita lupa. Kita lupa bila lupa itu adalah pakaian, bahwa lupa itu adalah identitas kemanusiaan Kita. Kita lupa bila Kita pelupa. Maka dari itu, Kita perlu, harus dan patut merayakan setiap rasa yang ada. Susah, sedih, senang maupun bahagia. Semua adalah rasa. Semua adalah anugerah. Semuanya adalah kasih, meskipun kadang-kadang Kita terjebak dan putus asa, namun Kita juga lupa bila rasa itu juga tidak pernah sama. Aku pernah menangis, Aku pernah terluka dan Aku juga telah merasakan secicip kecil bahagia. Aku terjatuh, Aku gagal dan Aku terpuruk. Lalu Aku juga pernah berada pada puncak definisi bahagia yang Aku inginkan. Namun semua hanyalah rasa. Semua tak abadi. Semua tak selamanya. Yang kemudian membuat Aku tersadar bahwa semua hanyalah rasa yang tak abadi, hingga akhirnya Aku mulai memahami betapa pentingnya meresapi segala rasa yang ada dan pernah singgah. Bahwa Aku hanyalah ketiadaan pun sebagai ada yang juga tak abadi dan takkan pernah abadi. Kemudian Aku menemukan jalan pulang. Kemudian Aku mulai sedikit mengerti tentang kenapa, apa dan bagaimana, hingga Aku menyadari bahwa Aku hanyalah hamba sehingga pada akhirnya Aku tahu bahwa rasa hanyalah kecapan yang tidak patut dipertahankan pada satu sensasi aroma melainkan mengalir pada alur yang akan bermuara, yaitu kepada kesirnaan. Begitulah Aku memaknai detak waktu, yaitu penghambaan dengan mengecapi segala rasa sehingga makna yang Aku temukan adalah Cinta. Begitulah Aku memaknai hidup dengan menikmati rasa itu.

Karya : Iswandi Taher