BERBEDA INI NIKMAT.

Iswandi Taher
Karya Iswandi Taher Kategori Proses Kreatif
dipublikasikan 15 Juni 2016
BERBEDA INI NIKMAT.

Saudaraku, seperti yang kita lihat bahwa saat ini kita sebagai ummah seperti di majemukkan oleh golongan-golongan karena 'Cara Pemahaman' tentang menangkap maksud dan tujuan sunnatullah yang berbeda-beda. Akhirnya kita terpisah antara satu sama lain yang bisa saja justru akan dimanfa'atkan oleh pembenci-pembenci islam sebagai celah untuk pemecah belah ummat dengan konsep 'Memisah Domba dari sekawanan' yang kemudian justru akan menjadi incaran serigala-serigala kelaparan.

Apapun itu, Kita adalah Ummat yang satu dengan Rasul yang satu serta Kitab yang satu.
Perbedaan itu adalah indah jika menjadikan kita warna-warna yang berkesaling melengkapi antara satu kepada yang lainnya. Bukan justru menjadikannya jurang atau sekat pemisah sebagai ummat Muhammad yang satu.

Sallu'aalannabiy(Salallaahu 'alaihi waa sallam).

Adapun tentang definisi serta Klarifikasi dari sifat sombong itu bukan dinilai dari bentuk/wujut sikap perbuatan yang tampak kasat mata saja(ditonjolkan). 
Misalnya dengan berpakaian dibawah mata kaki. Jilbab yang tidak menjulur-julur menjangkau bumi Atau hal-hal yang syar'i lainnya yang justru ditinggalkan atau di tiadakan saja dengan mengklaim bahwa segala sesuatu yang diluar daripada sesuatu yang tidak syar'i itu adalah Munqaaran/Munkar.

Karena dari satu hadisth kepada hadisth yang lain itu akan berkesaling berjawab-jawaban(melengkapi, melemahkan atau justru membatalkan). 
Jadi tidak boleh berhujjah dengan 'Satu' landasan hadisth tunggal saja dengan mentiadakan sisi-sisi hadisth lain yang melemahkan, membatalkan maupun menguatkan kepada anjuran tersebut. Dalam hal ini kita 'Membutuhkan' Ijma' dari pada para Ulama yang kompeten dalam hal itu.

Bukankah Al Ulama'u waraasatul anbiya'(Ulama adalah pewaris risalah nabi)?

Adapun Sunnah, sifat hukumnya tidak mutlak secara persepsi dan bukan tanpa daya nalar sama sekali. Atau tanpa Usaha Peran Akal atau 'ortodoksitas', melainkan memiliki toleransi. Atau butuh penalaran oleh para 'Aalim.
Atau, jika di jalankan akan mendapatkan pahala, jika ditinggalkan tidak berdosa.

Ada klarifikasi dari definisi sifat-sifat hukum yang menjadikan syari'at itu menjadi wajib, sunnah, mubah/boleh serta haram dsb.

Dan perpakaian secara syar'i adalah salah satu yang wajib pada persepsi 'Menutup Aurat' saja. Tentang bentuk serta cara, ini akan beragam. Namun akan menjadi baik lagi membaikkan apabila lebih baik dalam keseragaman. Dan bukan tidak boleh apabila berbeda tapi memenuhi kepada syarat wajibnya.
Karena ada faktor-faktor yang barangkali akan menggugurkan kepada ke-sunnah-an tersebut(akan menjadi tidak mutlak karena tidak wajib). Namun akan menjadi sunnah(berpahala) ia jika dilaksanakan menurut tatanan panduan sunnah rasulnya. Kemudian boleh(tidak apa-apa) jika telah memenuhi kepada menutup aurat namun tidak menjulur-julurkannya bersebab sesuatu dan lain hal(faktor). Misalnya dlalurah/darurat atau mengganggu jika dijulur-julurkan karena pekerjaan dsb. Namun telah memenuhi ia kepada definisi 'Menutup' secara persepsi wajib tersebut. Maka tidak mengapa bagi mereka untuk seperti itu. Adapun menutup, tidak termasuk di dalamnya dengan kata 'Membungkus'. Misalnya tertutup, tapi masih menonjolkan lekukan tubuh mereka. Atau berpakaian tapi pamer. Misalnya Jenis Kain mahal dengan hiasan mewah dsb. Ini telah menimbulkan perilaku riya'.

"Sombong itu adalah Menginkari Kebenaran.
Sombong itu ialah sikap hati yang merasa paling benar dan tidak menerima pembenaran."

Bisa saja justru 'Jidat Hitam' akan menumbuhkan sifat sombong. Celana Cingkrang dalam berperilaku akan melahirkan sikap riya' ujub, khibr dsb.

Apapun itu, basic landasan dari penilain_Nya itu ialah Hati pada nawaitu/niatnya. Bukan form, bukan sikap, bukan tampilan bentuk sikap atau hal-hal lain, karena antara hati dan sikap perilaku diri itu bisa justru kontras atau bertolak belakang atau berpura-pura atau bersandiwara. Ini tergantung niat atau tujuan si individu tersebut.

Jadi, perilaku zahid itu ialah 'Menyembunyikan Amalan' seolah-olah tidak merasa bahwa diri itu telah bertindak dalam keshalihan menurut panduan ajaran_Nya dari mata Orang Lain. Bukan perilaku sikap yang ditonjolkan dalam sikap perbuatan diri demi pandangan Orang Lain tapi demi Ridha_Nya. 
Bukankah Ridha_Nya adalah tujuan dari panduan millah yang agung itu?

Meskipun begitu, Maqaam sunnah tentu akan lebih baik daripada mubah. Dan mubah akan lebih baik daripada makhruh serta makhruh justru akan lebih baik daripada haraam.

Contohnya

'Meninggalkan memakan Jengkol dan Petay karena mudharatnya bagi Orang Lain, bukankah tidak apa-apa jika mengkonsumsinya?'

Ini makhruh hukumnya. Bukan haram, karena tidak apa-apa jika orang lain tidak merasa terganggu.

Begitupun perilaku sunnah itu.
Boleh dan baik jika dilaksanakan, dan boleh dan bukan tidak baik jika tidak menunaikannya asal kepada yang wajibnya tidak meninggalkan.

Jadi, secara persepsi, sifat hukum-hukum itu memiliki tingkatan-tingkatan atau Maqaam yang menjadikan para ulama bersilang pendapat/berbeda pendapat tentang penghayatan maknanya. Dan sebagai orang yang awwaan dalam menjatuhkan kesepakatan hukum, maka kita di anjurkan untuk mengikuti yang Fasih/Faham dalam beragama. Dalam hal ini Ulama adalah orang yang fasih tersebut. 
Maka tidak boleh bagi kita untuk berhujjah/memutuskan pendapat dengan logika akal sendiri disebabkan 'Miskin'nya ilmu serta pemahaman diri tentang hal tersebut. 
Maka, adapun upaya kita adalah 'Menjalankan Syar'i menurut panduan pemahaman ulama dengan tidak memisahkan segolongan kepada segolongan yang lain kemudian justru membenci para saudara se iman yang lain.

Cintailah yang di Bumi, maka yang di Langit akan mencintaimu.

Berbeda faham itu boleh dan membenci itu dilarang, Apalagi sampai menjadikan kita berperilaku "Unhumanist" dan "Irrasional'. 
Bukankah kita tidak memiliki hak atas makhluk_Nya selain sekedar menyampaikan dakwah?

Nah, itu!

  • view 114