I'TIBAR/PEMBELAJARAN.

Iswandi Taher
Karya Iswandi Taher Kategori Inspiratif
dipublikasikan 14 Juni 2016
I'TIBAR/PEMBELAJARAN.

Saudaraku, pernah mendengar tentang Kisah Seorang Pelacur yang Masuk Surga hanya lantaran karena memberi minum Se Ekor Anjing?

Kisah ini terjadi pada masa Ke-Nabian Isa AS. 
Raja Kaum Bani Israel.

Kisah yang menjadikan seorang wanita yang diberkahi dengan Surga meskipun ia adalah seorang Pelacur yang secara hukum akidah adalah berkelayakan tempat kembalinya adalah Neraka yang Kayu Bakarnya adalah Manusia.

Meskipun kisah ini nyata, jangan sampai kita menjadikannya sebuah contoh yang patut ditiru dalam perepsi buruk(Masa Lalu)nya. Tapi kita bisa mengambil I'tibar(pelajaran) tentang Ke_Maha_Luas_an Pengampunan_Nya bagi setiap Hamba_Nya. 
Betapa Ia sungguh sangat Maha Pengampun meskipun Dosa Hamba_Nya setinggi Jabal Uhud(Gunung Uhud).

Pertanyaannya adalah, 
Kenapa seorang yang 'Amalannya yang sehasta saja jaraknya dari neraka' itu justru beroleh Pengampunan. 
Kenapa hanya lantaran dengan 'Memberi Minum Se Ekor Anjing' yang di hina kan dalam Persepsi Islam itu justru beroleh Belas Kasih Ampunan_Nya? Padahal, amalannya hanyalah sekecil 'Biji Dzarrah' jika di bandingkan dengan perilaku Maksyiyah/Maksiyat nya. Kenapa?

Baiklah, jika saja sebuah kisah atau bahan bahasan di limpahkan ke dalam suatu forum, maka penilaian yang muncul akan beragam tergantung persepsi masing-masing. 
Namun, apapun itu, selalu ada 'Basic' atau alasan tentang 'Kenapa'nya sebagai 'Kunci' yang bisa di ambil untuk perbandingan dalam upaya-upaya untuk meraih 'Kunci Rahasia_Nya' tersebut.

Jika begitu, kita runut dulu dari awal tentang masalah ini.

Pertama, basic/alasan landasan dari pokok pola fikirnya.

Kisah itu dikisahkan pada masa Ke_Nabi_an Isa 'alaihi salaam yang di utus kepada Kaum Bani Isra'el dari bangsanya sendiri(Bani Isra'el).

Adapun pada masa itu telah dikisahkan bahwa telah terjadi Musim Paceklik yang yang panjang yang kemudian menyebabkan sangat susahnya kehidupan Umat Isa a.s pada masa itu. Dimana dikatakan bahwa musim paceklik itu menggerogoti seluruh kaumnya sehingga menjalarlah kelaparan, kemiskinan, kemelaratan serta hal-hal lain yang menuntut setiap orang-orang pada masa itu harus mempertaruhkan 'Akidah' mereka sekalipun demi keberlangsungan hidup mereka. 
Dikatakan bahwa pada masa itu, Isa sebagai Sang Pengurab/Penyembuh sampai-sampai membagi-bagikan roti(dari mu'jizat ke nabia)annya sebagai penganan pokok untuk keberlangsungan hidup orang-orang atau pengikutnya.
Lalu kemudian Isa di kultuskan sebagai Urabi oleh kaumnya dan bahkan sampai pada masa sekarang mereka memper'Tuhan'kan Isa. Bukan sebagai Hamba Suci yang diutus kepada suatu kaum.

Kedua diceritakan bahwa
Sampai-sampai untuk sekedar mendapatkan air saja sangat sulit sekali. Sehingga bahkan se ekor anjing pun mengalami dehidrasi itu. 
Begitulah, pada masa itu telah terjadi sebuah bencana besar umat Isa sebagai ujian bagi keimanan mereka kepada Injil yang di turunkan.

Jadi, dari kisah tersebut bisa ditarik kesimpulan bahwa si wanita yang disebutkan itu berbuat bukan atas dasar untuk sekedar memperoleh kesenangan duniawi semata, melainkan keterpaksaan sehingga ia menempuh(barangkali) satu-satunya jalan dengan 'Memperdagangkan' diri mereka.

Pada riwayat kisah itu di paparkan bahwa wanita-wanita yang lahir pada masa itu tidak jarang di perdagangkan oleh Orang Tua mereka dengan alasan ekonomi.

Kemudian yang menjadi tolak ukur pemikiran dari kisah itu ialah tentang sisi 'Mengapa' Tuhan justru mengampuni si wanita tersebut hanya gara-gara memberi air kepada seekor anjing.
Yang pertama barangkali bisa saja bersebab oleh 'Kesungguhan'nya dalam upaya menempuh Jalan Taubat. 
Atau tekadnya untuk berupaya 'Mensucikan' diri dari perilaku maksyiatnya pada masa lalunya itu. Karena dikatakan bahwa ketika telah sampai tangannya dengan air yang ia ambil dari sumur itu, maka tiba-tiba di lihatnya seekor anjing yang menjulur-julurkan lidahnya dan menggoyang-goyangkan ekornya kepadanya.

Secara fakta, anjing hanya tunduk pada majikannya saja tanpa memperdulikan orang lain. 
Secara fakta lagi, se_ekor anjing jinak sekalipun, jika ia tidak benar-benar kelaparan atau kehausan, ia tidak akan pernah mau untuk bersikap seperti itu kepada orang lain yang belum 'dekat' secara emosional atau pendekatan hati, atau Majikan dan Asuhan(peliharaan)@red dengannya.

Artinya seekor anjing tersebut telah benar-benar tidak mampu lagi untuk sekedar bertahan dari paceklik tersebut sehingga ia mempertuankan siapapun yang barangkali bisa untuk sekedar berbelas asih kepadanya.

Sedangkan di waktu itu si wanita tersebut juga benar-benar sedang dalam perjuangan untuk sekedar bertahan karena kehausan yang sangat. 
Maka secara logikanya, sudah pasti akan terjadi pedebatan panjang di dalam dirinya tentang putusan sikap. 
Dirinya atau seekor anjing yang sama-sama mengalami ke adaan yang sama-sama sedang sekarat. Dan iya sedang dalam upaya untuk meraih pengampunan Tuhan_nya. Lalu ia memutuskan untuk memberika air itu kepada seekor anjing tersebut.

Sebagai manusia kita tentu akan Mengutamakan diri kita dahulu daripada yang lain, apalagi 'hanya' se ekor anjing. 
Tapi kenapa ia justru sebaliknya? 
Kenapa ia malah mendahulukan anjing yang secara tiba-tiba datang kemudian meminta belas asih dari seorang manusia yang juga sama-sama menanti belas asih? 
Kenapa ia justru mempertaruhkan nyawanya hanya demi membantu hewan yang secara konsep berada pada Rantai Makanan terbawah sebuah sistem(pengurai) tersebut?
Ada apa? Apa alasannya sehingga dia benar-benar mampu untuk menjadi sangat 'manusiawi' sekali? Memiliki Jiwa@red.

Pada kisah tersebut bisa kita tarik kesimpulan bahwa yang menjadi pertimbangan si wanita tersebut adalah Belas Asih. Kasih, Jiwa atau Hati atau Sisi Kesucian Jiwa dari Rasa Berperi Kemanusiaannya.
Sebagai suatu sikap yang seharusnya mampu sebagai pembeda antara makhluk berakal yang bernama Manusia. Atau pembeda 'Karakter' mereka sebagai sama-sama hewan secara konsep.

Ini sepadan dengan

"Allah tidak melirik tampang rupamu melainkan Hatimu.''

Lalu kenapa justru kita saksikan pada jaman ini manusia-manusia yang bertindak seperti Rimba'is'? Sedangkan pada satu sisi mereka mengharapkan Ridha Tuhan mereka?
Padahal Konsep saja tidak mutlak menjadikan seorang manusia itu akan mampu meraih Ridha' Tuhan mereka melainkan Jiwa Kemanusiaan mereka yang masih tetap memiliki hati. Atau Rasa Kemanusiaan.
Atau " Allah hanya melihat kepada Hatimu." 
Bukankah manusia itu adalah Kasih Sayang mereka?

Jadi, jika ingin meraih Ridha_Nya itu, maka jadilah Manusia yang memiliki Jiwa yang terkonsep. Atau karakter yang terbentuk dari sebuah konsep, dalam hal ini Al_Qur'an dan Sunnah Nabi-nya adalah sebagai tatanan dalam peri kepribadiannya atau 'Humanist'. Jiwa yang memiliki Kasih Sayang kepada sesama Makhluk untuk Ridha Tuhan mereka.

"Sayangilah yang di bumi, maka yang di langit akan mengasihi engkau."

Jika mereka 'Masih' enggan untuk bertaubat, jika mereka masih 'Berat' untuk tunduk, patuh dan ta'at kepada Rabb Alam Semesta, maka berilah mereka waktu. Beri mereka kesempatan, beri mereka pencerahan. Beri mereka petunjuk serta do'akan supaya mereka mendapatkan Hidayah_Nya, bukan justru malah 'Menjustifikasi' mereka lantaran mereka belum beriman.

Bukankah hanya Ia yang Maha Berkehendak atas apa-apa yang dikehendaki_Nya?

Jangan menghukum! Tapi mengajaklah, karena upaya manusia hanya sebatas itu. Bukan mengadili Makhluk Tuhan.

 

  • view 87