Pesan Sang Kakek Tua

Pesan Sang Kakek Tua

Yudiar Ar-Rasyid
Karya Yudiar Ar-Rasyid Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 26 Maret 2018
Pesan Sang Kakek Tua

Pesan Sang kakek Tua

Gelapnya malam menepis kesunyian hati yang tengah dilanda keresahan pilu yang menyayat batinku. Aku duduk termenung sembari menatap langit yang menanungi malamku. Tiba-tiba terlintas di benakku yang selama ini tanpa ku sadari sedikitpun. Mencoba menguak sisi yang penuh dengan dimensi dan cerita tersembunyi. Aku terdiam sejenak, mataku terus tertuju ke atas langit yang menampilkan kilauan dan gerlap-gerlip bintang dengan segala keindahannya. Ribuan bahkan jutaan bintang dihiasi sang rembulan dengan pancaran cahaya yang mampu menerangi bumi dan seisinya. Semua itu membuat hatiku tergugah dan membuat mata ini terpana dan enggan untuk berpaling.

Hati kecilku mencoba untuk berbicara, seakan terjadi konflik yang sangat dahsyat, ingin sekali mengungkapkan rasa kekaguman yang menyentuh hatiku saat itu. tanpa sedikitpun jeda hatiku terus bergejolak, kagum akan keindahan yang sangat megah dan indah. “sungguh mahakarya yang sangat luar biasa, lukisan alam yang menggambarkan cinta, cinta sang pencipta kepada hambanya,” kata ku dalam hati. Aku pun semakin larut dalam heningnya malam dan keindahan akan ciptaan yang maha dasyat dan aku pun semakin sadar betapa kuasanya tuhan yang tiada tertandingi oleh apapun. Tik...tik...tik, gerimis mengundang suasana hatiku saat itu. Segera aku bergegas untuk kembali ke kamar dan menutup pintu menanti saat-saat mata terlelap sambil menatap langit-langit rumah hingga mentari esok kembali menyapaku.

Tabuh pun berbunyi, menandakan subuh pagi, aku bergegas menuju kamar mandi dan berwudu, walaupun dingin membalut tubuhku saat itu.  Mentari pun perlahan mulai menampakkan sinarnya, menyilaukan kamarku lewat celah-celah jendela.  Aku berdiri tepat di depan jendela, menatap keluar rumah. Kurasakan nikmatnya mentari pagi menyentuh kulitku, dan angin pagi yang sejuk sambil menghirup udara yang begitu segar. Derainya angin menerjang pohon-pohon yang diam, membangunkan dedaunan yang tengah tertidur. Biasnya disambut baik oleh burung-burung yang sedang melebarkan sayapnya. Ayam jantan berkokok seolah bernyanyi dengan riang. Mereka tak murung kala gerimis kembali  turun di pagi buta. Terkecuali, seorang berusia senja di teras rumah yang sedang termenung, menatap embun membasahi taman bunga yang ada di depan rumahnya. Ia merunduk penuh keputusasaan, menciumi aroma sampah dekat sungai di samping rumahnya dengan tatapan kehampaan. Kemudian aku datang padanya, lantas bertanya. “Ada apa, Kek?”

 Ia masih dengan kesibukan yang sama. Dengan mata yang terpejam, ia terus menerus menghirup aroma sampah yang menggunung tepat di tepi sungai. Mendadak ia menarik tanganku. “Lihat di hadapanmu! Tangan-tangan usil telah mengotorinya…”

Aku terdiam karena ucapannya yang sangat dalam. Kepeduliannya pada lingkungan membuatku merasa malu dengan statusku sebagai seorang pemuda yang acuh akan hal seperti itu. “Lalu apa yang membuat Kakek termenung di bawah hujan sederas ini?” tanyaku sembari mengusap wajah yang basah. “Menikmati nikmat Tuhan yang mungkin tak bisa kita rasa lagi nanti.” “Maksud Kakek?” “Lihatlah! Renungi… Di hadapanmu hanya bagian kecil dari dampak tangan-tangan usil itu. Bayangkan, jika kerusakan-kerusakan tak dihindari. Alam tak disayang. Apakah kau yakin akan merasakan dunia lebih lama?” ujarnya menjelaskan padaku.

Mendadak lidahku kelu tak bisa bersuara sebab apa yang dikatakan Kakek itu benar adanya. Tiba-tiba hujan mengguyur tubuhku, aku terpejam sejenak, merasakan tajamnya air yang jatuh dari langit. Sembari merenungkan ucapan Kakek itu. Aku menyadari bahwa hujan di jum’at pagi ini menyimpan rahasia yang penuh makna, karena biasanya hari ini masyarakat di desaku berhenti beraktifitas untuk mencari rupiah demi rupiah.

Aku segera memalingkan tubuhku, malu atas apa yang kakek itu lontarkan kepadaku. Kembali kakek itu melanjutkan perkataannya padaku, “Nak, empat puluh tahun lalu, saat kakek masih belia dan polos sepertimu, kakek dan teman seusiamu seringkali menikmati dan menghabiskan hari-hari dekat sungai ini.”  Aku terdiam sejenak, membayangkan apa yang kakek  itu lontarkan padaku, seakan tak percaya akan hal itu. “Ya...sungai itulah yang menjadi saksi bisu perjuangan kakek dahulu, setiap pagi kami menyeberangi sungai yang masih jernih dengan di kelilingi pohon-pohon yang sangat asri nan rimbun, sepulang sekolah kami kambali main kejar-kejaran mandi dengan riang, melepas kegerahan dan kelelahan, kakek juga sering memancing di situ”.

Perkataan kakek itu semakin memperjelas keraguanku, betapa indah dan asrinya pemandangan desaku saaat itu. Kulihat lingkaran senyuman menghiasi wajah kakek itu, seakan bernostalgia dengan masa lalunya. Pengalaman yang kakek rasakan saat itu sungguh membuatku haru dan membuat hati ini terus bergejolak ingin mencicipi nikmatnya keindahan alam yang Allah hadirkan untuk hambanya.

Aku kembali menolehkan pandanganku ke arah kakek itu sembari berkata “Lantas, apa yag terjadi dengan hari ini kek?” pohon-pohon tak lagi rindang, air sungai layaknya susu tercampur dengan miliyaran sampah yang berhamburan, hingga akhirnya keindahan desa kita sirna begitu saja tanpa pernah bisa dirasakan oleh generasi-generasi setelah kakek?” “Manusia terlalu serakah, haus akan kekayaan, yang membuat mereka buta mata dan hati mereka, begitu banyak tangan-tangan jahil, menebang pohon, membuang sampah, mencemari sungai dengan pukat dan peledak, dan itu hanya sebagian kecil dari perbuatan tak bertanggung jawab mereka. Begitu banyak hutan diekploitasi di luar sana, perut bumi mereka keruk tanpa memperdulikan akibatnya sedikitpun”.

Aku kembali tercengang mendengar omongan kakek tua itu, Terlihat raut muka kakek itu gemetar, mengerut, dan meneteskan air mata, membayangkan apa yang terjadi saat ini. Mungkin usia senjanya yang sudah renta yang membuatnya menangis karena tidak bisa melakukan apa-apa lagi untuk menjaga bumi dengan segala keindahannya, kataku dalam hati sambil mencerna jawaban kakek itu tadi padaku.

Tiba-tiba terlintas di benakku, perlahan aku mulai sadar setiap kata yang terucap dari kakek itu sarat akan makna, membuat aku sadar, betapa pentingnya menjaga dan memlihara alam yang telah memberikan sejuta kenikmatan dan kemegahan kepada kita, tapi kita enggan untuk menjaganya. Kita malah merusak dan menghancurkan secercah harapan untuk anak cucu kita. Segera kakek itu beranjak dari tempat duduknya seraya berkata “Perhatikanlah, keindahan yang semestinya kita jaga, ternyata terlalu manis untuk dinikmati, terlalu syahdu untuk diresapi, inilah anugerah yang tak pernah habis” pernyataan itu begitu ambigu dan semakin membuatku bingung untuk menemukan makna dibalik lisan yang terucap olehnya. Ia pun bergegas meninggalkanku dalam kesendirian di tepian sungai, meninggalkan suasana yang terus mengundang tanda tanya.

Beberapa saat setelah ia pergi, gerimis pun reda, mentaripun perlahan mulai nampak, namun sesekali masih tertutup awan hitam. Tetes demi tetes air jatuh dari pepohonan, dan terlihat orang-orang berlalu lalang melanjutkan aktifitas mereka.

Akupun bergegas kembali kerumah sambil terus merenung perkataan kakek tadi. Otak ku tak henti-hentinya berpikir, terus menerawang dan menjelajah setiap makna yang terlontar dari kakek tua itu. Yaps...tepat di persimpangan rumahku, semua itu seakan terungkap, sepenuhnya aku baru menyadari semua uacapan kakek itu. Mungkin tiada terlambat menyadari semuanya, bahwa Allah begitu mencintai hambanya, kepada alam lah kita berpijak, kepada alam kita membuang sampah dan hajat, kepada alam kita mengais rezeki, kepada alam kita melanggengkan kesombongan yang tak terbendung, kepada alam pun kita berdiri dengan angkuh. Andaikan Allah tidak menciptakan alam, mungkinkah kita hidup dan terus berenang di air, sementara kita bernafas dengan paru-paru, atau mungkinkah kita nyaman tidur di malam hari, ketika kita hidup di lautan dengan keganasan gelombangnya. “itulah ungkapan hati kecilku”.

Sungguh Allah kuasa atas segala sesuatu yang dikehendakinya. Betapa kuasa Allah sang Pencipta langit dan bumi, bersama lukisannya, sungguh lukisan-lukisan yang sangat menakjubkan, yang dianugerahkanNya kepada umatnya. Berbagai cara Allah tunjukkan, untuk membuktikan cintaNya kepada kita, dan alamlah salah satu bukti dan cara pencintaanNya. Karena itu, sebagai rasa syukur kita kepadaNya, maka kita pun mencintai ciptaanNya, sebagai bentuk pengakuan kita, bahwa kepunyaanNya apa yang ada dilangit dan dibumi. Cintailah alam ini dengan cinta yang membuat kita menjadi pandai bersyukur pada sang Khaliq. Perhatikanlah, keindahan yang semestinya kita jaga, ternyata terlalu manis untuk dinikmati, terlalu syahdu untuk diresapi, inilah anugerah yang tak pernah habis. “Terima kasih kek, untuk pengalaman hari ini” ucapku dengan spontan sambil berlari menuju rumah. Aku pulang dengan hati yang berbunga-bunga.

  • view 83