Artikel Siti Noraini : Peran Media Dalam Membangun Masyarakat Multikultural

SITI NORAINI
Karya SITI NORAINI Kategori Buku
dipublikasikan 18 Januari 2018
Artikel Siti Noraini : Peran Media Dalam Membangun Masyarakat Multikultural

PERAN MEDIA DALAM MEMBANGUN MASYARAKAT MULTIKULTURAL

Oleh

Siti Noraini

Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

Universitas Muhammadiyah Kupang

 

Abstrak

Multikultural adalah suatu masyarakat yang terdiri dari beberapa macam komunitas budaya dengan segala kelebihannya, dengan sedikit prbedaan konsepsi mengenai dunia, suatu sistem arti, nilai, bentuk organisasi sosial, sejarah, adat serta kebiasaan. Dengan adanya media masyarakat dari berbagai kalangan mudah mendapatkan informasi. Peran media juga sangat penting dalam menjaga keutuhan masyarakat multikultural. Masyarakat multikultural yaitu masyarakat yang beranekaragam budaya tercermin dengan adanya keragaman agama, etnik, bahasa, ras, suku, bangsa.

Kata kunci : peran media, masyarakat multikultural.

Pendahuluan        

Media di pandang punya kedudukan strategis dalam masyarakat. Ashadi Siregar (2004) memetakan tiga fungsi instrumental media yaitu untuk memenuhi fungsi pragmatik bagi kepentingan pemilik media sendiri, bagi kekuatan-kekuatan ekonomi dan politik dari pihak di luar media, atau kepentingan warga masyarakat.

Secara konseptual, keberadaan media dan masyarakat perlu dilihat secara bertimbal balik. Untuk itu ada dua pandangan yaitu apakah media membentuk atau mempengaruhi masyarakat, ataukah sebaliknya sebagai cermin atau dipengaruhi oleh realitas masyarakat. Dua landasan ini menjadi titik tolak dari bangunan epistemologi dalam kajian media, antara media dengan masyarakat cyber, dan antara masyarakat real dengan masyarakat cyber secara bertimbal-balik.

Pandangan pertama, bahwa media membentuk masyarakat bertolak dari landasan bersifat pragmatik sosial dengan teori stimulus-respons dalam behaviorisme. Teori media dalam landasan positivisme ini pun tidak bersifat mutlak, konsep mengenai pengaruh media terdiri atas 3 varian, pertama: menimbulkan peniruan langsung, kedua: menyebabkan ketumpulan kepada norma, ketiga: terbebas dari tekanan psikis bagi khalayak media.

     Pandangan kedua menempat media sebagai teks yang merepresentasikan makna, baik makna yang berasal dari realitas empiris maupun diciptakan oleh media. Dengan demikian media di pandang sebagai bentukan makna yang berasal dari masyarakat, maupun berasal dari orientasi kultural pelaku media. Dari sini dilihat pada satu sisi sebagai instrumen dari kekuasaan (ekonomi, dan/atau politik) dengan  memproduksi kultural dominan untuk pengendalian (dominasi dan hegemoni) masyarakat, dan pada sisi lain dilihat sebagai intitusi yang memiliki otonomi dan indenpendensi dalam memproduksi budaya dalam masyarakat.

Bagian Inti

  1. Masyarakat multikulural

Masyarakat multikultural disusun atas tiga kata, yakni masyarakat, multi, dan kultural.

“Masyarakat” artinya yaitu sebagai satu kesatuan hidup manusia yang berinteraksi menurut sistem adat istiadat tertentu yang bersifat terus menerus dan terikat oleh rasa toleransi bersama, “multi” berarti banyak atau beranekaragam, dan “kultural” berarti budaya. Jadi, masyarakat multikultural adalah suatu masyarakat yang terdiri atas banyak struktur kebudayaan. Hal tersebut di sebabkan karena banyaknya suku bangsa yang mempunyai struktur budaya sendiri yang berbeda dengan budaya suku bangsa lain..

           Kesadaran akan adanya keragaman budaya disebut sebagai kehidupan multikultural. Namun tentu tidak cukup hanya sampai disitu. Bahwa suatu kemestian agar setiap kesadaran akan adanya keberagaman mesti ditingkatkan lagi menjadi apresiasi dan dielaborasi secara positif. Pemahaman ini yang disebut sebagai multikultural. Multikultural bertujuan untuk kerjasama, kesederajatan dan mengapresiasi dalam dunia yang kian kompleks dan tidak monokultur lagi. Multikultural adalah ideologi yang mengakui dan mengagungkan perbedaan dalam kesederajatan baik secara individu maupun kebudayaan. Yang menarik disini adalah penggunaan kata ideologi sebagai penggambaran bahwa betapa mendesaknya kehidupan yang menghormati perbedaan dan memandang setiap keberagaman sebagai suatu kewajaran serta sederajat (Parsudi, 2011).

           Multikultural pada dasarnya adalah pandangan dunia yang kemudian dapat diterjemahkan dalam berbagai kebijakan kebudayaan yang menekankan tentang penerimaan terhadap realitas keagamaan, pluralitas, dan multikultural yang terdapat dalam kehidupan masyarakat. Multikulturalisme dapat juga dipahami sebagai pandangan dunia yang kemudian diwujudkan dalam kesadaran politik (Azyumardi Azra, 2007)

           Di lihat dari beberapa pengertian diatas masyarakat multikultural adalah masyarakat yang terdiri dari berbagai budaya, bahasa, agama, ras, yang dimana tinggal di suatu tempat dengan begitu banyak perbedaan.

 

  1. Peran media dalam membangun masyarakat multikultural

Terkait dengan isu keragaman budaya (multikulturalisme), peran media seperti pisau bermata dua, berperan positif sekaligus juga berperan negatif.

  • Peran positif media berupa:
  • Konstribusi dalam menyebarluaskan dan memperkuat kesepahaman antarwarga
  • Pemahaman terhadap adanya kemajemukan sehingga melahirkan penghargaan terhadap budaya lain
  • Sebagai ajang publik dalam mengaktualisasikan aspirasi yang beragam
  • Sebagai alat kontrol publik masyarakat dalam mengendalikan seseorang, kelompok, golongan, atau lembaga dari perbuatan sewenang-wenang
  • Meningkatkan kesadaran terhadap persoalan sosial, politik, dan lain-lain di lingkungannya.
  • Peran negatif media dapat berujud sebagai berikut:
  • Media memiliki kekuatan penghakiman sehingga penyampaian yang stereotype, bias, dan cenderung imaging yang tidak sepenuhnya mengambarkan realitas bisa nampak seperti kebenaran yang terbantahkan
  • Media memiliki kekuatan untuk menganggap biasa suatu tindakan kekerasan. Program-program yang berbasiskan etnis, bahasa dan budaya dapat mendorong dan memperkuat kebencian etnis dan perilaku rasis.
  • Pemberitaan yang mereduksi fakta sehingga menghasilkan kenyataan semu (false reality), yang dapat berakibat menguntungkan kepentingan tertentu dan sekaligus merugikan kepentingan pihak lain.

            Dari peryataan diatas dapat di ketahui peran media begitu besar dalam kehidupan masyarakat multikultural. Media dapat menyatukan masyarakat mutikultural dengan informasi yang di sampaikan. Masyarakat yang tinggal di jawa dapat mengetahui kehidupan masyarakat yang tinggal di Nusa tenggara timur. Sebaiknya pun begitu. Dan mereka bisa saling memahami karena sudah melihat kehidupan masing-masing namun media juga dapat merusak masyarakat multicultural dengan informasi yang berikan. Begitulah peran media yang bisah membangun masyarakat multicultural.

            Penutup

            Simpulan

            Setiap upaya yang dilakukan untuk menyeesaikan konflik kebangsaan di    masa    depan, tidak bisa dilakukan secara tambal sulam dengan mengandalkan pada niat      baik, tetapi dibutuhkan modus vivendi dan modus operandi-nya yang       terencana dan komprehensif.

            Pembangunan karakter  bangsa yang sudah hampir satu abad masih             menyisakan     banyak PR yang semakin rumit sehingga dibutuhkan kerja sama yang    sinergis di        semua bidang pembangunan, termasuk pengembangan media massa   dalam menumbuh kembangkan masyarakat multikultur yang di tandai oleh sikap             yang    egalitarian, toleran dan demokrasi. Dalam masyarakat multikultural, media             massa   memegang peranan penting dalam mengelola masyarakat multicultural dalam    kondisi damai.

 

 

 

Daftar Rujukan

Suparlan, Parsudi. 2011. Menuju Masyarakat Indonesia yang Multikultural. http://www.scripp.ohiou.edu/news/cmdd/artikel-ps.htm

Azra, Azyumardi. 2007. “Identitas dan Krisis Budaya, Membangun Multikulturalisme Indonesia.

Siregar, Ashadi. 2004. Mendorong Peran Ideal Media Massa dalam Pemilu Presiden.Yogyakarta.

  • view 162