Naskah Drama Siti Noraini : BELIS

SITI NORAINI
Karya SITI NORAINI Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 17 Januari 2018
Naskah Drama Siti Noraini : BELIS

BELIS

(Di malam hari yang sepi. Hasan duduk termenung memikirkan nasib keluarganya. Lantaran masalah keluarga pernikahannya harus kandas di tengah jalan. itu pun salah dia kenapa tidak bertanya dulu pada istrisnya. Kini ia telah terlanjur mengambil keputusan untuk percaya pada saudarinya. Dan itulah yang membuatnya menyesal. Nasi telah jadi bubur.  Ia telah membujuk istrinya dengan berbagai cara. Tapi sekeras apapun ia berjuang untuk memberbaiki pernikahan mereka sang istri tetap tidak menerima. Wajah istrinya berkelebat dalam pikirannya. Perempuan itu Ima namanya, istri yang ia nikahi di tanah Jiran. Di negara tetangga Indonesia itu mereka saling mengikat janji untuk menikah tanpa campur tangan belis. Meski pernikahannya tak menggunakan belis, namun bukan pertanda bahwa perceraian tak melahirkan belis. Belis tetap ada. Di Malaysia Hasan dan Ima di liputi kegembiraan.)

Hasan : Aku sangat bersyukur meski pernikahan kita di tanah perantauan, pernikahan kita tetap bahagia.

Ima      : Apalagi dalam pernikahan kita di karuniai lima orang buah hati semakin menambah kebahagian kita. (tersenyum kepada Hasan)

Hasan : (membalas senyuman ima) Iya istriku. Karena lima buah hati kita telah lahir, aku ingin mengajak kamu untuk kembali ke tanah kelahiran kita. Tanah di mana kita dibesarkan.

Ima      : Baiklah suamiku. Sudah lama kita tidak pulang.

(Maka pulanglah mereka ke kampung halaman untuk melepas rindu, setelah sekian lama merantau. Beberapa bulan hidup di Adonara, Hasan memutuskan kembali ke perantauan. Karena di Adonara Hasan susah mendapat kerja. Ia pun tidak bisa bergantung pada keluarganya di sana.)

Hasan  :  Istriku sudah lama kita di sini tapi aku belum mendapatkan pekerjaan.

Ima      :  Iya suamiku, pekerjaan d sini susah di dapat. Jadi apa rencanamu?

Hasan  : Aku ingin kembali ke Malaysia. Soalnya di sana mudah mendapatkan pekerjaan dan kau harus tetap di sini merawat anak-anak.

Ima      : (menatap sedih) Jika itu yang terbaik. Aku setuju dengan keputusan mu. Tapi kamu harus terus kasih kabar agar aku tak cemas.

(Maka ditentukan hari keberangkatan Hasan. Setelah Hasan berangkat, mulailah masalah yang terjadi pada Ima.)

Adik I : (duduk berkumpul dengan keluarganya)  Hai semuanya kalian sudah dengar cerita kalau  si Ima selingkuh?

Adik II            : Iya. Aku dengar dia selingku dengan orang sini juga. Dia tidak tahu malu yah. Kakak  aku kerja keras banting tulang dia malah enak-enakan selingkuh. Kurang ajar sekali  (pasang muka marah)

Adik I : Benar tu. Dia harus kita laporkan ke kak Hasan. Lagian ini saat yang tepat buat kita untuk pisahkan kak hasan dan Ima.

Adik II            : Aku setuju dengan kamu. (melihat Ima lewat depan mereka, mereka pun mulai bereaksi dengan rencana yang tadi mereka buat) eh Ima sini kamu (berteriak memanggil Ima untuk   menghadapp mereka)

Ima      : (berjalan menghampiri) Iya kenapa? Apa ada yang bisa aku bantu?

Adik I : Aku dengar bahwa kamu selingku dengan lelaki sini? (memasang muk judes)

Ima      : Itu tidak benar. Aku tidak pernah ada niat mau menghianati Hasan. Tidak sedikit pun.   (sedih)

Adik II:(marah) Aduh jangan pasang muka polos kamu deh. Kami tidak akan tertipu dengan muka polos kamu itu. Dasar penghianat (mendorong ima agar terjatuh)

Ima      :(menahan dorongan) Sumpah aku tidak pernah selingku (menangis) buat apa aku selingku?  Tidak artinya itu. Percayalah….(memohon)

Adik I :Alah buat apa percaya sama kamu. Buang waktu saja dan soal selingkuhanmu kami sudah   ceritakan ke kak Hasan. Supaya kamu tahu rasa. (tertawa terus pergi   meninggalkan Ima      dengan kesedihannya)

Ima      :(menangis di kamarnya) Pada waktu ini aku membutuhkan Hasan sebagai pelindungku,   namun Hasan yang sudah termakan hasutan keluarganya pun tak lagi memberi kabar     pada aku. (dihantui perasaan kecewa, sakit hati atas apa yang telah dilakukan oleh     keluarga Hasan). Bukan hanya keluarganya, Hasan juga telah menutup rapat-rapat pintu       kepercayaannya pada aku. (Hanya air mata kesabaran yang menemani hari-harinya. Tak ada lagi tawa), aku pusing kemana harus mengadu. Sampai akhirnya jalan perceraian pun    harus ku diambil..

(di tempat yang jauh Hasan di rundung sedih, maka ia pun menelpon keluarganya yang di kampung untuk membicarakan tentang perceraiannya.)

Hasan  :(sedih) Aku harus terima. (Hari-hari, ia habiskan hanya memikirkan rumah tangga). Karena ego aku telah bentangkan sajadah perceraian di depan istriku. Aku harus pulang      kampung halaman sekaligus membahas belisku pada Ima. (mengambil hp dan menelpon       keluarganya)

 Adik I            : (mendengar deringan hp dan mengangkatnya) Halo…Assalamualaikum kak (menyapa yang di seberang telpon)

Hasan  : (menjawab salam) Walaikumsalam dik. Lagi di mana?

Adik I : Lagi di rumah kak. Ada apa kak?

Hasan  : Kakak mau minta tolong besok kakak pulang ke kampung jadi nanti setelah kakak sampai suruh Jakir dan Rian naik ke rumah keluarga ima untuk bahas perceraian kakak.

Adik I : Baiklah kak. Nanti aku sampaikan di Jakir dan Rian.

Hasan  : Terima kasih dik. Kalau begitu sudah dulu yah. Sampai ketemu di kampung.

Adik I : Iya kak (menutup telpon)

                                                            ****

(Hasan telah sampai di kampung maka pergilah utusan dari keluarga Hasan ke rumah Ima. Utusan Hasan tiba di rumah Ima.)

Jakir     : Selamat pagi.

(Tidak lama terdengar salam dari dalam rumah.)

Lus      :Iya selamat pagi. (keluar rumah) Eh Nak Jakir dan Rian. Silakan masuk. ( sembari ke belakang untuk mengambil watabit’i, atau jagung titi yang menjadi suguhan khas)

Lus      : Ini jagung titi dan teh. Silakan di makan. Keluarga sehat?

Rian     : Iya mereka sehat-sehat saja.

( Setelah basa basi ia pun menanyakan maksud kedatangan kedua pemuda itu.)

Lus      :Sebenarnya apa maksud kedatangan kalian berdua ke sini? pasti ada sesuatu yang penting.

Jakir     :Kedatangan kami ke sini untuk menyampaikan amanat dari keluarga kami, bahwa hari Rabu minggu depan kami akan datang untuk membicarakan masalah bibi Ima dan paman Hasan.

Lus      : Baiklah, akan aku sampaikan amanat kalian kepada keluarga besar di sini.

(Lantas kedua pemuda ini pun pamit pulang.)

Jakir     : Kami pulang dulu bibi. Terima kasih atas makanannya.

Lus      :Iya. Hati- hati di jalan. Salam buat keluarga kalian (sedih memikirkan nasib adik  kandungnya sambil melepas kepergian Jakir dan Rian)

(Setiba di rumah mereka langsung disambut keluarga dengan menanyakan hasil pembicaraan itu.)

Hasan  : Bagaimana hasil pembicaraan kalian tadi? (Karena sudah dari tadi dia menunggu kehadiran dua pemuda tersebu.t)

 Jakir    : (menceritakan apa yang mereka bicarakan tadi) Jadi pembahasan kami tadi di atas begini paman. Tadi kami ke atas kami berjumpa dengan bibi Lus. Kakaknya bibi Ima.    Bibi Lus bilang nanti dia akan sampaikan kedatangan kita di keluarga besarnya. Jadi    mereka siap menerima kedatangan kita untuk membahas persoalan bibi Ima dan paman Hasan.

Hasan  : Baiklah kalau begitu. Terima kasih yah nak Jakir dan Rian sudah mewakili keluarga kita.

Jakir dan rian: (menjawab bersamaan) Sama-sama paman.

(Beberapa hari sebelum pergi ke kampung Ima keluarga Hasan duduk untuk berunding.)

Haji     : Siapa yang akan menjadi juru bicara, karena didalam adat Adonara, pihak suami tidak  punya hak untuk bicara?

Hasan  : Bapak Namang dan Haji yang akan menjadi pembicara karena keduanya lebih tua.

Haji     : Baiklah kalau maunya nak Hasan begitu kami siap.

(pagi itu di rumah Ima)

Keluarga Ima    : (berjabat tangan) Mari silakan duduk. Apa kabar semuanya? (senyum)

Keluarga Hasan : (membalas senyuman) Kabar baik.

(Mereka pun berbincang-bincang sebelum masuk pada acara pembahasan belis. Acara pembahasan belis pun di mulai. Yang dapat masuk ke dalam rumah adat adalah orang-orang yang menjadi utusan. Pembicaraan pun di mulai.)

Utusan Hasan  : Adik perempuan kalian sudah kembali. Berapa gading yang harus kami bayar?

Utusan Ima     : Lima gading yang harus kalian berikan.

Utusan Hasan  : Kalau lima gading kami tidak bisa berikan. Bagaimana kalau tiga gading?

Utusan Ima     : Baiklah.  Tapi ukuran panjang dari jari sampai siku itu satu gading. Sedangkan  yang dua lainnya dari jari sampai bahu.

Utusan Hasan    : Bagaimana semuanya sepakat?

(Semua pun menyatakan kesepakatannya.)

Utusan Hasan     : Jadi kapan kami harus bawa gading kesini?

Utusan Ima         :Tahun depan bulan Juni tanggal 19. Harus satu gading sudah diberikan. Kalau tidak maka anak perempuan Hasan  harus jadi millik kami.

Utusan Hasan      :Baiklah  kami akan membawa gading sesuai kesepakatan.

(Dalam perjanjian tersebut, jika gading tidak bisa diberikan tahun depan maka anak perempuan Hasan harus jadi milik keluarga Ima. Ima pun tidak berhak atas anaknya. Karena yang berhak adalah saudara laki-lakinya. Maka otomatis ketiga anak perempuan ini harus pindah agama Katolik. Sedangkan anak laki-laki tetap menjadi milik ayahnya. Inilah yang membuat Hasan pikiran. Dia hanya bisa pasrah kepada Tuhan. Akankah ia bisa memberikan gading yang sudah mereka sepakati?)

SELESAI

 

  • view 122