Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Cerpen 17 Desember 2017   14:49 WIB
cerpen SITI NORAINI : CERPEN

 

BELIS

 Oleh : SITI NORAINI

Mimpi yang tak pernah terbayang bahwa perceraian akan singgah di benaknya. Hasan duduk memikirkan nasib keluarganya. Lantaran masalah keluarga pernikahannya harus kandas di tengah jalan. Itu pun karena salahnya mengapa tak bertanya dahulu pada istrinya. Kini ia telah terlanjur mengambil keputusan untuk percaya pada saudarinya. Dan itulah yang membuatnya menyesal. Nasi telah jadi bubur.  Ia telah membujuk istrinya dengan berbagai cara. Tapi sekeras apapun ia berjuang untuk memberbaiki pernikahan mereka sang istri tetap tidak menerima. Pendiriannya seperti kokohnya gunung Ile Boleng. Tak bisa dihancurkan dengan janji secuil debu pun. Wajah istrinya berkelebat dalam pikirannya. Perempuan itu Ima namanya, istri yang ia nikahi di tanah Jiran. Di negara tetangga Indonesia itu mereka saling mengikat janji untuk menikah tanpa campur tangan belis.

Meski pernikahannya tak menggunakan belis, namun bukan pertanda bahwa perceraian tak melahirkan belis. Belis tetap ada seperti gunung Ile Boleng yang tetap ada pada tempatnya. Seperti tanah Adonara yang tetap tercium aroma darahnya. Hasan teringat bagaimana dulu ia berjuang untuk mendapatkan Ima. Perjuangan panjang tak kenal putus asa. Akhirnya ia bisa meluluhkan hati Ima. Perempuan yang selalu hadir dalam pikirannya. Membuat hatinya tak bisa menyimpan wanita lain karena cinta yang sudah mengakar di istana hatinya. Cintanya pada Ima seputih awan di pagi hari. Sejernih mata air surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai nan indah. Meski pada waktu itu umur Ima lebih muda di banding Hasan. Tapi itu tak  menjadi penghalang mereka.

Meski pernikahannya di tanah perantauan, pernikahan mereka tetap bahagia. Apalagi dalam pernikahan itu mereka di karuniai lima orang buah hati yang menambah kebahagian mereka. Setelah lahir lima buah hatinya, Hasan mengajak Ima untuk kembali ke tanah kelahiran mereka. Tanah di mana mereka dibesarkan. Maka pulanglah mereka ke kampung halaman untuk melepas rindu, setelah sekian lama merantau.

 Beberapa bulan hidup di Adonara, Hasan memutuskan kembali ke perantauan. Karena di Adonara Hasan susah mendapat kerja. Ia pun tidak bisa bergantung pada keluarganya di sana. Maka ditentukan hari keberangkatan Hasan. Setelah Hasan berangkat, mulailah masalah yang terjadi pada Ima.

Masalah itu tak habis-habis seperti ombak yang datang mencium bibir pantai. Laksana matahari  yang setia pada siang. Itulah awal kehancuran rumah tangga mereka. Sampai suatu hari Ima difitnah dengan kejinya. Ima difitnah melakukan sesuatu yang tidak pernah terlintas dalam pikirannya.

Pada waktu itu dia membutuhkan Hasan sebagai pelindungnya, namun Hasan yang sudah termakan hasutan keluarganya pun tak lagi memberi kabar pada Ima. Ima dihantui perasaan kecewa, sakit hati atas apa yang telah dilakukan oleh keluarga Hasan. Bukan hanya keluarganya, Hasan juga telah menutup rapat-rapat pintu kepercayaannya pada Ima. Hanya air mata kesabaran yang menemani hari-harinya. Tak ada lagi tawa, ia pusing kemana harus mengadu. Sampai akhirnya jalan perceraian pun diambilnya.

Berat harus ambil keputusan seperti itu, karena bukan hanya ia yang menjadi korban melainkan anak-anaknya juga. Tapi sakit hatinya tak bisa diobati maka ia pun ambil keputusan bercerai. Dan Hasan hanya pasrah mendengar keputusan itu.

Meski sedih Hasan harus terima. Hari-harinya, ia habiskan hanya memikirkan rumah tangganya. Karena egonya ia telah bentangkan sajadah perceraian di depan istrinya. Ia pun memutuskan pulang kampung halaman sekaligus membahas belisnya pada Ima. Belis bagi masyarakat Adonara bukan hanya sebagai mahar tapi juga pembayaran setelah perceraian. Itulah yang terjadi pada Ima dan Hasan. Memang pada pernikahan mereka belis tidak dibahas. Tapi ketika bercerai itu tetap harus dibahas.

                                                            ****

Waktu pun berlalu sampai datanglah masa di mana mereka harus membahas masalah perceraian Ima dan Hasan. Maka pergilah utusan Hasan ini untuk menyampaikan hari kedatangan mereka. Utusan Hasan ini diwakili oleh dua anak saudarinya, Jakir dan Rian.

 

“Selamat pagi,” salam Jakir.

Tidak lama terdengar salam dari dalam rumah. Keluar lah kakak perempuan Ima, Lusia, yang biasa di panggil Lus. Ia pun mengajak Jakir dan Rian masuk sembari ke belakang untuk mengambil watabit’i, atau jagung titi yang menjadi suguhan khas. Lus kembali dengan dua cangkir teh dan sepiring jagung titi yang akan menemani mereka mengobrol. Setelah basa basi ia pun menanyakan maksud kedatangan kedua pemuda itu.

“Sebenarnya apa maksud kedatangan kalian berdua ke sini?” pasti ada sesuatu yang penting. Tanya Lusia dengan heran karena tidak biasanya keluarga Hasan pergi ke rumah mereka.

 “Kedatangan kami ke sini untuk menyampaikan amanat dari keluarga kami, bahwa hari Rabu minggu depan kami akan datang untuk membicarakan masalah bibi Ima dan paman Hasan,” jawab Jakir.

 “Baiklah, akan aku sampaikan amanat kalian kepada keluarga besar di sini,”  balas Lusia.

Lantas kedua pemuda ini pun pamit pulang dengan meninggalkan rasa sedih di hati Lusia. Ia sedih memikirkan nasib adik kandungnya. Setelah berpamitan, mereka pun pamit untuk kembali ke kampung untuk menyampaikan apa yang telah mereka bicarakan. Setiba di rumah mereka langsung disambut keluarga dengan menanyakan hasil pembicaraan itu. Yang pertama memulai pembicaraan adalah Hasan. Karena sudah dari tadi dia menunggu kehadiran dua pemuda tersebut. Jakir pun menceritakan apa yang mereka bicarakan tadi. Beberapa hari sebelum pergi ke kampung Ima keluarga Hasan duduk untuk berunding siapa yang akan menjadi juru bicara, karena didalam adat Adonara, pihak suami tidak punya hak untuk bicara. Maka hasilnya bapak Namang dan Hajilah yang akan menjadi pembicara karena keduanya lebih tua.

 Hari yang di rencanakan pun tiba, maka berangkatlah mereka beramai-ramai. Yang ikut cukup banyak. Semuanya adalah keluarga Hasan. Di tempat Ima pun keluarganya sudah sibuk sejak pagi tadi untuk menyiapkan makanan menyambut keluarga Hasan, karena menurut adat, tamu harus dilayani dengan baik. Persiapan pun selesai beberapa jam kemudian. Setiba di sana mereka disambut dengan meriah oleh keluarga Ima. Laki-laki disuguhkan arak dan jagung titi sedangkan perempuan disuguhkan teh dan jagung titi. Mereka pun duduk bersama saling menanyakan kabar, sebelum masuk pada acara pembahasan belis. Acara pembahasan belis pun di mulai. Yang dapat masuk ke dalam rumah adat adalah orang-orang yang menjadi utusan. Pembicaraan pun di mulai.

“Adik perempuan kalian sudah kembali. Berapa gading yang harus kami bayar?” tanya utusan Hasan.

“Lima gading yang harus kalian berikan,” jawab utusan Ima.

“Kalau lima gading kami tidak bisa berikan. Bagaimana kalau tiga gading?” tawar utusan Hasan.

“Baiklah.  Tapi ukuran panjang dari jari sampai siku itu satu gading. Sedangkan yang dua lainnya dari jari sampai bahu,” kata utusan Ima.

“Bagaimana semuanya sepakat?” tanya utusan Hasan.

Semua pun menyatakan kesepakatannya. “Jadi kapan kami harus bawa gading kesini?” tanya utusan Hasan.

“Tahun depan bulan Juni tanggal 19. Harus satu gading sudah diberikan. Kalau tidak maka anak perempuan Hasan  harus jadi millik kami,” kata utusan Ima.

“Baiklah  kami akan membawa gading sesuai kesepakatan.” kata utusan Hasan.

Dalam perjanjian tersebut, jika gading tidak bisa diberikan tahun depan maka anak perempuan Hasan harus jadi milik keluarga Ima. Ima pun tidak berhak atas anaknya. Karena yang berhak adalah saudara laki-lakinya. Maka otomatis ketiga anak perempuan ini harus pindah agama Katolik. Sedangkan anak laki-laki tetap menjadi milik ayahnya. Inilah yang membuat Hasan pikiran Karena ketiga anak perempuannya akan jadi korban keegoisannya. Perasaan sedih, menyesal, itulah yang kini berperang dalam pikiran Hasan. Sedih karena tak serumah lagi dengan istri tercinta. Menyesal telah mengorbankan anak-anaknya. Dia hanya bisa pasrah kepada Tuhan. Akankah ia bisa memberikan gading yang sudah mereka sepakati?

SELESAI

Karya :