Kualitas Pendidikan Makin Rendah

Reni Marlinawati
Karya Reni Marlinawati Kategori Budaya
dipublikasikan 08 Juni 2018
Kualitas Pendidikan  Makin Rendah

Kualitas Pendidikan  Makin Rendah

 

Oleh Reni Marlinawati

 Wakil Ketua Komisi X/Ketua Fraksi PPP  DPR  RI

 

Tahun 2018, nilai ujian nasional (UN) secara keseluruhan turun, baik di SD, SMP, maupun SMA. Ini fakta. Bukan penilian mengada-ada. Apa artinya? Kualitas pendidikan di Indonesia  secara de facto menurun.

Betul, ada sebagian orang atau guru menyalahkan pemerintah yang memberikan soal UN lebih sulit di tahun 2018. Sehingga siswa banyak yang tak bisa menjawab soal ujian. Alasan tersebut, jelas sulit diterima. Ini karena, dalam menyusun soal ujian, pemerintah sudah mempertimbangkan kemampuan siswa. Artinya, kalau siswa rajin belajar, banyak membaca, dan latihan – niscaya akan bisa mengerjakannya. Soal-soal ujian dalam UN di Indonesia kualitasnya masih di bawah standar Singapura. Gambaran itu menjelaskan, sekali lagi, bahwa kualitas pendidikan di Indonesia mengalami down grade.

Turunnya kualitas pendidikan tersebut, berdampak pula terhadap kualitas pendidikan di perguruan tinggi (PT). Saya punya pengalaman mengajar di perguruan tinggi sebelum menjadi anggota DPR RI. Ternyata, kualitas mahasiswa sekarang -- jauh di bawah -- bila dibandingkan dengan kualitas mahasiswa zaman dulu, ketika saya masih kuliah. Mahasiswa sekarang, maaf, penguasaan keilmuannya rendah. Hal itu terlihat dari pertanyaan-pertanyaan sewaktu kuliah dan atau  pernyataan-pernyataan di forum diskusi.

Kenapa hal ini terjadi? Apa karena pengaruh media sosial (medos) yang mengepung kihidupan pelajar dan mahasiswa? Mungkin saja. Sebab jika di medsos, yang dibaca hanya status-staus pendek. Juga status yang berisi pernyataan-pernyataan afirmatif tanpa logika.  Ini artinya, anak-anak sekarang secara tidak langsung tiap hari, tiap jam,  terpapar  doktrin-doktrin yang membungkam logika itu.

Apa akibatnya? Seperti ditulis M Alfan Alfian dalam bukunya,  ‘Rashomon dalam Labirin Politik Indonesia’ -- carut marut dunia politik Indonesia; munculnya radikalisme; terorisme dan lain-lain adalah akibat kedangkalan pengetahuan anak bangsa tersebab menurunnya kualitas pendidikan.

 Rashomon adalah sebuah film Jepang tahun 1950-an yang disutradarai Akira Kurosawa. Film ini menggambarkan carut marut kesaksian empat orang yang meliahat pembunuhan dan perkosaan. Saksi-saki pembunuhan dan perkosaan itu, di depan pengadilan memberikan pernyataan yang berbeda-beda, yang tidak ada korelasi antara satu dengan lain. Akibatnya masyarakat pun sulit menebak, apa motif pembunuhan, siapa pelakunya, dan bagaimana mekanisme kejahatannya. Kurosawa ingin menunjukkan kritik pada masyarakat saat itu, bahwa logika sudah terbalik-balik sehingga tidak nyambung dengan realitas.

Tragisnya, hal seperti itu terjadi pula pada masa kini. Di dunia politik, misalnya, logika sering tidak berkaitan dengan kebenaran. Tapi, sebaliknya, logika hanya dicari untuk mencari pembenaran. Munculnya radikalisme dan terorisme juga adalah hasil dari carut marutnya  logika tadi. Sehingga para pelaku terorisme hanya menggunakan logika palsu untuk mencari pembenaran.

Mana ada ajaran agama yang membolehkan pembunuhan terhadap orang tidak bersalah? Kaum teroris, mencari logika dengan menggunakan dalil-dalil palsu yang dicomot dari kitab suci. Seakan-akan membunuh orang tak bersalah tidak berdosa. Orang tak berdosa itu dianggap salah karena berada di zona darul harb (negeri perang). Lalu, mereka – para teroris itu -- menentukan darul harb sesuai logikanya sendiri yang timpang. Tragsinya, hal seperti itu terjadi di Indonesia. Tragedi pengeboman di gereja Surabaya, penyerangan di Mapolresta Suraya dan Mapolda Riau, jelas-jelas menunjukkan bahwa pelakunya adalah orang-orang yang menjungkirbalikkan logika tadi.

Persoalannya, apa kita harus menyerah dengan logika absurd di atas? Tidak. Seperti dikatakan Presiden Jokowi, bangsa Indonesia tidak boleh menyerah kepada radikalisme dan terorisme. Juga tidak boleh menyerah terhadap logika-logika miringnya. Kita harus bisa mematahkan logika mereka.

Kondisi seperti itu jelas merupakan hasil pendidikan yang carut marut. Pendidikan yang kualitasnya rendah. Pendidikan yang tidak mengedepankan logika yang benar. Mereka tidak  menggunakan akalnya untuk memahami ayat-ayat suci Qur’an. Mereka hanya membonceng ayat-ayat untuk memuaskan nafsu hedonis dan sahwat kekuasaannya.

Melihat kondisi di atas, sudah selayaknya DPR dan  pemerintah berusaha membuat atau merevisi kembali UU Pendidikan agar kompatibel dengan zamannya. Anak-anak  muda Indonesia harus dijauhkan dari pola-pola pendidikan doktriner. Sebab yang dibutuhkan pertama kali untuk anak-anak agar menjadi manusia berguna (untuk bangsa dan negara) adalah pendidikan akhlak dan moral; lalu pendidikan logika untuk memahami  ilmu pengetahuan. Tanpa keduanya sejak dini, tunggulah  kekacauan dan kehancuran  Indonesia. Memprihatinkan.

  • view 105