Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Kesehatan 28 Desember 2017   20:20 WIB
Peredaran Narkoba Tahun 2017 Mencemaskan. Tahun 2018 Gawat?

Peredaran Narkoba Tahun 2017 Mencemaskan. Tahun 2018 Gawat?

 Oleh Dr. Reni Marlinawati

Ketua Fraksi PPP/Ketua Poksi Pendidikan Komisi X DPR RI

 

 Ada kemasan air neraka di Jakarta. Itulah berita paling mengejutkan menjelang akhir tahun 2017. Hebatnya, air neraka itu diproduksi sebuah diskotik di Tubagus Angke, Jakarta Barat. Tepatnya di Diskotk MG Internasional. Kemasan air neraka – nama lain narkoba cair – itu nyaris tak terdeteksi aparat BNN (Badan Narkotika Nasional). Maklumlah kemasannya nyaris sama dengan kemasan air minum aqua. Jangankan orang awam, polisi pun sulit mendeteksinya. Peredaran air neraka itu, menurut Kepala BNN Jakarta, Brigjen Pol Johny Latupeirisa, sudah berlangsung empat tahun. Kenapa  selama ini tak ketahuan? Kepala BNN Komjen Budi Waseso menduga, ada oknum aparat yang melindunginya.

 Air neraka dengan kemasan air minum biasa (yang sejatinya air mengandung amfetamin, bahan dasar narkotika), adalah modus baru peredaran narkoba yang berhasil dilacak BNN. Sebelumnya, berbagai modus peredaran narkoba juga berhasil dideteksi BNN.  Seperti narkoba dalam bentuk permen, kueh kering, bubuk susu, bubuk kopi, minuman ringan, dan macam-macam. Peredarannya juga tidak hanya menyasar kalangan tamu diskotik, tapi juga pegawai kantoran, politisi, mahasiswa, anak-anak SMA, bahkan anak-anak SD. Tragisnya, kini narkoba tidak hanya beredar di kota-kota besar. Tapi juga di kota-kota kecil, bahkan di kampung-kampung.

 Peredaran narkoba di Indonesia saat ini, benar-benar sudah sangat memprihatinkan. Bisa dikatakan, Indonesia sekarang sudah dalam kondisi SOS Narkoba. Jika hal ini tak mendapat perhatian serius, Indonesia masa depan akan sangat berbahaya. Indonesia tak hanya jadi pusat produksi dan distribusi terbesar narkoba di Asia, juga konsumen terbesar narkoba di dunia. Dampaknya, masa depan bangsa akan hancur!

 Ketika berbicara di depan Mukernas PPP Ancol  Juli 2017, Budi Waseso (Buwas) menjelaskan bahwa teknologi para produsen dan pengedar narkoba, jauh lebih tinggi dibanding teknologi yang dimiliki kepolisian.  Mereka punya uang banyak dan bisa membeli teknologi terbaru untuk memproduksi dan mendistribusikan narkoba. Sementara kepolisian dan BNN, masih menggunakan teknologi lama. Akibatnya, jumlah produsen dan pengedar narkoba yang tertangkap jauh dibandingkan yang tumbuh. Ibaratnya, yang tertangkan 10 orang, yang tumbuh 40 orang. Jika demikian, kapan “epidemi” narkoba  bisa dihentikan?

Benar, apa kata Buwas! Kita masih ingat bagaimana BNN membongkar penyelundupan narkoba (sabu) seberat 1,3 ton senilai Rp 2 Trilyun di Serang, Banten, Juli lalu melalui jalur laut Pantura. Pelakunya empat warga Negara Cina --  Lin Ming Hui, Chen Wei Cyuan, Liao Guan Yu, dan Hsu Yung Li. Tanpa kerjasama dengan orang Indonesia yang "sudah ahli dan tahu medan" niscaya mereka tak akan tahu "jalur aman" laut Serang di atas.

Sabu seberat itu bisa merusak jutaan anak-anak muda Indonesia. Keberhasilan polisi menggagalkan penyelundupan narkoba seberat 1,3 ton itu, sama artinya menyelamatkan 5 juta generasi muda.Luar biasa jahatnya mereka!

Tragisnya, tak lama kemudian, November 2017, polisi kembali membongkar penyelundupan pil ekstasi dengan jumlah 2.630.000 biji di Surabaya.  Terakhir, menjelang tutup tahun 2017,  polisi menggrebek Diskotik MG Internasional di Jakarta Barat yang memproduksi air neraka tadi. Berapa botol air neraka yang sudah beredar?  Pastinya banyak sekali. Karena air neraka ini sudah diproduksi selama empat tahun. Botol kemasan air neraka itu tak hanya beredar di Jakarta. Tapi juga kota-kota besar lain. Kita bisa membayangkan, ratusan ribu -- bahkan jutaan orang -- sudah rusak sarafnya akibat minum air neraka tersebut.

Menurut Badan Narkotika Nasional (BNN), berdasarkan data April 2016 lalu, penduduk Indonesia yang memakai narkoba jumlahnya mencapai 3,1 juta; 1,6 juta mencoba memakai, 1,4 juta teratur memakai, dan 943 kategori pecandu.Menurut Buwas --panggilan akrab Budi Waseso -- jumlah pemakai narkoba terus meningkat tiap tahun. Dan peningkatannya sangat signifikan.  Buwas menggambarkan, saat BNN menangkap pengedar narkoba seberat satu ton -- yang beredar di masyarakat jumlahnya empat ton. Jika demikian, peningkatan pemakaian narkoba di Indonesialuar biasa.  Dari yang terdata saja, peningkatannya tiap tahun 51,3 persen. Yang tidak terdata, niscaya lebih banyak lagi.  Ini karena pemakaian narkoba dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Berarti peningkatan 51,3% tersebut hanyalah  peningkatan puncak gunung es!  Peningkatan sebenarnya jauh lebih besar lagi.

Suplai narkoba ke Indonesia, jelas Buwas, berasal dari 11 negara dan dikendalika oleh 72 jaringan mafia. Kesebelas negara itu, antara lain, beberapa negara di Afrika Barat, Iran, Tiongkok, Pakistan, Malaysia dan sejumlah negara di Eropa. Menurut Kepala BNN, jaringan-jaringan tersebut satu sama lain tidak saling berhubungan. Mereka bersaing untuk mengedarkan narkobanya di Indonesia. Penghasilan setiap jaringan dalam setahun mencapai Rp 3,6 Triliun.

Saat ini, menurut Buwas, Indonesia menjadi pasar narkoba terbesar di Asia. Bahkan mungkin dunia. Tiap hari, 50 orang  lebih mati sia-sia akibat mengonsumsi narkoba.  Jutaan lainnya hidup nelangsa, tak berguna, dan berbahaya akibat kecanduan narkoba. Bangsa Indonesia nyaris tersandera oleh jaringan narkoba internasional tersebut.

Lantas, apa solusinya? Pemerintah harus serius memberantas narkoba, mulai dari hulu sampai hilir. Di hulu, pemerintah harus bekerjasama dengan negara-negara yang ditengarai menjadi pemasok dan tempat jaringan mafia narkoba. Kerjasama ini harus dijalankan secara disiplin dan terintegrasi dengan badan-badan antinarkoba dunia.

Bila perlu Indonesia bisa meniru gaya Presiden Filipina, Rodrigo Duterte dalam memberantas narkoba. Duterte mengumumkan perang habis-habisan melawan gembong narkoba dengan cara menembak langsung dan membunuh mereka tanpa ampun. Ketika PBB  memperingatkan Duterte  bahwa pembunuhan terhadap gembong narkoba itu melanggar HAM, Sang Presiden  menyatakan bahwa yang melanggar HAM justru para mafia narkoba. Mereka penjahat luar biasa yang membunuh  jutaan rakyat Filipina. Lalu, dunia pun mengagumi keberanian Duterte dalam memerangi gembong narkoba tersebut. Tak ada cara lain yang lebih efektif untuk membasmi narkoba kecuali memusnahkan "hulu"nya.

Sementara di hilir, polisi dan (bila perlu tentara) harus diberdayakan secara maksimal untuk memutus distribusi, perdagangan, dan “outlet-outlet individual” yang memasok narkoba kepada perorangan. Last but not least, penyuluhan terhadap masyarakat, terutama generasi muda akan bahaya narkoba harus makin diintensifkan. Bila perlu ada semacam “posyandu” yang memberikan informasi terhadap bahaya narkoba dan menjadi sarana pemantau di masyarakat terhadap gerakan orang-orang yang dicurigai sebagai “agen kecil pemasok” atau pemakai narkoba.

Di tahun 2018, bila negara tidak melakukan perlawanan habis-habisan terhadap para pengedar, produsen, dan pemasar narkoba niscaya generasi muda bangsa akan makin terjerat obat  mematikan itu.  Negara harus melakukan segala daya upaya yang luar biasa untuk menghancurkan pil, serbuk,  dan minuman  iblis tersebut.  Jika tidak, bangsa Indonesia akan hancur.  Narkoba adalah  "bom candu"  yang sangat berbahaya yang dijatuhkan musuh untuk memusnahkan negara kita.

Karya : Reni Marlinawati