Trump dan Boikot Ekonomi AS. Mungkinkah?

Reni Marlinawati
Karya Reni Marlinawati Kategori Budaya
dipublikasikan 24 Desember 2017
Trump dan Boikot Ekonomi AS. Mungkinkah?

Trump dan Boikot Ekonomi AS. Mungkinkah?

 

Oleh Dr. Hj Reni Marlinawati

 Ketua Fraksi PPP DPRRI/Ketua Poksi Pendidikan Komisi X DPR RI

 

Donald Trump meradang. Keputusannya mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel, Rabu (6/12), memantik api kemarahan dunia.  Sekutu AS di Eropa menolaknya. Dunia Arab, Asia, dan Afrika mengecamnya.

Majlis Umum (MU) PBB pun bereaksi keras. Dalam sidang MU PBB Kamis  (21/12), dari 193 negara anggota PBB, 128 di antaranya menolak keputusan sepihak Trump.  Yang mendukung, selain AS dan Israel sendiri, hanya 7 negara kecil. Yaitu Guatemala, Honduras, Kepulauan Marshall, Mikronesia, Nauru, Palau, dan Togo.

Trump mengancam, negara yang menolak keputusannya akan mendapat sanksi ekonomi. Trump lupa bahwa AS adalah negara yang secara ekonomi nyaris bangkrut (bila dilihat dari magnitude utangnya).

Bayangkan, utang AS saat ini mencapai 19 trilyun dolar USD, atau sekitar 70% dari total Produk Domestik Bruto (PDB)-nya. World Bank, IMF, Merril Lynch, dan lembaga-lembaga keuangan dunia, sepakat utang yang aman untuk sebuah negara, maksimal 30% dari PDB-nya.  Dengan utang 70% dari GDP, AS jelas tak aman.

Bandingkan dengan Indonesia yang utangnya hanya 27% dari PDB-nya. Dengan komposisi utang sebesar itu saja, pemerintah Indonesia sudah menganggapnya terlalu besar. Meski utang dipakai membangun infrastruktur untuk membangkitkan ekonomi, tetap saja harus hati-hati.  Jangan sampai melewati batas merah, 30% PDB.

Sedangkan Amerika, utang sebanyak itu, banyak terpakai untuk mendanai pertahanan keamanan dan membangun persenjataan.  Dengan porsi utang yang 70% dari PDB, tentunya Trump pusing. Dalam kepusingan itulah, Trump mengambil kebijakan blunder. Mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel. Konsekwensinya, Amerika harus mengalihkan kantor kedubesnya dari Tel Aviv ke Yerusalem.

Keputusan sepihak Trump tanpa berunding dengan Palestina dan PBB itu, kini memicu kemarahan dunia. Sekutu AS di Eropa Barat pun mengecam keputusan Trump yang amat gegabah itu.

China, yang memegang obligasi AS terbesar di dunia, 1,15 Trilyun USD justru bertindak sebaliknya. Menantang Washington! Yerusalem harus jadi  ibu kota Palestina. Begitu juga Rusia; negeri dengan kekuatan militer yang mengimbangi AS. Ia  menyerukan  masyarakat internasional menolak kebijakan Trump.

Moskow mengajak masyarakat internasional mengakui kedaulatan Palestina dengan ibu kota Yerusalem. Jepang, pemegang obligasi AS terbesar kedua setelah Cina, juga mengikuti langkah Beijing. Tak mengakui keputusan sepihak Trump.

Kebijakan Trump mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel, jelas berdasarkan pertimbangan logika barbar. Bukan pertimbangan rasional.

Kenapa barbar? Pendekatannya logika militer.  Amerika saat ini mempunyai persenjataan terbesar di dunia. Termasuk jumlah senjata nuklirnya. Itulah kartu truf Trump  dalam mempermainkan politik internasionalnya.

Bayangkan, China yang memegang surat utang Amerika 1,15 Trilyun dolar AS saja masih dilecehkan Trump. Alasannya, Cina licik. Tiap tahun neraca perdagangannya dengan AS, surplus.

Ingat, Trump beberapa kali mengancam Cina agar tunduk kepada kebijakan ekonominya. Alasannya, Beijing selama ini menikmati defisit perdagangan dari Washington.

Jika Cina dengan kekuatan ekonomi gigantik nomor dua setelah AS  saja diancam Trump, apalagi negara kecil seperti Guatemala, Honduras, Kepulauan Marshall, Mikronesia, Nauru, Palau, dan Togo, yang nota bene perekonominya masih tergantung  AS. Tujuh negara tersebut tunduk pada Trump untuk kelangsungan hidupnya.

Dengan kondisi utang yang sudah berdarah-darah itulah, Trump bikin ulah. Tujuannya jelas ingin pamer kekuatan senjatanya.  Ia ingin mengacaukan dunia untuk menjual persenjataannya. AS adalah penjual persenjataan terbesar di dunia.

Dari perspektif inilah, kita melihat ada celah untuk memboikot produk-produk Amerika. Indonesia dan negara-negara yang pro-Palestina harus berani menghentikan pembelian senjata dari AS.

Ada sejumlah alasan kenapa boikot pembelian senjata Amerika tersebut penting. Bukan hanya untuk mendukung Palestina. Tapi juga untuk kepentingan nasional.

 Pertama, harga senjata produk AS terlalu mahal. Persenjataan produk Cina, Rusia, dan India jauh lebih murah dengan kualitas sama. Kedua, kontrak jual-beli senjata AS selalu disertai “intervensi” politik untuk mengendalikan manajemen negara buyer. Ketiga, riskan suku cadang. Washington sewaktu-waktu bisa menyetop penjualan suku  cadang  dengan alasan tertentu yang sepihak. Ingat kasus suku cadang pesawat tempur F-16 milik TNI yang selama sekian tahun tak dijual ke Indonesia karena alasan HAM.

Dari gambaran itu, menghentikan pembelian senjata AS merupakan pertimbangan rasional yang menguntungkan. Tak hanya secara finansial, tapi juga kemandirian bangsa.

Memang, memboikot produk AS saat ini sulit. Ini karena konsekwensi bisnis global yang kait mengait dengan bisnis nasional dan lokal. Memboikot KFC dan McDonald, misalnya, akan berpengaruh pada tenaga kerja dan petani lokal yang jadi suplier mereka. Tapi kalau kita jeli, masih banyak produk AS yang bisa diboikot dengan resiko minim.

Produk film, misalnya, resikonya minim terhadap tenaga kerja lokal. Produk persenjataan juga. Tapi ini perlu keberanian pemerintahan Jokowi.  Bahkan ada produk AS yang bila kita boikot, akan sangat menguntungkan. Apa itu? Produk-produk IT.

 Indonesia, misalnya, bisa memboikot produk Microsoft, Google, Facebook, Twitter, Instagram, dan lain-lain. Anak-anak bangsa yang ahli IT sudah bisa membuat produk aplikasi seperti itu.

Salah satunya, GEEVV, sebuah “mesin pencari” mirip Google ciptaan Deni dan Azka, keduanya mahasiswa UI. GEEVV, mendonasikan 20% dari dolar yang diterimanya setiap “klik” netter. Luar biasa. Bandingkan dengan Goole.

Produk-produk aplikasi berbasis Linux, juga banyak diciptakan anak-anak bangsa. Bila ini dikembangkan – antara lain dengan memboikot Google, MS Word, FB, WA, dan lain-lain – niscaya perkembangan industri aplikasi di Indonesia akan sangat cerah. Itulah salah satu berkah bila memboikot produk AS. Asal  kita serius mendukung produk nasional.

Ayo dukung Palestina dengan memboikot produk AS. Kalau tidak sekarang, kapan lagi?

  • view 146