Setiap Orang adalah Pendidik!

Reni Marlinawati
Karya Reni Marlinawati Kategori Budaya
dipublikasikan 24 Oktober 2017
Setiap Orang adalah  Pendidik!

Setiap Orang adalah  Pendidik!

 Dr. Reni Marlinawati

Ketua Poksi Pendidikan Komisi X DPR RI/Ketua Fraksi PPP

 Apakah seorang pendidik harus menjadi guru? Atau seorang guru harus menjadi pendidik? Tidak, kata Paulo Freire. Setiap orang bisa menjadi pendidik.

Pendidik perdefinisi adalah orang yang memberi didikan. Orang yang memberi pelajaran secara integratif. Guru mengajarkan matematika di sekolah, apakah dia seorang pendidik? Belum tentu. Bisa jadi, ia hanya seorang pengajar. Bukan guru! Seandainya sang guru matematika menerapkan kejujuran, kebenaran, dan logika yang rasional dalam kehidupan sehari-hari seperti “ filosofi  matematika”  yang kemudian ditiru oleh murid-muridnya, maka barulah ia menjadi seorang pendidik. Tapi bila dalam kehidupan sehari-hari guru matematika itu suka berbohong, melanggar rambu lalulintas di jalan, dan korupsi, maka jelas dia bukan pendidik, tapi hanya pengajar. Dan pengajar sebetulnya tak punya hak dipanggil guru.

Setiap  orang seharusnya bisa menjadi pendidik. Ini karena setiap orang punya akal, pikiran, hati, dan perasaan. Meski demikian, menerapkan akal, pikiran, hati, dan perasaan dalam kehidupan tidaklah mudah! Manusia, kata Freire, lebih suka mentransfer ilmu pengetahuan ketimbang “menjalankan filosofi dan tujuan ilmu pengetahuan”.

Seorang pendidik merasakan  bahwa  semua manusia selalu menilai perbuatannya. Karena itu, dia tidak mau melanggar aturan-aturan dan norma-norma yang tidak mendidik. Seorang pendidik tidak akan mau melakukan  korupsi. Ini karena perbuatan korupsi bertentangan dengan tujuan pendidikan. Seorang pendidik tidak akan mau melanggar peraturan lalu lintas karena perbuatan itu tidak mendidik.

Banyak orang mengatakan  di sekolah-sekolah formal seringkali para pendidik  bersikap seperti penguasa atau raja. Merasa paling berkuasa, merasa paling berilmu, merasa paling benar. Sedangkan anak-anak muridnya dianggap sebagai “burung beo” yang harus meniru  apa yang dikatakannya. Padahal apa yang dikatakannya belum tentu sesuai dengan perbuatannya.

Jika hal itu terjadi, apa yang harus dicontoh dari sang guru? Sudah lama dunia pendidikan formal (sekolah) kita dikritik sebagai tempat yang kurang nyaman bagi siswa didik dalam mengeksplorasi dan menumbuhkembangkan jatidiri. Sekolah tak ubahnya kerangkeng penjara yang menindas para murid. Mereka harus menjadi sosok yang serba penurut, patuh, dan taat pada komando. Imbasnya, mereka menjadi sosok mekanis yang kehilangan sikap kreatif dan mandiri. Mereka belum terbebas sepenuhnya dari suasana keterpasungan dan penindasan.

Usai menuntut ilmu, misalnya, mereka menjadi penindas-penindas baru akibat efek domino dari proses dan sistem yang selama ini mereka dapatkan di sekolah. Tak sedikit pengamat pendidikan yang menilai bahwa dunia persekolahan kita selama ini hanya melahirkan kaum penindas. Sementara anak-anak dari kalangan  bawah yang tidak memiliki akses terhadap dunia pendidikan hanya akan menjadi kacung dan kaum tertindas.

Kritik di atas bukan untuk ditolak atau diperdebatkan, tapi untuk direnungi. Benarkah sekolah formal kita masih represif terhadap murid-muridnya? Benarkan sekolah kita tidak menghasilkan manusia-manusia yang berakhlak mulia dan merdeka? Jika tidak, kenapa tingkat korupsi di negeri kita masih sangat tinggi? Kenapa pula anak-anak sekolah masih suka menyontek pada ujian nasional?

Lalu, siapa yang salah? Yang salah adalah karena tidak setiap orang menjadi pendidik. Padahal seharusnya setiap orang adalah pendidik. Minimal pendidik untuk dirinya sendiri.

 

  • view 184