mencari legislator yang progresif

Karya   Kategori Politik
dipublikasikan 14 Desember 2016
mencari legislator yang progresif

MENJARING LEGISLATOR YANG PROGRESSIF

Pasca reformasi euphoria partai politik menjadi kekuatan yang dominan, ini terlihat dari berbagai domain kekuasaan menjadi alat pemuas bagi para legislator untuk pemenuhan kebutuhan baik infrastruktur maupun supra-struktur partai politik. Dan pada akhirnya partai di ibaratkan seperti aquarium, dimana terlihat jelas gaya bermain mereka di setiap instrumen kekuasaan tersebut.

gambaran kinerja anggota legislatif di baik DPR maupun DPRD belum menunjukkan progresif yang baik. Terlihat dari berbagai polling yang dilakukan oleh lembaga-lembaga survey terhadap publik mengenai kinerja legislatif , kecendrungan yang terjadi adalah minimnya ekspektasi publik terhadap lembaga terhormat ini. Dan malah apatis terhadap kinerja legislator dan berujung kepada emoh  memilih kembali.

Banyak minus harapan yang ditimbulkan publik terhadap legislator justru menjadi tanggung jawab partai politik dalam pola rekrutmen para legislator tersebut. Ditilik dari tugasnya, Partai politik bertugas membangun sistem yang mampu melahirkan kader-kader tangguh yang memiliki kemampuan untuk melanjutkan estafet kepemimpinan masa depan di dalam partai. Dan karena partai politik harus merebut kekuasaan, kader-kader terbaik itulah yang nantinya didistribusikan ke dalam struktur-struktur politik negara.

Fungsi yang ada dalam lembaga DPRD, yakni Budgeting, controlling, dan legislasi masih belum dimaknai berkualitas secara keseluruhan dilevel masing-masing anggota DPR/D. Dari sisi controlling, saat ini anggota DPRD belum mencapai tataran klimaks dari fungsi nya tersebut,  artinya masih setengah hati menjalankan fungsi tersebut dan jika masih pada kondisi seperti ini maka chek and balances antara pihak eksekutif dan legislatif cenderung formalitas belaka.

dalam fungsi legislasi anggota DPRD cenderung minim legislasi, banyak yang tidak sesuai dengan target yang di harapkan juga dilihat dari produk peraturan daerah yang menjadi insiatif mereka semangat copy paste (plagiarisme) dari daerah lain menjadi adat kebiasaan yang muncul. Fungsi terakhir yaitu fungsi anggaran kecendrungan bagi para legislator diwakili semangat membangun “percaloan” anggaran dan melemahnya political will legislator untuk menciptakan budgeting yang  pro rakyat kecil dan malah terkesan masih imajiner.

Caleg merupakan otoritas partai politik, prosesi rekrutmen menjadi pertaruhan partai politik untuk menentukan para caleg tersebut untuk di uji kualitas dan integritasnya. Peran parpol dianggap penting karena guna menghasilkan para legislator yang memiliki tujuan mulia untuk untuk membangun integritas  dan kualitas para calegnya. Caleg yang berkualitas adalah mereka yang memang memahami hakikat demokrasi perwakilan, me­miliki integritas dengan prinsip yang kuat serta memiliki kapabilitas se­bagai wakil rakyat. Walaupun Kenyataannya, memang tidak mudah mendapatkan kader partai yang memenuhi syarat tersebut. Karenanya partai dituntut berusaha merekrut dan menyeleksi dari sekian banyak masyarakat yang sekarang berminat mendaftar men­jadi calon legislatif di pemilu 2014. 

Oleh karena itu, penjaringan caleg oleh partai politik harus benar-benar ketat dari segi rekrutmen caleg maupun rekam jejak figurnya. track record para caleg menjadi penting, dan inilah tugas parpol untuk merekrut para caleg tersebut berdasarkan mekanisme yang diluar kebiasaan, seperti mengumumkan ke publik melalui media massa terhadap caleg tersebut, kemudian mengharapkan tanggapan publik (uji publik) terhadap para caleg dan terakhir memposisikan mereka di level pemilihannya. jangan sampai parpol terjebak oleh mahar politik yang cenderung membuat pragmatis dari parpol itu.

momentum politik 2014 ini harus di jadikan pelajaran berharga oleh partai politik kontestan pemilu, semakin baik parpol menjalankan rekrutmentnya maka rakyat akan melihat dan memilih parpol tersebut, sebaliknya jika parpol itu menjalankan praktek kolusi dan nepotisme dalam rekrutmen maka berdampak kepada dislike keterpilihan atas parpol tersebut. karenanya praktek uji publik terhadap caleg menjadi penting untuk meningkatkan like keterpilihan terhadap partai politik

dengan demikian rakyat tidak  boleh  lelah   berharap akan datangnya   legislator yang berkualitas di pemilu 2014. oleh karena  itu,  kerja parpol hari ini harus  menampilkan orang – orang yang  berkualitas untuk  diajukan ke KPUD dengan semangat perubahan kolektif.  jangan sampai   ada lagi   anggota legislatif  yang  hanya memanfaatkan jabatanya  untuk  mendesign uang negara, dengan jalan korupsi.  dengan demikian pemilu 2014  benar  benar menghasilkan   legislator yang mumpuni dan berjiwa abdi rakyat yang tinggi,  sehingga  dapat bekerja secara  maksimal untuk kepentingan rakyat keseluruhan.

Ahmad (memed) Chumaedi

Dosen FISIP Universitas Muhammadiyah Tangerang

 

  • view 198