mendamba demokrasi di kota tangerang

Karya   Kategori Politik
dipublikasikan 14 Desember 2016
mendamba demokrasi di kota tangerang

MENDAMBA DEMOKRASI DI KOTA TANGERANG

Memed Chumaedi

(dosen FISIP Universitas Muhammadiyah Tangerang)

 

Semarak pesta demokrasi pilwalkot Tangerang dalam minggu terakhir menjelang pemilihan (31 agustus)  dilaksanakan dengan suasana yang dinamis. Tahapan pilkada dilalui dengan suasana yang menggemaskan dan mengasyikkan. Menggemaskannya saat di awal proses (dinamika politik) tahapan pencalonan dan mengasyikkannya ada saat mereka uji publik di debat kandidat di tv one selasa sore kemarin.  Sebagai bagian dari pengamatan pribadi menilai debat kandidat yang dilaksanakan kemarin mencontohkan prilaku elit (politisi) yang semestinya, bersahaja, penuh senyum, dengan yel-yel masing-masing calon tanpa anarkisme debat dan tanpa mendiskreditkan kandidat masing-masing.

 

Kota tangerang dalam kurun waktu 10 tahun, diwariskan berbagai keberhasilan, seabrek prestasi yang di emban oleh kota tangerang, sudah menjadi keharusan untuk dapat di implementasikan pada nilai-nilai etis dalam berdemokrasi. Nah pertaruhannya adalah di tanggal 31 agustus 2013 nanti, kiranya ini menjadi momentum menarik simpati publik atas proses demokratisasi yang bergulir dan dapat diambil manfaatnya oleh khalayak masyarakat kota tangerang. Menciptakan situasi politik yang santun dan damai tanpa cela merupakan cerminan kota yang berakhlakul karimah.

 

Ajang pilkada kota tangerang ini pastilah dinantikan oleh semua elemen masyarakat yang mendambakan sosok seorang pemimpin yang baik, progressif, akuntable, dengan harapan kota tangerang yang sudah baik pada hari ini bisa lebih baik lagi kedepannya.

 

Mendamba damai dalam politik

 

Menurut Prof. Maswadi rauf Politik tidak lepas dari konflik dan konsensus, konflik seringkali menghampiri setiap ajang pesta demokrasi. Diberbagai wilayah indonesia setiap perhelatan politik pasti akan dihadapkan pada persoalan konflik politik, entah elit, kandidat, partai politik, persaingan menjadi hal lumrah, dan yang terpenting adalah kedewasaan berpolitik para kandidat menjadi cerminan paling efektif untuk menumbuh kembangkan demokrasi yang sesungguhnya di aras lokal.

 

Rezim demokrasi mematok nilai krusial pemilihan (election) dari beberapa sisi, meminjam penelitian yang di lakukan freedom house dalam mengukur demokrasi yang mengakar. Pertama dimensi legitimasi, hal ini mengkaitkan pada dimensi politik yang memilih kepemimpinan politik yang inklusif, dengan mekanisme pemilihan yang benar, bebas dan adil disertai dengan kebebasan berserikat oleh seluruh element politik yang ada. Kedua, dimensi konstitusionalisme, merupakan sarana yang harus diemban juga oleh kelompok dan element politik (lembaga politik) yang bersandar pada tatanan hukum untuk meningkatkan mutu demokrasi yang mengakar. Kebutuhannya tidak lain adalah kebebasan individu terhadap pilihannya, equality before the law (sama di depan hukum) menjadi syarat utama meraih disposisi politik yang baik dan mengakar. Ketiga, dimensi kontrol, ini merupakan tugas kritis yang menjadi beban tanggung jawab semuanya, tanggung jawab pemimpin politik menjawab terhadap espektasi masyarakat atas visi dan misi yang di publish ke masyarakat saat kampanye lalu. Tanggung jawab masyarakat adalah kontrol dan kritisisme terhadap pejabat terpilih untuk menjalankan program kesejahteraan masyarakat.

 

Dalam konteks semacam itu, pemilihan biasanya diharapkan dapat menjadi sarana untuk mencapai sejumlah tujuan, termasuk pemberlakuan aturan aturan baru demokrasi mengenai persaingan politik, pemberian legitimasi bagi pemerintahan baru, dan penyediaan landasan demokratis untuk memastikan tatakelola pemerintahan dan pembuatan kebijakan yang baik. Disinilah dambaan kedamaian dalam prosesi politik di kota tangerang.

 

Mendamba pemilih partisipatif

 

Pesta demokrasi sendiri merupakan sebuah sistem pemerintahan yang menempatkan rakyat sebagai pimpinan tertinggi dalam proses penyelenggaraan sebuah kedaulatan rakyat, dimana rakyat berhak untuk menggunakan hak pilihnya di pemilihan walikota dan wakil walikota tangerang tanpa ada pembatasan dari pihak-pihak berwenang, dalam artian bebas menggunakan hak suaranya di dalam pilwalkot.

 

Selain itu masyarakat kota tangerang juga harus bisa Wujudkan sebuah tanggung jawab secara tuntas dalam pemerintahan, juga bertanggungjawab atas dirinya sendiri, lingkungan sekitar, kondisi daerahnya sendiri, baik saat menjelang dimulainya Pilkada, di masa-masa kampanye, sampai selama proses Pilkada kota tangerang 2013 berakhir maupun dimasa mendatang agar tetap tercipta suasana yang damai, karena pentingnya kesuksekan Pemilihan Umum walikota dan wakil walikota tak lain adalah demi masa depan masyarakat kota tangerang yang lebih baik.

Belajarlah untuk menjadi pemilih yang cerdas dan tidak asal pilih alias harus cermat dalam menentukan pilihan di Pilkada kota tangerang, karena seseorang yang baik dan bijaksana tidak akan mudah terjebak dalam isu-isu kecil yang tidak jelas asal muasalnya, yang bersifat Rasialisme dan menjurus terhadap kemunculan adanya konflik. 

 

yakinkanlah untuk bisa wujudkan rasa saling menjaga dan menghargai antara simpatisan pendukung dan Tim sukses pemenangan lawan politiknya, dan semua pihak yang terkait baik secara langsung maupun tidak langsung dalam pilkada kota tangerang, karena kita realitisnya adalah satu masyarakat Kota tangerang yang sama-sama punya Hak untuk memilih siapa calon pemimpin yang kita impikan untuk memimpin di wilayah Kota tangerang demi terwujudnya keberhasilan dan kemajuan di bidang pembangunan, ekonomi masyarakat, kesehatan, pendidikan dan semua bidang lainnya. 

 

Ciptakanlah rasa yang di masa-masa menjelang pesta demokrasi seperti ini. Pilihan bolehlah beda, namun rasa damai haruslah tetap kita jaga bersama, saling hormat dan menghargai serta tidak mudah terprovokasi. Dan bersih dalam artian hindarilah sikap-sikap yang sekiranya mengarah terhadap adanya kecurangan suap money politic  yang mengakibatkan mentalitas kerdil. 

 

Dan hapuslah sikap apatisme terhadap pilkada di Kota tangerang, karena sikap apatisme akan merugikan kita sendiri. Sikap apatis dan apatisme sendiri timbul dikarenakan merasa tidak paham dengan politik dan tidak mau tahu dengan semua calon yang ada dan mungkin karena belum dewasanya kita dalam berdemokrasi.

 

Ala kulli hal, Yakinlah bahwa kota tangerang masih concern dan komitment terhadap visi ahlakul karimah dan pemimpin terpilih akan memberikan yang terbaik untuk kota tangerang.

 

Wallahu a’lamu bi al-showab

 

 

 

 

 

 .

  • view 175