Aku dan Kamu, Berbeda tapi Satu

1000 Esai
Karya 1000 Esai Kategori Lainnya
dipublikasikan 13 Desember 2017
Aku dan Kamu, Berbeda tapi Satu

Bhinneka Tunggal Ika, berbeda-beda tetapi tetap satu, itulah moto yang tertera pada lambang Garuda Pancasila kita. Moto yang telah kuhafal dan kemengerti sejak duduk di bangku sekolah dasar, namun tidak pernah benar-benar kupahami artinya dalam kehidupanku. Moto yang diwariskan para pendahulu sebagai pengingat bahwa terlepas dari perbedaan dari setiap aneka ragam budaya, bahasa daerah, ras, etnis, suku bangsa, agama, dan kepercayaan, kita semua saling menghargai dalam satu kesatuan di Indonesia. Namun, apakah moto yang diajarkan melalui pendidikan kewarganeraan tersebut tertanam di dalam hati setiap insan yang mendengar atau hanya sekedar menjadi hafalan belaka? Apakah kita semua sudah menjaga harta warisan tersebut dalam semangat kehidupan bangsa Indonesia? Saya rasa masih belum cukup.

            Lihatlah bagaimana jalannya kehidupan sosial politik kita. Kasus “Penistaan Agama” oleh Ahok[1] merupakan salah satu contoh perseteruan terkait etnis, khususnya etnis Tionghoa, dalam ranah politik. Banyak sekali adu pendapat yang menyangkut pautkan perbedaan etnis dan agama dalam perseteruan tersebut. Perbedaan-perbedaan (budaya, etnis, agama, dsb) kita, seolah-olah merupakan bom waktu yang suatu saat siap memecahkan kesatuan Negara. Dalam tulisan ini, saya hanya mau berbagi pengalaman, sekaligus pemikiran terkait interaksi saya yang beretnis Tionghoa dengan non-Tionghoa, yang mungkin bisa sedikit menjinakkan bom waktu tersebut.

Sebagai orang Tionghoa, saya dibesarkan untuk berhati-hati ketika berinteraksi dengan orang “pribumi”. Peristiwa kerusuhan Mei 1998 yang melibatkan berbagai aksi anarkis, seperti penyiksaan, pemerkosaan dan pembunuhan terhadap etnis Tionghoa, meninggalkan luka yang dalam sehingga kami memiliku prasangka negatif terhadap kaum non-Tionghoa. Meskipun begitu, pengalaman berteman dengan pribumi perlahan-lahan mengikis prasangka tersebut dari benak pikiranku, begitu juga sebaliknya. Beberapa teman pribumi mengatakan bahwa saya tidak seperti stereotip negatif orang Tionghoa yang didengungkan di telinga mereka.

Satu pengalaman sederhana yang sangat berkesan berkaitan dengan pemecahan stereotip bahwa orang Tionghoa itu berbeda dengan orang pribumi adalah ketika bermain ke kos salah satu teman perempuan pribumi untuk belajar bersama. Di dalam kos yang kira-kira sebesar 2x3 meter, ia tinggal bersama ibu dan adik perempuannya. Ketika waktu makan malam tiba, ibunya menyuguhi saya dengan makanan khas Indonesia, yaitu penyetan (telur, tahu, tempe, dan sambal terasi). Kami makan dengan cara makan khas Indonesia, yaitu dengan menggunakan tangan. Awalnya, ibu teman saya menyuruh saya makan dengan menggunakan sendok yang telah disediakan khusus untuk saya. Ibunya dengan muka agak memerah mengatakan: “Maaf ya mbak, makanannya sederhana, nda biasa pasti ya, apalagi makan pake tangan. Pake sendok aja gak papa, mbak. Orang Cina kan pasti nda biasa makan pake tangan”. Perkataan ibu itu sempat membuat saya heran. Saya sendiri kalau di rumah sering makan penyetan pakai tangan. Malah makanan favorit saya itu tahu campur, bukan capcay. Meskipun saya etnis Tionghoa, saya juga orang Indonesia.

Pengalaman lainnya adalah ketika saya menjadi asisten mahasiswa. Mahasiswa junior sungkan memanggil saya dengan sebutan lain, selain ce[2]. Seringkali, ketika keceplosan memanggil saya dengan sebutan “kak”, terutama “mbak”, mereka akan buru-buru meralatnya, seolah-olah takut membuat saya tersinggung. Beberapa dari mereka mengatakan bahwa mereka takut dianggap merendahkan(ku). Saya harus menekankan beberapa kali bahwa tidak ada alasan bagi saya untuk tersinggung, karena baik “kak”, “mbak”, maupun “ce”, memiliki arti yang sama, yaitu sebutan bagi perempuan yang lebih tua, hanya saja dalam bahasa yang berbeda (bahasa Indonesia, bahasa Jawa, dan bahasa Tionghoa). Kemudian mereka menganggap saya ramah dan baik karena mau dipanggil dengan sebutan “kak” atau “mbak”. Perbedaan sebutan tersebut mencerminkan adanya perbedaan kelas antara Tionghoa dan non-Tionghoa, sehingga memungkinkan adanya penafsiran bahwa sebutan tertentu bersifat lebih tinggi atau lebih rendah berkaitan dengan etnis.

Banyak sekali stereotip-stereotip terkait keanekaragaman suku, etnis, dan agama lainnya. Bergantung pada desas-desus stereotip terhadap suku, ras, etnis, dan agama tertentu, tanpa tahu realitanya dapat mendorong individu untuk “salah” menilai orang lain berdasarkan latar belakang suku, ras, etnis, dan agama orang tersebut. Kenalilah orang di sekitarmu berdasarkan diri mereka sebagai manusia yang setara dengan diri dan orang lain di dunia ini, bukan berdasarkan kelas sosial yang tercipta dari stereotip perbedaan tersebut, maka kita akan mulai belajar untuk memahami dan menghargai perbedaan kita dalam satu kesatuan, yaitu dalam negeri Indonesia tercinta.

 

[1] Pidato Ahok di Kepulauan Seribu terkait program pemberdayaan budi daya kerapu yang akan tetap dilanjutkan, meskipun ia tidak terpilih lagi menjadi gubenur di pilgub Febuari 2017, dipotong di bagian tertentu, kemudian diunggah ke media sosial dengan judul “Penistaan terhadap Agama?” sehingga memunculkan protes dari beberapa kalangan dalam berbagai bentuk, termasuk unjuk rasa yang berapa kali ricuh (BBC, 2016).

[2] Ce (cece) adalah sebutan untuk perempuan yang lebih tua (kakak) dalam bahasa Tionghoa.


======
Penulis: Sylvia Purnomo
Perguruan Tinggi: Universitas Surabaya

Note: 
Esai terbaik kategori mahasiswa.

  • view 27