Persatuan Indonesia

1000 Esai
Karya 1000 Esai Kategori Lainnya
dipublikasikan 07 Desember 2017
Persatuan Indonesia

Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia dengan 13.504 pulau yang berjajar membentang luas dari Sabang sampai Merauke. Negara yang memiliki 1.340 suku bangsa dengan perbedaan ras, agama, asal keturunan, adat, bahasa, dan sejarah, Indonesia bersatu dengan semboyan “Bhineka Tunggal Ika” yang bermakna, meskipun berbeda-beda tetapi tetap satu jua. Semboyan ini merupakan kutipan darikakawin Sutasoma, karangan Mpu Tantular semasa kerajaan Majapahit pada abad ke-14.

Indonesia dengan Pancasila sebagai dasar negaranya merupakan negara yang kaya akan keanekaragaman. Dalam Pancasila, sila pertama berbunyi “Ketuhanan yang Maha Esa” yang berarti setiap agama memiliki tuhannya masing-masing yang bersifat tunggal atau Esa. Ada 6 agama yang diakui oleh bangsa Indonesia yakni; Islam, Budha, Hindu, Katolik, Protestan, dan Kong Hu Cu (Konfusius), keenam agama ini hidup rukun dan berdampingan dengan berpegang teguh pada kepercayaan terhadap Tuhan-nya masing-masing. Indonesia juga memiliki keragaman etnis seperti Melayu, China, Arab dan lain sebagainya. Adapun tiap-tiap daerah memiliki bahasa sebagai identitas daerahnya masing-masing. Segala perbedaan ini membentuk keragaman yang semakin memperkaya bangsa Indonesia. Keragaman menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah macam, jenis, warna dan corak, dengan demikian Indonesia memiliki banyak perbedaan yang bermacam-macam jenis, warna dan coraknya.

Untuk menyikapi segala perbedaan ini, bangsa Indonesia diwajibkan untuk memahami dan mengaplikasikan toleransi dalam kehidupan sehari-hari. Toleransi adalah sikap saling menghormati dan menghargai antar kelompok atau antar individu dalam suatu masyarakat guna menghindari terjadinya diskriminasi. Diskriminasi mengacu pada perlakuan yang tidak adil, di mana perlakuan ini dibuat berdasarkan karakteristik yang diwakili oleh individu atau kelompok tersebut. Seperti yang terkandung pada Pancasila sila ke-2 “Kemanusiaan yang adil dan beradab” dan sila ke-5 “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”, kata „adil‟ dalam Pancasila dicantumkan dua kali, secara signifikan keadilan merupakan sesuatu yang penting baik keadilan dalam bermasyarakat maupun keadilan yang berasal dari pemerintah. Indonesia merupakan negara yang majemuk, terutama dari segi sosial, budaya, ekonomi dan politik, hal ini adalah modal dasar bagi bangsa yang besar. Namun, kemajemukan itu ternyata melahirkan aneka persoalan yang kompleks, tak jarang mengakibatkan kesenjangan yang kerap berpengaruh terhadap ketimpangan struktur masyarakat dalam memperoleh keadilan.

Namun sikap toleransi ini terkadang dianggap sulit untuk sebagian orang. Mereka lebih cenderung tidak mau menerima perbedaan dan menganggap bahwa hal yang diyakininya adalah hal yang paling benar dan hal yang diyakini orang lain adalah hal yang salah dan menyimpang. Sikap seperti inilah yang memicu terjadinya konflik atau kontradiksi baik antar ras, etnis, budaya, dan agama. Konflik yang didasari kecemburuan, perbedaan pendapat, dan pertikaian akan menyebabkan perpecahan dalam suatu kelompok.

Peristiwa Trisakti dan Krisis Moneter (1998), Konflik Agama di Ambon (1999), Tragedi Sampit, Suku Dayak dan Madura (2001), Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan Penyerangan Kelompok Syi'ah di Sampang, merupakan contoh konflik SARA paling mengerikan yang pernah terjadi sepanjang sejarah di Indonesia. Konflik-konflik yang muncul ini disebabkan oleh kelompok yang tidak mau menerima perbedaan kemudian menjalar kepada permasalahan SARA.

Dari pengalaman konflik yang pernah terjadi di Indonesia, sudah saatnya kita sebagai bangsa Indonesia berbenah diri untuk mencegah terjadinya konflik yang sama di masa depan. Untuk itu, peran pendidikan menjadi karakter utama dalam menanamkan sikap toleransi. Pendidikan adalah cara memupuk ilmu pengetahuan sebagai pemahan dasar dalam memilih dan membina hidup yang baik, yang sesuai dengan martabat manusia. Salah satu wujud nyata adalah dengan melalui sistem pendidikan multikultural yang didefinisikan sebagai bentuk pendidikan tentang keragaman kebudayaan dalam meresponi perubahan demografi dan kultural lingkungan masyarakat tertentu. Dengan mengenalkan keberagaman budaya serta mengeksplorasi perbedaan sebagai keniscayaan, pendidikan multikultural sudah banyak menginspirasi bangsa untuk lebih memahami sikap toleransi.

Tidak hanya lewat pendidikan multikultural, paradigma bahwa perdamaian itu tidak mudah untuk dilakukan sudah sepatutnya dihapus karena perdamaian bisa diwujudkan dengan cara toleransi, menerima dan menyadari bahwa kita hidup di negara ini semata-mata bukan terlahir dari suku, ras, budaya, bahasa, dan agama yang sama, melainkan dari keberagaman yang hakiki. Perdamaian adalah hak semua manusia tanpa terkecuali.

Terakhir dan yang paling efektif yaitu berasal dari diri kita sendiri. Kita sebagai bangsa Indonesia harusnya memiliki kesadaran bahwa bangsa kita adalah bangsa yang besar dan heterogen yang terdiri dari beragam suku, ras, budaya, bahasa dan agama. Sikap toleransi adalah salah satu contoh menyadari bahwa indahnya dalam menerima perbedaan. Sudah sepatutnya kita menerima bahkan bangga dengan perbedaan yang Indonesia miliki sebagai wujud kekayaan bangsa. Sudah terlalu banyak konflik yang terjadi akibat kurangnya sikap toleransi yang dilakukan oleh bangsa kita sendiri.

Perbedaan itu indah. Anggaplah, jika sebuah negara adalah kain putih yang polos, maka perbedaan tidak ubahnya seperti warna. Jika seluruh bangsa dalam suatu negara tidak memiliki perbedaan, maka kain itu hanya akan memiliki satu warna polos yang membosankan. Tetapi jika suatu bangsa memiliki banyak perbedaan, sebuah kain putih polos pun bisa disulap dengan beragam bentuk dan corak yang berwarna-warni. Perbedaan yang didampingi oleh perdamaian dan persatuan akan menghasilkan jalinan hubungan yang harmonis. Di bawah naungan Negara Kesatuan Republik Indonesia, bangsa Indonesia bertoleransi dalam segala bentuk perbedaan demi mengamalkan sila ke-tiga, “Persatuan Indonesia”.


======
Penulis: Cici Lestari Agustina
Perguruan Tinggi: President University

Note: 
Esai terbaik kategori mahasiswa.

  • view 17