PERAN ORANG TUA TERHADAP PERDAMAIAN DI INDONESIA

1000 Esai
Karya 1000 Esai Kategori Lainnya
dipublikasikan 05 Desember 2017
PERAN ORANG TUA TERHADAP PERDAMAIAN DI INDONESIA

Nusantara, tempat tersimpannya beragam kekayaan alam, kebudayaan, suku, bahasa, hingga agama. Kekuatan terbesar Nusantara terletak pada toleransi antar sesama sehingga kedamaian selalu tercipta, seperti yang tertuang dalam sila ke-3 yakni Persatuan Indonesia. Semua penduduk haruslah dapat menciptakan kerukunan dengan tidak membeda-bedakan satu dan yang lain. Nusantara juga terkenal akan keramah-tamahan penduduknya yang membuat negara ini menjadi salah satu destinasi bagi wisatawan mancanegara. Namun akhir-akhir ini terjadi banyak masalah yang beredar di media sosial, beberapa diantaranya disebabkan oleh bentrok yang megatasnamakan agama, tawuran serta bullying hingga menyebabkan terjadinya kekerasan, baik pada kedua belah pihak maupun salah satu diantaranya.

Pada era yang serba gadget ini semua informasi memang secara gampang dan bebas ditunjukkan kepada siapa saja yang menginginkan informasi tersebut, tak terbatas usia maupun gender. Anak-anak di era gadget ini juga terpengaruh dengan adanya informasi-informasi yang tabu, hoax dan mencoba meniru hal-hal negatif yang menurut mereka itu keren atau sudah menjadi tradisi. Contohnya saja perlakuan keras bagi siswa baru, mengejek seseorang, menyudutkan seseorang yang bertujuan untuk menjatuhkan mentalnya atau yang kini sering disebut dengan bullying. Bullying merupakan salah satu tindakan yang bermaksud untuk menyakiti maupun memaksa seseorang untuk melakukan sesuatu yang dapat memepermalukan, menyalahgunakan hingga menyiksa diri seseorang yang sedang dibully. Seseorang yang menjadi korban bullying bisa menjadi pribadi yang ekstrovet, selalu merasa terancam, hingga yang lebih parah adalah frustasi, sedangkan peran yang menjadi pelaku bullying biasanya menyimpan rasa benci ataupun iri kepada korban.

Contoh saja masalah bully pada salah satu SMP yang beredar viral di media sosial. Dalam video yang berdurasi 50 detik tersebut, seorang siswi yang sedang dibully dikelilingi oleh siswa lainnya. Siswi tersebut mendapat kekerasan dari siswa yang lain tanpa melakukan perlawanan apapun. Masalah seperti ini harusnya bisa dicegah dengan cara orang tua memfilter tontonan ataupun media yang diakses oleh anaknya. Bisa saja hal tersebut terjadi karena anak menonton ataupun mengakses situs-situs yang memperlihatkan tentang tindak kekerasan. Secara tidak langsung, hal-hal tersebut mengajarkan anak bahwa tindak kekerasan itu wajar dan jika dilakukan tidak ada efek berat yang lain. Tindak kekerasan yang dimaksudkan tidak hanya kontak fisik, melainkan juga mengenai kata-kata yang kasar. Orang tua yang seharusnya menjadi tempat penyaringan dari segala informasi yang akan diserap oleh anak, nyatanya justru malah banyak yang tidak memperhatikan perannya tersebut. Contohnya adalah membelikan anak gadget tetapi tidak memantau apa saja yang diakses oleh anak, atau mengetahui hal-hal yang diakses anaknya dan tidak menghiraukannya. Namun kiranya tidak bisa serta merta semua orang tua disamaratakan dalam hal ini, karena ada faktor lain yang mendorong anak berperilaku seperti itu yakni lingkungan. Lingkungan tersebut bisa saja berupa teman bermain, ataupun kebiasaan orang-orang di sekitarnya. Bisa saja orang tua memantau kegiatan anak di dalam gadget namun hal-hal negatif didapatkan anak dari teman bermainnya. Semuanya kembali kepada kesadaran akan peran orang tua.

Bantahan akan selalu ada terhadap opini berdasarkan fakta yang ada, seperti orang tua yang sibuk, ataupun gadget dapat menambah wawasan anak. Memang hal tersebut benar adanya, namun apakah alasan-alasan tersebut bisa dibenarkan jika anak menjadi pribadi yang senang membullying orang lain, ataupun menjadi anak yang suka bertindak kekerasan? Kasus bullying memang perlu ditangani dan dicegah dengan berbagai upaya, salah satunya adalah dengan memantau kegiatan anak, memantau dengan siapa saja anak bergaul, dan membiasakan anak untuk bercerita kepada orang tua. Upaya-upaya tersebut bisa untuk menjadi pencegah adanya tindakan rasa kurang nyaman dengan lingkungan, seseorang maupun cara orang memperlakukan anak. Ketika anak terbiasa untuk bercerita pada orang tua, dengan sangat mudah orang tua dapat membantu mengatasi masalah yang sedang dialami anak serta anak dapat lebih dekat dengan orang tua. Dalam membantu mengatasi masalah anak, orang tua hendaknya memberikan sedikit nasihat berupa pentingnya toleransi terhadap sesama, indahnya hidup rukun di Indonesia hingga menumbuhkan semangat bahwa anak tersebut nantinya bisa menjadi orang yang mengharumkan nama bangsa dan negara lewat prestasinya. Memang tidaklah mudah mendidik anak, namun semua harus didasarkan pada apa kenginan orang tua terhadap anaknya. Hal yang perlu diingat adalah anak bagaikan kertas putih, peran orang tua yang akan mengolah kertas putih tersebut, menjadi hitam, putih, berwarna, rapi atau kusam, semua tergantung pada orang tua. Sedikit demi sedikit perhatian orang tua akan berdampak bagi berlangsungnya perdamaian dan masa depan pemuda-pemudi Republik Indonesia. Bukan hanya menjadi pemuda yang pandai membullying tanpa menunjukkan prestasi. Pemuda adalah harapan bangsa yang kelak akan menjadi penerus bangsa, tentu saja menjadi penerus yang didambakan semua orang berkat prestasinya. Pemuda yang akan membangun bangsa Indonesia menjad bangsa yang maju berkat toleransi antar sesama warga negara yang mau berjuang demi kemajuan negara Indonesia. Pemuda yang akan menjadi pemersatu antara satu suku dan yang lain lewat rasa toleransi dan bangga terhadap suku yang ada di Indonesia.


======
Penulis: Dinda Assalia Avero Pramasheilla
Perguruan Tinggi: Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Note: 
Esai terbaik kategori mahasiswa.

  • view 16