Toleransi dan Menjaga Hak Minoritas

1000 Esai
Karya 1000 Esai Kategori Agama
dipublikasikan 18 November 2017
Toleransi dan Menjaga Hak Minoritas

Saat ini Indonesia sedang menuju krisis kecemasan atas benturan perbedaan. Situasi makin mengkhawatirkan ketika satu kelompok mayoritas ingin memegang kekuasaan atas Negeri ini. Situasi di Timur Tengah saat ini dirasa perlu menjadi pelajaran bagi setiap negara yang memiliki penduduk mayoritas Muslim. Ada banyak hal yg memicu konflik dan mengancam perdamaian. Diantaranya adalah penggunaan agama sebagai legitimasi politiknya. Ada sebagian kalangan yang mengatas-namakan Islam, membawa Visi membangun Negara Islam dengan mengusung konsep Khilafah. Gerakan yang dibangun membentuk ideologi Khilafah seakan menjadi seruan seluruh masyarakat Islam di Indonesia. Namun Apakah semua umat Islam di Indonesia benar2 sepakat? Lalu apakah Visi ideologi khilafah tetap menjadi suara mayoritas ketika dalam hal ini umat Islam berbeda pandangan, sedangkan paham khilafah masih menjadi ikhtilaf.

Kekhawatiran yang lahir dari kasus di beberapa negara di Timur Tengah. Sebuah role mode kegagalan memepertahankan toleransi dan keutuhan suatu bangsa di dalam keberagamannya. semua pihak berhak atas kebebasan politik termasuk memilih pemimpin dan hukum yang berlaku. Indonesia sejak awal kemerdekaannya sudah memutuskan landasan negara yang mampu menampung semua kalangan. Namun ketika suatu kelompok ingin mengambil alih kekuasaan dengan jaminan akan dapat merangkul semua kalangan belumlah selesai.

Dalam menjaga sensitifitas keagamaan, penamaan Islam dalam Negara itu kiranya perlu dipertimbangkan ulang. Meski keyakinan bahwa syariat Islam yang hendak diterapkan di Negara Khilafah Islamiyah mampu merangkul seluruh umat beragama. Namun dalam hal ini, umat agama lain juga memiliki kepentingan politik. Dimana label “Islam” sebagai penguasa menjadi sentimen politik bagi umat agama lain. Meski pun kita sepakat bahwa nilai-nilai keislaman mampu diterapkan secara universal. Namun pelabelan itu rupanya masuk kepada masalah sensitifitas keagamaan yang dapat memicu konflik. Dengan kondisi seperti ini, bagaimana suara minoritas mungkin untuk dihargai dan ikut serta dalam pemerintahan jika penunjukan ‘kafir’ terhadap pemeluk agama lain itu seakan mematikan hak bernegara masyarakat Non Muslim. Seperti kasus belakangan ini, larangan memilih pemimpin Non Muslim di Ibu Kota menjadi seruan bersama tanpa terkecuali. Di satu sisi keributan ini seakan melupakan keberadaaan pemeluk agama lain yang masih menjadi bagian dari masyarakat yang juga memiliki hak memilih pemimpin yang seagama dan sekeyakinan. Seruang itu seakan mem-blacklist sang Calon Pemimpin Ibukota Non Muslim, sedangkan masyarakat penganut agama lain juga berhak memilih tanpa harus menuruti kemauan mayoritas Muslim di Ibukota. Biarlah anjuran memilih Pemimpin Muslim menjadi seruan internal ttanpa menyinggung keberadaan umat minoritas.

Paham-paham radikal dalam Islam perlu untuk ditengahi agar tidak menjadi benturan terhadap realita pluralisme di masyarakat. Agama dijalankan melalui dua fase yakni Teks dan konteks. Berbicara Islam tidak hanya soal Alquran dan Hadis apalagi dengan hanya mengacu pada terjemahannya saja. melainkan perlu pertimbangan lebih jauh terhadap relaita sekarang dengan konteks ruang dan waktu ke-Indonesiaan-nya. Sebab dampaknya menjadi sangat panjang ketika Islam dipahami secara dangkal dan terburu-buru dengan mengedepankan segi emosional.

Masalah menjadi tidak terselesaikan dalam perbedaan pandangan mengenai kesadaran bernegara dan beragama. Pemisahan antara agama dan politik menuai perdebatan. Jika dengan penuh keyainan, benar bila Khilafah islamiyah akan bangkit. Yakinkah anda menjelaskan bagaimana cara yang tepat untuk merealisasikannya disaat ideologi pancasila sudah disepakati sebagai negara demokrasi. Hal ini membedakan sikap yang lahir terhadap masalah bernegara, dan menjadi kritik terhadap ideologi khilafah yang hendak dibangun. Jangan sampai muncul perpecahan yang dapat merusak kedamaian di Negeri tercinta ini. Hal ini bukanlah kecemasan semata, tapi menjadi masalah yang patut untuk diperhatikan dan dicegah

Aksi bela Negara dan Aksi Bela Agama. Membela negara berarti membela perdamaian dan kesejahteraan bersama. Membela agama berarti menjaga kemaslahatan umat manusia. Negara dan agama adalah realita universal yang berisi keberagaman lain yang lebih kompleks. Kesadaran terhadap perbedaan dan pluralisme ini seharusnya menjadi solusi atas egoisme politik sepihak.

 

======
Penulis: Asri Mentari
Perguruan Tinggi: UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Note: 
Esai terbaik kategori mahasiswa.

  • view 30