Indonesia Negara Super Komplit

1000 Esai
Karya 1000 Esai Kategori Lainnya
dipublikasikan 15 November 2017
Indonesia Negara Super Komplit

Sejak kecil, aku sering bertanya-tanya tentang ‘kenapa aku lahir di Indonesia?’ kenapa Tuhan tidak ‘menaruhku’ tinggal di Negara besar seperti di Amerika? Atau di Negara dengan teknologi super maju di Jepang? Hingga sering kali aku bertanya dalam diri ‘kenapa harus di Indonesia? Apa bagusnya?’ Namun kini, aku tahu apa alasan Tuhan menempatkan aku di Indonesia. Di Indonesia, ada banyak sekali kebudayaan yang patut kita banggakan mulai dari tari Pendet di Bali, lagu Bungong Jeumpa dari Aceh, hingga tradisi Selapanan di Jawa Tengah. Semuanya keren-keren dan kece abis! Nggak cuma itu aja, bahasa adatnya juga nggak kalah hebat dan keren lho! Dan lagi, orang-orang dari mancanegara juga mengagumi rakyat Indonesia yang terkenal ramah-ramah.

 

Kata pepatah “tak ada gading yang tak retak, tak ada apapun yang sempurna di dunia ini.” Kalian percaya? Kalau aku sih percaya. Begitu juga dengan Negara kita tercinta kita. Dibalik alamnya yang indah, kebudayaannya yang beragam, dan orang-orangnya yang ramah, Indonesia juga punya masalah ‘turun-temurun’. Iya, turun-temurun. Dari zaman pemerintahan bapak Ir. Soekarno hingga masa pemerintahan bapak Ir. Joko Widodo saat ini, masalah ini ‘nongol’ terus. Apalagi kalau bukan korupsi. Mulai dari pemerintahan di kelurahan hingga di pemerintahan pusat, ada saja yang masih ‘mencomot’ uang rakyat. Tega-teganya! Kalian pasti tahu belakangan ini muncul beragam berita kurang mengenakkan tentang keadaan Negara ini. Salah satunya ya, korupsi. Bukan sekadar hal kecil yang di-korupsiin. Tapi ini menyangkut seluruh warga Indonesia. Seratus buat kalian yang menjawab kasus korupsi dana pembuatan E-KTP!

 

Nggak cuma masalah korupsi aja yang bikin kita warga Indonesia geger. Masalah menyangkut Pancasila juga ada! Ada yang belum tahu? Nih, aku kasih tahu. Belakangan ini ramai diberbagai media massa menyuguhkan berita tentang PERPPU pembubaran ORMAS anti Pancasila yang dapat mengancam persatuan dan kesatuan Negara Indonesia. Karena itu presiden Indonesia Ir. Joko Widodo mengeluarkan PERPPU Nomor 2 tahun 2017 tentang perubahan UU Nomor 17 tahun 2013 tentang Organisasi Masyarakat pada 10 Juli 2017 lalu. Saking berbahayanya organisasi ini, sampai-sampai para guru, dosen, karyawan dan PNS yang tergabung didalamnya harus dikeluarkan atau dipecat dari pekerjaannya. Lumayan beratkan ganjarannya?

 

Kalau berbicara tentang Indonesia, belum lengkap rasanya kalau belum membicarakan tentang kemajemukan agama penduduknya. Ada Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha dan Konghuchu. Banyak bukan? Meskipun keyakinan kita berbeda, tapi kita tetap saling tolong-menolong dan bertoleransi antar umat beragama. Contoh simpelnya, saat bulan puasa, para warga yang tidak beragama Muslim menutup kedai atau warung makannya disiang hari guna menghormati umat muslim yang sedang berpuasa, dan baru membukannya di sore hari menjelang berbuka puasa. Begitupun sebaliknya, bila ada umat beragama lain yang sedang beribadah, umat beragama lainnya juga menghormatinya. Inilah yang menjadi bukti konkret dari semboyan “Bhinneka tunggal Ika” berbeda-beda tetapi tetap satu jua.

 

Contoh lainnya, aku ambil dari kehidupanku sehari-hari. Aku bersekolah di salah satu SMP Negeri di Yogyakarta. Dikelasku terdapat dua agama berbeda, ada yang Islam dan ada yang Katolik. Dikelasku, tidak ada yang saling membedakan satu sama lain. Semuanya dapat bekerjasama dengan baik sebagai sebuah keluarga, bahkan ketiga sahabatku dengan akupun berbeda agama. Namun, kami saling bantu dan percaya satu sama lain. Karena menurut kami, kita hanya punya satu Tuhan dan terlahir dari Tuhan yang sama, hanya saja cara kita beribadahlah yang berbeda. Tuhan bagi kami ibarat sebuah rumah yang memiliki banyak pintu, dan kita para manusia adalah penghuninya. Rumah kita sama, tetapi cara masuk kedalamnyalah yang berbeda. Ada yang masuk dari pintu depan, pintu samping, bahkan ada yang masuk melalui jendela. Tak penting bagaimana cara masuknya, yang penting adalah bahwa akhirnya mereka masuk kedalam rumah yang sama. Intinya, kita semua beribadah kepada Tuhan yang sama, tapi dengan cara kita masing-masing. Aku sering heran, kenapa masih ada saja orang tua yang melarang anaknya bermain dengan anak lain yang berbeda agama. Padahal kami semua (aku dan teman-temanku) justru senang dan bangga dengan perbedaan yang kami miliki. Karena dengannya kita bisa menambah ilmu dan saling melengkapi. Tak peduli warna kulit kita berbeda, yang penting kita saudara. Tak peduli agama kita berbeda, yang penting kita berasal dari satu Tuhan yang sama. Tak peduli budayamu dan budayaku berbeda, karena dengannya kita unik dan kaya. Tak peduli seberapa banyak perbedaan yang kita miliki, karena kita adalah satu kesatuan didalam Pancasila.

 

Selama 72 tahun Pancasila membimbing dan mengarahkan kita kepada hal yang benar dan baik, sehingga Negara ini bisa berkembang seperti saat ini. Aku bangga karenanya. Apapun perbedaanmu dan perbedaanku, kita semua satu Indonesia yang merdeka, sekarang dan selama-lamanya! Indonesia Merdeka!


======
Penulis: Benedicta Angie Azaria PR
Sekolah: SMP Negeri 1 Depok

Note:
Esai terbaik kategori pelajar.

  • view 61